Masih Hidup?

Aku berasa sangat lelah hari ini. Badan remuk redam sehabis menjadi pengawas di Lab Kimia. Sekarang hari sabtu, 4 Maret. Besok masih ada banyak yang harus di kerjakan memang. Ku bereskan sekenanya jas labku. Mendadak ada bunyi dari ruang bahan seperti orang sedang menggeser kursi. Aku cek, tidak ada orang. Kini giliran kran air yang mendadak berputar di depan mataku seiring dengan bergeser-gesernya kursi di ujung meja praktikum.

Merasa tak nyaman, aku langsung cabut dari lab ke kostan. Sampai di kostan masih terngiang-ngiang kejadian tadi. Seolah belum puas, aku mendengar bunyi orang mandi di kamar mandi dalam kamar kostku. Sial! Mengapa jadi begini? Aku coba buka pintu, tapi tak bisa terbuka, terkunci dari dalam. Dari dalam terdengar bunyi seseorang sedang bernyanyi. Dan yang membuatku merinding, itu suaraku sendiri.

Aku mundur dan tak sengaja menjatuhkan kalender. Di kalender tercoret tanggal 9 Maret, hari Kamis. Hah? Hari kamis? Bukannya sekarang hari sabtu? Aku kan baru dari lab? Belum selesai dari kebingunganku, pintu kamar mandi terbuka. Aku tengok, di dalamnya kosong, tapi aroma sabun mandi kesukaanku tercium jelas. Bengong aku di depan kamar mandi.

Tapi, bengongnya aku buyar saat mendengar televisi di kamar menyala sendiri. Dan yang lebih horor lagi, aku lihat sesosok tubuh berlumuran darah lagi nonton televisi. Panik banget, aku langsung ke luar kamar, ke ruang tengah kostan. Di situ ada banyak anak-anak kostan lainnya. Aku sapa, mereka gak nyahut. Mendadak terdengar ibu kostan manggil namaku.

“Ali. Ada paket kiriman tuh.” Di pintu pagar sudah menunggu paket boxing glove dan handwrap serta sandsack dari JNE. Aku langsung ingat kalau aku sempat pesan itu kemarin, tanggal 3 Maret. Aku ambil paketnya dan aku tanda tangani si surat serah terimanya.

Masih agak ragu aku ke kamar, tapi aku beranikan saja. Kamarku kosong tapi televisi masih menyala. Aku matikan televisi terus taruh boxing glove dekat meja. Mendadak aku merasa ada yang aneh sama struk belanjaan. Di tulis, di terima tanggal 15 Maret! Ed*n! Ini aku halusinasi apa?! Masa aku cepat banget lompat hari.

Merasa bingung ku buka jendela kamar. Ini bikin aku pusing lagi. Langit sudah gelap, kayak jam 10 malam. Aku sampai kucek-kucek mata berkali-kali, kok bisa sudah malam? Kapan aku shalat maghribnya? Jendela aku tutup, dan aku mau rebahan. Tapi ujung-ujungnya ketiduran. Pas bangun aku agak syok melihat kalender di ponsel dan tablet menunjuk hari yang sama “20 Maret”. Dan kalender aku coretan terakhir di tanggal 19.

Eh busyet. Ada apa sih? Belum selesai keterkejutanku akan cepatnya perubahan tanggal, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan teman-teman kostan masuk mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-25. Aku agak bengong dan serasa bego habis. Kan ulang tahunku tanggal 25? Teman-temanku masih sibuk kasih ucapan selamat dan kado. Tentunya dengan ekspresi balasan yang setengah melongok. Sekilas aku lihat kalender. Dan ini aku agak bergidik. Kalender sudah tercoret di tanggal 25 Maret.

Sepertinya hari ulang tahunku berjalan normal 24 jam. Aku sumpah jadi parno lihat jam. Mengajar seperti biasa, tidur pulas macam kerbau sampai bangun di tanggal 26 dengan sehat walafiat. Pagi-pagi tanggal 26 aku terima telepon. Suara telepon ini cukup buat bergidik, soalnya kayak suara hantu-hantu gitu plus ucapannya “masih belum sadar?”. Buru-buru aku tutup telepon.

Berhubung tanggal 26 sore aku harus naik kereta api ke Solo, aku berangkat dari Bogor jam 2 biar gak telat. Di stasiun Senen, orang sudah banyak tumpah ruah. Di sini aku dapat SMS dan WA freak lagi “kok masih belum sadar?”.

Tidur di kereta api memang enak. Baru saja mau tidur, mau masukin ponsel ke saku bajuku merasa kereta api terguncang sangat keras. Mendadak aku merasa di hempas. Kepalaku terbentur besi kayaknya, tanganku patah-patah, plus leher kepuntir. Bunyi “*krek” terdengar jelas di telinga bersamaan dengan bunyi teriakan sakit, takbir, dan lain sebagainya.

Tak sengaja posisi tangan kanan yang sedang memegang ponsel ada di depan mata. Ponsel masih terpegang oleh tangan yang sudah patah sampai tulangku keluar. Tanggal di layar ponsel yang membuatku merinding. Sumpah, rasanya antara sakit, takut, merinding, mau nangis rasanya jadi satu.

loading...

Aku mual dan muntah darah. Kepala terasa sakit. Lalu, aku merasakan sentakan kuat menarik kepalaku, menyebabkan leherku tercabik, sepertinya nyaris putus. Aku sayup-sayup mendengar suara seseorang berbisik di telingaku, bersamaan dengan bunyi tulang punggungku yang patah dan memudarnya pandanganku.

“Masih belum tahu?”
“….!”

Departemen Kimia sedang berduka rupanya. Seorang tenaga pengajar yang baru saja mengajar di Kimia, Ali Ghazali, lulusan departemen itu juga meninggal dunia pada kecelakaan kereta api tanggal 1 Maret saat akan pulang membesuk orang tuanya di Solo. Dia masih sangat muda, baru saja lulus kuliah S3.

KCH

Meong

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Meong has write 2,679 posts

loading...