Marlina Part 2

Cerita sebelumnya “Marlina“. Marlina mendapat 1 sahabat baru lagi. Jadi dia bersahabat dengan 3 murid non muslim. Aku semakin salut, karena cuma dia yang muslim dalam gengnya. Dan berapa lama kemudian, karena kelas kami paling ribut ditambah acak-acakan. Karena posisi kelas dekat pohon bambu, dan berdekatan dengan kantor, jadi tidak jarang, guru dari kantor BP sering berkunjung.

Bahkan mungkin mereka bosan, karena saking bandel dan semrawutnya murid kelas 8 ini. Yang baik pun juga kena cap bandel. Masa iya, siswa/i kelas 8 diberi nilai C semua, *hehe. Aku dapat bangku depan anak laki-laki yang dulu kelas A. Tentu saja membuatku kurang nyaman selama dikelas ini. Apalagi laki-laki itu adalah dulu yang saya idolakan waktu pertama kali jadi siswa/i baru, jadi sudah 2 tahunan dipendam (*ciye, hehe).

Tapi itu rahasia hingga teman sebangku saya (puput), membaca diaryku. Dan memberikan tulisan itu padanya hingga membuat aku malu dan pindah bangku. Aku pindah didepan dekat guru lagi, tapi dipojok depan meja guru dengan rina. Kebetulan teman sebangku rina (tri) jarang masuk sekolah. Posisinya dekat dengan bangku marlina juga. Akhirnya kita saling menyapa lagi.

Tapi sayang, hanya 3 hari aku duduk disana. Dan aku kembali kebangku awal bersama puput (karena dia minta maaf). Hingga waktu itu, hari kamis tanggal 6 agustus 2005. Tidak aku sangka itu adalah hari terakhir aku dan marlina bercakap-cakap. Aku sangat menyesal karena membiarkannya tidak shalat dhuhur terlebih dulu. Saat itu aku dan murid lain hendak melaksanakan shalat dhuhur diruangan yang disediakan oleh pihak sekolah untuk berjamaah antara guru dan semua siswa (bagi yang mau).

Saat itu marlina sedang bimbang sambil membawa mukena (alat shalat) dan hendak mengantri ambil air whudu bersamaku. Dan kami berbincang sambil menunggu adik kelas yang sedang berwhudu.

Lina: wi, aku bingung lho, aku dipanggil nova (pacarnya/kakak kelas), dan ini hari terakhir dia kesekolahan.

loading...

(Memang saat itu adalah bulan akhir nasional bagi kakak kelas kami, jadi mereka sibuk dengan kelulusannya).

Dwi: ya kenapa tidak nanti saja sepulang sekolah, jadi dia suruh nungguin kamu lin.
Lina: tidak bisa, dia juga akan pergi kesekolah barunya, dan mau bilang sesuatu padaku, tapi kalau shalat dirumah bisa gak wi?.
Dwi: bisa sih, tapi di qodho, karena waktunya *mepet ashar kalau kita pulang sekolah.
Lina: iya wi, makasih ya, tapi aku malu kalau ditanyain sahabatku gak jadi shalat gimana? Dan mukenaku sudah didalam.

Dwi: iya nanti aku jawab, ada perlu dengan nova.
Lina: ya sudah, makasih ya wi, salamin buat yang sudah didalam dan titip mukenaku ya, tolong ambilkan.
Dwi: iya nanti aku ambilkan.
Lina: ok, aku pergi dulu ya.

Lalu marlina pergi dengan terburu-buru,aku hanya membalas senyumnya dan hendak mengambil air wudhu. Setelah usai ,aku mengembalikan mukena marlina ditasnya. Dan sahabatnya bertanya-tanya. Lalu aku menjawab seadanya, hingga bell masuk berbunyi. Pelajaran akhir dimulai dan marlina masuk kedalam kelas agak terlambat, karena guru sudah masuk. Hingga pelajaran selesai semua berhamburan untuk pulang.

Keesokan harinya kami mendengar Lina kecelakaan saat ingin menyeberang jalan, dan dia pun segera dibawa ke rumah sakit (RS) Mardi Waluyo. Kebetulan mulai tanggal 7 tidak belajar karena persiapan agustusan. Jadi kami semua murid saling membesuk lina di RS. Hanya saja beda jam, karena kesibukan kami. Aku eka dan rina membesuk habis shalat dhuhur. Karena harus membersihkan kelas, menemani rina piket. Dan kami ke RS, yang lain sudah pada pulang, terutama sahabatnya.

Kami melihat tubuh lina berbaring tak berdaya menjalani koma. Kami tidak diperbolehkan masuk, dan alhasil semuanya hanya bisa melihat dari luar ruangan ICU. Marlina hanya ditemani oleh beberapa alat, dan dibantu oleh perawat/petugas laki-laki untuk mengendalikan alat bernafas. Karena lina tidak bisa bernafas sendiri. Ibunya hanya bisa menangis dan bercerita pada kami, bahwa dia sadar dan hanya berucap “mana nova dan mana teman-temanku?” lalu koma lagi, katanya.

Kami hanya bisa merasa sedih dan menangis, lalu mengibur ibunya dan pamit pulang. Kami pulang dirumah rina, karena sepedaku dan eka dititipkan disana. Kami menceritakan kondisi lina pada ibunya rina. Tapi tanggapan ibu rina adalah “kalau kecelakaan didepan rumah, biasanya meninggal, apalagi posisi dia pulang kerumah” kata ibu rina. Sontak kami sedikit marah, karena itu adalah doa.

Tapi ibunya rina hanya meyakinkan mitos itu. Akhirnya aku dan eka pamit pulang kerumah karena sudah sore. Dan sore itu adalah hari jumat, ternyata Allah berkehendak lain, marlina meninggal jam 4 sore. Dan dijam itu adalah waktu dimana ibu rina mengatakan, bersambung di Marlina part 3.

Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts