Manusia Gunung Part 4

Sebelumnya manusia gunung part 3. Dyllan benar-benar pahlawan penyelamat. Dia tiba dihalamanku tepat ketika aku melangkah pergi. “Ayo, jalan-jalan lagi” ajakku. Aku berjalan dengan langkah cepat mendahului Dyllan dan sepedanya. Aku yakin Dyllan masih kebingungan. Saat tiba digerbang, aku berpapasan dengan pak Johan. Alangkah terkejutnya aku saat tatapan tajam mata pak Johan itu mengarah padaku.

“Saya pergi pak” pamitku, gagap.
“Hati-hati” jawab pak Johan dingin lalu meninggalkanku. Jangan sampai aku ditelannya hidup-hidup.
“Kita mau kemana hari ini?” tanyaku pada Dyllan yang bersepeda disampingku.
“Loh, kan kamu yang ngajak. Jadi ya terserah kamu mau kemana” jawab Dyllan cuek.

“Dyllan! Kalau aku tahu jalan daerah sini, dari kemarin-kemarin aku sudah mutar-mutar, nggak capek-capek ngejar kamu dan sepeda kamu itu” responku kesal. Dyllan malah *cengengesan.
“Jangan ngambek *dong. Kan cuma bercanda. Kita lihat sawah-sawahan saja yuk” Dyllan turun dari sepedanya. Kayaknya giliran aku yang naik nih.

“Eh, mau ngapain?”.
“Naik *dong, masa turun” jawabku asal, lalu menaiki sepeda itu.
“Aku turun kok malah kamu naik?” Dyllan keheranan.
“Bukannya kamu pingin gantian naik sepedanya?” aku jadi bingung sendiri.

“Memang, tapi habis penurunan terjal ini. Nggak berani aku naikin sepeda kalau jalannya kayak gini” ternyata dihadapanku memang ada penurunan yang cukup terjal.
“Tadi kok nggak kelihatan ya?”.
“……”

Dyllan membawa aku kesebuah bukit yang ditumbuhi rerumputan hijau. Dari sini aku bisa melihat dengan jelas aktivitas-aktivitas yang dilakukan para petani. Angin disini sepoi-sepoi. Kami duduk-duduk dibawah sebuah pohon rindang. Sambil tertawa-tawa melihat anak-anak yang terjungkal-jungkal saat lomba lari di sawah yang sudah panen.

“Besok hari terahir kamu disini ya?” tanya Dyllan ketika kami merebahkan tubuh di dinginnya hamparan rerumputan.
“Iya” jawabku agak sedih.
“Besok kita jalan-jalan lagi yuk! Aku mau bawa kamu kesuatu tempat. Spesial” tutur Dyllan lembut.
“*Hoam, hayuk, hoam” aku menguap berkali-kali. Udara di sini membuatku mengantuk.

“Rembulan juga punya sisi gelap. Mentari pun tak selalu menyinari. Banyak hal yang mengandung misteri. Pertemuan yang harus berujung perpisahan. Perasaan yang tak pantas diutarakan. Keinginan yang pasti akan terwujudkan. Bersama arungi dunia abadi. Selamanya” itu beberapa baris puisi entah apa namanya yang aku dengar dari mulut Dyllan. Setelah itu aku terlelap.

“Zizi! Zizi! Zizi! Fazila Mardani” seseorang menyerukan namaku lembut. Dan ada sentuhan tangan dipipiku.
“Dyllan?!” aku kaget setengah mati dan segera bangun. Apa yang terjadi? Hari sudah mulai gelap tapi.

“Kenapa kita masih disini Lan?”.
“Tidur kamu nyenyak banget. Aku nggak tega ngebangunin kamu” Dyllan menjawab dengan rasa bersalah. Aku jadi tidak enak. Ini bukan salah dia.

“Maaf, aku nggak marah. Cuma kenapa kamu nggak ngebangunin aku? Tragis banget ya, aku bisa tidur selama itu?”

Di perjalanan pulang berkali-kali Dyllan minta maaf padaku. Aku sama sekali tidak menyalahkannya. Dia juga memiliki niat baik untuk mengantarku sampai bertemu mama. Tapi aku menolaknya. Takutnya mama malah salah paham kalau tahu aku jalan sampai senja sama laki-laki. Aku sudah duga pasti mama marah besar. Aku sudah menyiapkan mental untuk menerima omelan mama. Bukan hanya mental, tapi juga berjuta alasan dan bantahan tentunya.

loading...

“Zizi! Berkali-kali mama bilang, jangan pernah tinggalkan villa! Sampai dikunci segala! Untung mama juga pegang kunci! Kamu sudah keterlaluan. Sampai maghrib lagi. Kemana saja kamu sendirian? Nyasar ya? Jujur sama mama! Kan sudah mama bilang resiko-resikonya. Kamu memang bandel. Kemana saja kamu, ha?!”.

“Aku nggak sendirian! Aku kan sama teman!”
“Teman? Pak Johan bilang kamu sendirian. Jangan bohong sama mama! Gimana kalau ada hewan buas diluar sana? Sama siapa kamu minta tolong?!”

Pak Johan?! Dasar manusia gunung! Bisa bohong juga ternyata. Sebel.

“Aku cuma mutar-mutar. Sama anak sini juga kok ma, aku nggak bohong. Mana berani aku sendirian” aku berusaha membela diri. Malu juga kalau jangkrik-jangkrik diluar pada heboh ketawain aku yang diomelin.
“Pokoknya besok kamu ikut mama! Kerja pak Johan sudah kelar, jadi nggak ada yang lihatin kamu lagi. Jadi, harus ikut mama!” paksa mama.

“Mama kok tega gitu sih. Besok kan hari terakhir kita disini. Aku capek-capek nih. Mau istirahat. Mau bangun siang. Please ma aku janji nggak bakalan kemana-mana” bujukku.
“Yang kemarin itu juga janji. Tapi?!”.
“Kali ini benaran ma *suer!”.

Akhirnya hati mama tersentuh juga melihat tampang memelasku. Setelah mandi dan bersih-bersih, aku segera tidur. Tidur yang sangat nyenyak. Sepertinya mama sudah berangkat satu jam yang lalu. Buktinya, roti bakar yang mama buat sudah dingin. Sehabis sarapan, aku menyibukkan diri dengan menulis, iseng-iseng dandan pakai makeup mama. Terus nonton televisi, dan sempat juga menyiram tanaman.

*Tok! Tok! Tok! Cepat banget mama pulang. Baru juga jam 10. Biasanya sampai jam 1 atau 2. Dengan santai aku buka pintu. Ternyata bukan mama.

“Dyllan?”.
“Kok kaget gitu? Nggak senang aku datang?” Dyllan tersenyum manis melihat aku yang melongo karena kehadirannya.
“Ayo, masuk” ajakku ramah.
“Nggak usah. Katanya kita mau jalan-jalan. Aku kan janji kemarin”.

“Tapi aku juga sudah janji nggak bakalan keluar dari villa sama mama” ucapku kecewa. Sebenarnya aku mau sekali pergi jalan-jalan dengan Dyllan.
“Tapi kamu kan buat janji duluan sama aku. Berarti janji kamu ke aku dulu *dong, yang harus ditepati” Dyllan langsung menarik tangan aku keluar pintu.
“Dyllan. Pintunya”.
“Nggak masalah. Desa ini aman kok”.

Hari ini Dyllan bergaya seperti biasa. Hanya jaketnya agak tebal. Dan dia juga membawa tas ransel. Aku ikuti saja kemana dia melangkah. Aku harap tempat yang kami tuju benar-benar spesial.

“Perjalanan kita agak jauh kali ini. Juga nggak bisa ditempuh pakai sepeda. Makanya aku bawa ransel. Mencegah terjadi sesuatu. Kita bakal ke danau Talang”.
“Danau Talang?” perasaanku baru beberapa menit yang lalu kami memasuki hutan. Tapi kini aku telah berada ditengah-tengah pohon-pohon tinggi dan besar. Hutan ini lebih dingin dibandingkan udara disekitar villa.
Bersambung ke manusia gunung part 5.

Adymas Art

Adymas Art

Seorang yg suka ngedit foto ,tapi sering diganggu setan ,,....... suka nonton anime (Naruto,Boruto,Boboiboy Galaxy),suka baca/tulis cerita jangan lupa di add Fb: Adymas Art Instagram:@adymas_art

All post by:

Adymas Art has write 96 posts

loading...