Manusia Gunung Part 5

Sebelumnya manusia gunung part 4.

“Kamu tenang saja Zi. Ada aku” ucap Dyllan tanpa menoleh. Aku terus mengikutinya.
“Jalan nggak ada tanda gini kok kamu hafal Lan? Sudah sering kesini ya?” Dyllan jalan dengan lancar tanpa keraguan melewati pohon-pohon yang hampir tidak ada perbedaan satu sama lain itu.
“Nggak sering, Cuma sekali setahun”.
“Sejak?”.

“Kita hampir sampai. Samar-samar danaunya sudah kelihatan, kan?” Dyllan kelihatan senang. Begitu juga denganku. Tapi entah kenapa, aku merasa ada yang mengikutiku dari belakang. Aku jadi teringat manusia gunung.
“Lan, kamu nggak takut ada manusia gunung? Kan kamu sendiri yang cerita kalau mereka ada”.
“Jadi kamu percaya?” tanya Dyllan, ketika kami tiba disebuah danau yang luas. Di sekelilingnya ditumbuhi pohon-pohon tempat berteduh. Kami duduk dibawah salah satu pohon ditepi danau.

“Mau nggak mau aku percaya” jawabku singkat. Sama sekali tidak berminat membicarakan topik itu.
“Baguslah” respon yang aneh.
“Apa bagusnya, Lan?” tanyaku heran.
“Zizi” Dyllan memutar badannya ke arahku dan menggenggam tanganku erat sekali.

“Kenapa Lan?” aku agak risih dengan keadaan ini. Kaku. Dingin. Perasaanku aneh.
“Kamu mau jadi teman hidupku?” aku tergelak sejenak. Namun kembali serius karena Dyllan sama sekali tidak tertawa.
“Dyllan, besok aku balik ke Riau” jawabku lembut.

“Kamu tinggal saja. Kamu harus tinggal!” Dyllan malah mempererat pegangannya hingga tanganku kesakitan. Tapi aku tidak bisa melepaskan genggamannya.
“Dyllan! Apa-apaan sih?!”.
“Aku butuh teman aku butuh kamu, Zizi!” omongan Dyllan malah tambah ngawur.

Aku jadi takut dan segera berdiri. Dyllan berhasil menggapai tanganku kembali.

“Zizi, disini kita bisa abadi. Selamanya kamu hanya perlu menahan rasa sakit selama beberapa menit, kemudian kamu hidup lagi. Abadi, seperti aku menjadi manusia gunung. Yang hidup layak manusia. Tapi tidak bernapas dan memiliki detak jantung”.

Penuturan Dyllan barusan membuat tubuhku mati rasa. Manusia gunung? Dyllan manusia gunung? Aku raba dadanya, mencari detak jantung, ingin melegakan diri bahwa dia sedang bercanda. Tapi, aku tidak merasakan apa-apa. Yang terasa hanya kehampaan, kekosongan, kesunyian. Barulah aku tersadar bahwa selama ini yang aku lihat hanya tawa duka. Yang aku pandang hanya senyum terpaksa. Tiba-tiba aku merasakan kekasaran Dyllan yang menarik tubuhku mendekati danau.

loading...

“Di sini, perjalanan kami 15 tahun yang lalu berakhir. Karena kebodohan seorang teman, kami tenggelam”.

Aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Sekuat apapun aku memberontak, dia tetap kuat. Aku menyesali segala perbuatanku. Menyesali kebodohanku.

“Terserah kamu. Boleh percaya atau tidak. Tapi aku sarankan hati-hati. Terkadang dia terlihat tidak mencurigakan. Tapi dibalik itu, dia menyimpan sesuatu” terngiang kembali ucapan Dyllan waktu itu. Yang dimaksudnya adalah dirinya sendiri. Bukan pak Johan.

*Plang! Sebuah benda tumpul menghantam kepala Dyllan. Membuat dia merintih kesakitan dan melepaskan genggamannya. Pak Johan? Pak Johan yang memukul Dyllan? Pak Johan mengikutiku? “Lari! Lari! Cepat!” pak Johan menyuruhku.

Dengan gesit kakiku melangkah. Berlari sejauh mungkin. Kemana aku bisa lari. “Tolong” aku mendengar teriakan. Dyllan melempar pak Johan ke danau. Beberapa menit saja, Pak Johan tidak kelihatan lagi dipermukaan. Dyllan berlari kearahku. Aku mempercepat lariku. Tapi kakiku terlalu letih untuk itu. Tuhan tunjukkan kuasa-Mu.

“Zizi keabadian itu indah” Dyllan berteriak seraya mengejarku. Napasku berpacu. Aku sungguh tidak kuat lagi. Tapi, mana Dyllan? Apa aku sudah bebas.
“Kamu mencariku sayang?”.
“*Argh!” Dyllan tepat dihadapanku. Matanya yang aku kira indah itu, penuh kebencian. Ucapan-ucapannya yang aku kira ramah itu, penuh amarah.
Seketika, semua jadi gelap. “*Akh!” Sesuatu pecah, mengaliri semua cairan merah tubuhku.

Menghabiskan waktu bermain sepeda memang asyik. Tapi tidak jika sendirian. Dyllan sudah asyik dengan gadis anak Kades baru itu. Aku? Tunggu dulu. Sepertinya aku tidak akan kesepian lagi. Aku kayuh sepedaku mendekati seorang lelaki tampan yang duduk sendirian dibawah pohon. Dia melamun saja.

“Hai. Baru pindah ya?” tanyaku penuh keramahan.
“Nggak, lagi ada proyek buat sekolah”.
“Oh. Aku Zizi”.
“Aku Rafi. Kamu anak sini?” tanyanya ramah.
“Iya. Di sekitar sini”.

Sepertinya aku tidak akan kesepian lagi. Bukan hanya kamu yang akan punya teman baru, Dyllan. Aku juga. Aku juga punya teman baru untuk menjadi manusia gunung. Tamat.
Facebook: Adymas Art

Adymas Art

Adymas Art

Seorang yg suka ngedit foto ,tapi sering diganggu setan ,,....... suka nonton anime (Naruto,Boruto,Boboiboy Galaxy),suka baca/tulis cerita jangan lupa di add Fb: Adymas Art Instagram:@adymas_art

All post by:

Adymas Art has write 79 posts