Marlina

Marlina. Entah mengapa nama dan wajahnya masih jelas diingatanku. Ini adalah cerita ketika kami masih SMP. Kami bukanlah teman yang akrab selayaknya sahabat. Tapi kami saling baik dan merasa nyaman jika berbicara. Awal perkenalan kami ketika menjadi siswa baru di SMP swasta kecamatan Trimurjo, Lampung Tengah. Saat itu adalah hari pertama, para murid ajaran baru masuk sekolah.

Semua siswa/i enggan berkenalan atau bicara pada kawan barunya, mungkin karena masih canggung. Meski diberi waktu untuk saling kenal oleh guru pembimbing MOS. Hari itu juga, adalah penentuan ruang kelas siswa/i. Yang paling aneh adalah kami para siswa/i memilih ruang kelas sendiri yang disediakan oleh sekolah, meski hanya 2 ruangan (A dan B). Kebetulan aku dan marlina 1 ruangan dikelas B, namun kami tidak sebangku.

Aku memilih bangku paling depan no 2 dari kiri, karena posisinya dekat guru dan papan tulis. Karena namaku berawal dari D, jadi saya dipanggil dan masuk keruangan pilihan lebih awal dari yang lain dari huruf E. Tidak lama kemudian etik, teman waktu SD denganku masuk dan hanya dia yang aku kenal disini. Dia protes padaku, karena ingin duduk sebangku namun tidak mau diposisi paling depan. Aku yang merasa masuk duluan dan berharap disini entah dengan siapa, tentu saja tidak mau pindah bangku.

Akhirnya etik mengalah dan mau duduk dengank u(walau nampaknya terpaksa, karena cuma aku cewek yang dia kenal masuk diruangan ini). Selebihnya kawan waktu SD adalah laki-laki, yang perempuan kita kenal pada milih kelas A (hayah, eka, nely, dan tri). Saat etik sudah pasrah duduk, tiba-tiba ada seorang cewek berkulit hitam manis (tidak terlalu hitam sih) ya sawo matanglah. Dia masuk dengan gaya tersenyum, alangkah ramahnya “pikirku”.

Tidak seperti yang lain pada manyun-manyun durja. Saat dia tepat dihadapanku pun masih melontarkan senyuman kepadaku, dan aku membalasnya. Hingga waktu berlalu begitu cepat, belum semuanya kami saling sapa menyapa. Hanya gengsi dan canggung, itulah gambaran suasana kelas B. Hingga pulang sekolah tiba, aku dan gadis ramah tadi kebetulan papasan saat dijalan keluar gerbang. Dia dibonceng oleh temannya yang sepertinya searah dengan rumahnya.

loading...

Dia tersenyum lagi padaku, alangkah manisnya senyumnya itu dibalik bibir berwarna setengah hitam dan merah. Dan keesokan harinya saya tahu bahwa namanya adalah Marlina. Orang pertama dan yang kuhapal namanya. Seiring waktu kami saling berteman baik, dan dia duduk dibelakang deretan bangku (no 3). Suatu hari dia ingin merasakan duduk denganku. Jadi, etik dan marlina bertukar tempat duduk hanya 1 hari saja.

Di situ dia bercerita pengalaman ketika pertama kali bertemu denganku, dan anehnya perasaan kami sama (maksudnya sama-sama penasaran dan ingin berteman baik, apalagi kesan pertama saling ramah tamah). Dia merasa nyaman duduk sebangku denganku, hanya saja dia merasa risih karena posisi bangku yang terlalu dekat dengan guru “katanya”. Jadi dia merasa canggung seperti etik, dan akhirnya pindah kebangkunya lagi. Marlina terkenal supel dan ramah, sehingga dia mudah bergaul dengan siapa saja.

Termasuk dengan yang lain agama (seperti dibelakangku, ada 2 murid beragama hindu) dan mereka malah menjadi sahabatnya. Itulah yang membuatku salut, hatinya tidak membeda-bedakan teman walau status agama. Ya kalau fisik sih entah. Cause, temannya yang beda agama itu ada si eli (diceritaku “pindah di perpustakaan“). Bedanya marlina sama aku adalah, aku tidak memandang teman dari segi fisik.

Eli duduk sendiri dibangku depan sebelah kiri bangku aku, dan bersebelahan dengan etik, namun banyak kawan yang mengejeknya karena fisiknya, termasuk temannya sendiri (yang non muslim, padahal masih sedesa dengannya). Waktu telah berlalu, menjadi murid dan kelas terbaik dari yang lain adalah kebanggaan guru wali kelas kami. Karena kelas kami lebih kompak dan lebih disiplin dari pada kakak kelas dan yang lainnya. Karena kalau tidak kompak, pada saya protesin terutama anak laki-laki (*hihi, dasar dwi tukang protes).

Marlina dan lainnya juga sempat iri padaku, karena aku disegani semua teman dan malah murid laki-laki pada care ke dwi, bahkan guru-guru yang ngajar juga pada senang dengan dwi (entah kenapa, padahal bukan murid pintar atau ketua kelas). Sampai teman yang dibangku belakangku mengajukan protes pada guru, karena dia merasa lebih pintar dan patut dibanggakan. (Iya saya akui dia ranking 1, sedangkan aku?).

Hingga waktu berlalu, kami naik kelas 2 yang terkenal seram, apalagi ruang kelas A dan B dijadikan satu kelas. Sehingga membuat semua suasana menjadi berubah drastis alias terbalik. Murid baik jadi begajulan/nakal, murid disiplin jadi urakan, murid kesayangan jadi terabaikan. Kelas kami menjadi terkenal, kelas dan murid paling angker beserta bandel oleh guru-guru bahkan kepala sekolah.

Aku, etik, marlina dan yang lainnya duduk terpisah oleh deretan bangku. Aku tidak duduk dengan etik lagi, karena saat masuk kelas semua penuh. Aku dan beberapa teman lain kelas tidak mendapat bangku. Marlina dan sahabatnya malah sudah mendapat bangku. Bersambung di Marlina part 2.

Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts