Maraton Horor

Assalamualaikum dan salam sejahtera para reader setia KCH. Buat saudara wahid salam kenal juga dan terima kasih atas responnya. Buat kak john berserta admin saya mau protes, cause lose kontak, padahal saya mau bilang banyak.(maklum para sebagian pembaca KCH malah pada protes ke saya, lha terus saya protesnya ke siapa?) saya kan belum minat jadi admin tapi sudah di bully, *hihi. (Nasib jadi artis KCH kali ya) *hehe. *Ups percaya diri sekali saya ya, *hehe (abaikan).

Tapi julukan “mba KCH” dari salah satu member membuat saya semangat untuk menghibur kalian. Tapi tentunya tentang pengalaman kisah nyata dan horor yang pernah saya alami ya alias no abal-abal. Di cerita ke 46 kali ini adalah kisah nyata yang saya alami sendiri, saat itu usiaku masih 13 tahun. Kebetulan di samping rumahku atau tepatnya rumah pakde ku usai hajatan, karena nikahan kakak sepupu.

Esok paginya saya dan salah satu keponakan kembarku bernama desty berencana akan maraton, atau olahraga pagi di jalan raya. Saat itu masih jam 05:30 pagi, tapi suasana langit masih gelap. Saya dan desty berlari-lari kecil sambil kadang-kadang mengobrol. Tiba-tiba suasana menjadi hening seketika. Biasanya jam segitu banyak orang lewat,atau pedagang yang akan berangkat ke pasar. Tapi sejak tadi cuma 1 pedagang yang lewat,setelah itu suasana jadi hening dan mencekam.

Kami berdua melewati lapangan dan akan menuju ke area angker posyandu (area yang pernah ku ceritakan sebelumnya). Nah disini mulailah kejadian horor selanjutnya. Di samping bangunan posyandu yang jarang di gunakan ini adalah area sawah. Ketika kami asyik maraton dan melewati depan posyandu kosong, saya menoleh ke arah kiri yaitu perwahan. Di situ saya melihat pemandangan sawah dengan tanaman padi yang hijau dan sekitar 200 meter ada TPU.

*Eit tapi tunggu dulu, apa itu di tengah-tengah pematang sawah? Warnanya putih, berbentuk seperti bungkusan lemper, matanya hitam seperti mata panda, tatapannya seram, badannya seperti orang yang berpostur tinggi besar. Dia menatapku dan terus menatapku. Aku mulai memalingkan wajah, dan mempercepat lariku. Tapi keponakanku malah tertawa, seolah dia pikir aku sedang bercanda. Aku tidak menghiraukannya dan tetap berlari menjauhi area itu, desty pun mengikuti gerakanku sambil tertawa senang.

“Padahal saya sedang panik, tapi tak apalah, mungkin dia tidak melihat” gumamku dalam hati. Setelah aman dan jauh dari area itu saya merasa lega, dan berhenti berlari untuk mengatur nafas. Kemudian ku ceritakan apa yang ku lihat barusan pada desty. Sontak desty kaget dan ketakutan.

“Ku kira mba bercanda, jadi aku ikutan bercanda” kata desty dengan wajah ketakutan.
“Terus pulang gimana dong mba” rengeknya.
Aku hanya menghela nafas, kemudian berkata.
“Ya sudah, kita balik kalau sudah terang” kataku menghiburnya.

Dan ketika sudah agak terang, dan banyak orang lewat, kami memutuskan untuk pulang. Dan kami melewati area tadi sambil melihat-lihat atau mengecek. Tapi ketika kami melihat tempat berdirinya makhluk tadi berubah jadi plastik putih.
“Mba itu ya yang mba lihat tadi? Tapi kok plastik si mba, mba kali salah lihat” kata desty.
“Iya kali, tapi tadi bentuknya gak seperti itu dek, dan plastik itu gak lebih dari 1” kataku menjelaskan.

Karena saya terkejut dengan apa yang kulihat sekarang, padahal sebelumnya bentuknya besar dan hanya ada 1. Tapi sekarang itu hanyalah plastik, tapi anehnya lebih dari 1 dan tempatnya berbeda-beda atau di tancapkan dengan menyebar. Mungkin gunanya sebagai orang-orangan sawah buat menakuti burung, tapi desty merasa kapok, setelah saya menjelaskan panjang lebar.

Begitupun aku, aku tidak mau maraton jika hanya berdua. Sesampainya di rumah dan ketika para keluarga berkumpul, terutama aku dan keponakanku beserta sepupu lainnya. Desty menceritakan kejadian yang aku lihat, akhirnya mereka penasaran dan bertanya padaku. Lalu akhirnya aku menceritakannya, dan membahas penampakan tadi.

“Mungkin itu hantu ibunya imam, kan belum lama meninggal” kata fai kakak sepupuku.
“Iya kali ya, mungkin dia akan menjenguk keluarganya, karena sedang hajatan” jawabku.
Memang sih, ibunya imam baru meninggal dan masih hamil tua, tapi keluarga imam sudah menentukan hari hajatan khitanan imam. Biasanya kalau kita punya hajat, orang yang meninggal akan ikutan hadir, itu sebabnya di daerah kami ketika akan hajat berziarah dulu ke makam, untuk memberi doa dan ijin, supaya mereka tidak mengganggu acara.

“Ya sudah nanti siang aku dan desta akan ke area itu, dan mencabut semua tancapan plastik itu, biar kalian tidak di ganggu” kata fai.
“Gak usah, nanti di marah yang punya” kataku.
Singkat cerita mereka malah mencabutnya. Tapi sejak itu desty dan saya tetap tidak akan maraton berdua, kalau beramai-ramai atau di bulan puasa baru mau. Sekian dan terima kasih sudah membaca. Wassalamualaikum.

loading...
Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts