Masih SMP: Ayah Caca Itu

Assalammualaikum sahabat KCH dan untuk kak john terima kasih karna sudah mau publish cerita aku? Oh iya ini cerita kelanjutan dari cerita sebelumnya yang berjudul masih SMP dan rumah caca bagi yang baru gabung bisa baca cerita sebelumnya agar bisa ngerti alur ceritanya terima kasih langsung saja ke cerita ya agan dan sis.

Malam itu aku lihat caca bersama orang tinggi besar, perawakan tua, muka hancur sebelah dengan jari tangan yang pajang serta panjang dan berjalan kearah kuburan. Aku ikutin mereka dari belakang, dalam sunyi mereka berhenti disalah satu kuburan yang sudah digali. Terdengar suara kakek tersebut berkata “siap caca?”, aku lihat caca hanya menganggukan kepalanya.

“Ada apa ini ya? Tengah malam begini keluar sama seorang kakek, dikuburan pula” dalam hatiku ngedumel, sampai akhirnya aku lihat tangan si kakek menembus badan caca “*cruk” darah keluar banyak dan caca langsung tersungkur ketanah. Aku yang kaget ketika itu langsung berlari dan teriak “*woi lu apain temanku baik!” saat berlari kearah kakek itu dan caca rasanya semakin jauh dan jauh, tak terasa air mata ini mengalir melihat teman baik yang mati ditusuk.

“*Bruk” aku terjatuh dari tempat tidur, ternyata hanya mimpi. Mimpi yang sangat nyata, apa coba artinya? Dan kakek tua itu siapa? Masih dalam kebingungan aku lihat jam sudah pukul 6 pagi, aku pun bergegas mandi dan berangkat sekolah. Di sekolah aku gak lihat caca, waduh pikiranku melayang ditakutkan mimpi semalam nyata, singkatnya sudah pulang sekolah, dan aku putuskan buat balik lagi kerumah caca (aku dulu belum punya ponsel). Ketika depan gerbang aku lihat ada 2 makhluk besar hitam yang berjaga (bisa dibilang genderuwo), gak sadar ternyata mbah put ada disebelahku.

“Mbah gimana masuknya? Itu lagi dijaga”.
“Sudah tenang saja, kamu masuk saja, nanti saya negosiasi supaya saya kedalam” suara macan ditambah manusia jadi 1, serak-serak ganteng gan emoticon-Embarrassment.
“Baik mbah”.

Aku jalan tuh, tapi tetap saja mereka berdua melihat kearahku dengan tatapan tidak enak. Aku lihat sekeliling pekarangan rumah caca sudah gak ada si manusia ularnya dan pagar gaibnya pun hilang. “*Ting, tong” gak lama keluarlah mamahnya caca.

“Bu, caca ada?”.
“Ada san, cuma dia lagi sakit makanya tadi gak sekolah, ibu tadi telepon ibu sandi tapi katanya sandi sudah berangkat”.
“Oh gitu ya bu, maaf deh, aku boleh jenguk caca?”.
“Iya boleh masuk saja, dia ada dikamar”.
“Makasih ya bu”.

Aku buka tuh pintu kamar, aku lihat caca lagi tiduran nonton televisi, aku duduk dikursi sebelah tempat tidur.

“Eh lu san, tumben lu perhatian sama aku, *hehe”.
“Iya lah sama teman harus perhatian, nih aku bawakan jeruk”.
“*Hehe makasih ya, lu memang terbaik deh” emoticon-Embarrassment, duh lihat senyuman caca kok beda ya emoticon-Betty.

“Eh ca, aku mimpi semalam lu ditusuk sama seorang kakek, makannya aku khawatir sama lu”.
“*Cie elah mikirin nih sekarang! Kemana saja lu 9 tahun baru kali ini perhatian aku *haha, apa jangan-jangan lu mau lihat lagi ya”.
“*Yee gak sih, ya sudah balik nih aku” emoticon-Cool.
“*Ngambek ih” bangun dari tempat tidur cubit aku.
“Tenang aku gak apa-apa san, saat malam memang aku tiba-tiba demam, cuma masuk angin biasa kok”.

Gak lama hawa disekitar pintu menjadi panas (belakang punggungku), ketika aku menoleh terlihat seorang bapak dengan kumis tebal melihat kearahku, agak canggung ketika itu.

“Eh pah, ini sandi teman baik caca”.

Kaget juga aku, karena memang baru lihat bokap caca, hawanya panas banget. Aku pun berjalan kearahnya sambil salaman, terlihat tampang orang kurang suka.

“Tuh peliharaan kamu mau masuk, ada diruang tengah” bokap caca membisik.
“Lain kali jangan macam-macam dirumah ini, apa lagi dengan anak saya. Saya tahu keluarga kamu, tapi masih jelas level kekuatannya beda dengan saya, kamu boleh temanan dengan caca tapi yang baik!”.

Jujur saat dengar itu jantungku mau copot, kok dia bisa tahu? Haduh panjang ini urusan.

“Baik pak maaf” jawabku nunduk.
“Bapak hanya pesan jaga caca baik-baik bila kamu memang teman dekatnya” bapak caca senyumin aku.
“Baik pak”.

Lama-lama hawa panas pun menghilang dibarengin oleh senyuman dari bokap caca, dia keluar kamar dan menuju kamar dibawah tangga yang agak mistis. Aku menghampiri caca, lalu caca cerita kalau bokapnya itu punya banyak ilmu, dia banyak berguru kedaerah pedalaman Banten, jadi aku menarik kesimpulan bila kekuatan supranatural ada yang didapat dari lahir dan berguru, serta keilmuan seseorang bisa dilihat dari banyaknya ilmu yang diserap dari guru-guru supranatural.

Aku minta ijin pulang sama caca, dia senyum kearahku, dan aku cium saja keningnya “cepat sembuh caca-yang” emoticon-Embarrassment, diruang tengah mbah put lagi tungguin aku.

“Mbah ko gaK masuk kamar?”.
“Tidak bisa dek sandi, kamar itu dilapisi oleh pagar gaib”.
“Halah pantasan saja panas, ya sudah pulang duluan saja mbah”.
“Baik dik sandi” gak lama hilang.

Di perjalanan pulang, aku tunggu angkot didekat sekolah yang saat itu ada kegiatan pramuka kelas 3 dilapangan basket. Aku perhatikan ada sosok mba kunti yang pernah aku lihat di lab menempel disalah satu siswi kakak kelasku sebut saja namanya siska. Tiba-tiba siska itu terjatuh dan kesurupan, orang-orang teriak histeris seperti melihat setan apa lagi cewek-ceweknya emoticon-Ngakak.

Aku perhatikan ada guru yang baca-baca doa, teman-teman cowok pegangin tangan dan kaki, terus dipencet tuh jempol kaki. Tapi gak ngaruh apa-apa, saat aku datang tiba-tiba tuh siska (masih kesurupan) melihatku dengan tatapan tajam.

loading...

“*Hus, hus pergi, pergi!” siska kesurupan suaranya tajam.
“Sudah pergi saja mba, kasihan ini tubuhnya capek” aku taruh tanganku dikepalanya, dan si mba kunti pergi entah kemana.

“Buset, lu bisa sembuhin orang kesurupan san?” ucap salah satu kakak kelasku.
“Enggak kok bang cuma baca doa *hehe, mendingan bawa ke UKS bang”.
“Sip makasih ya san”.

Besoknya siska masuk kedalam kelasku, aku yang ketika itu lagi kumpul sama geng aku jadi malu sendiri emoticon-Embarrassment.

“Hey sandi makasih ya kemarin, oh ya ini buat kamu” (dia kasih aku coklat).
“Eh kak gak usah kok, aku ikhlas sumpah”.
“Gak apa-apa, pulang sekolah kerumahku ya san, orang tuaku mau tahu lu, soalnya adikkku yang masih bayi sering nangis setiap malam”.
“Siap kak!”.

Siska ini kakak kelasku yang cantik, dia juga orang kaya yang ketika itu sudah pegang ponsel tipe bagus dan bawa motor. Ketika jam istirahat kedua, caca samperin aku, “san pulang sekolah kerumahku ya, mau?”. Terima kasih untuk sahabat KCH sudah mau sempatkan waktunya buat baca ceritaku. Assalammualaikum.
Instagram : @fikarshavian

fikar shavian alteza

All post by:

fikar shavian alteza has write 8 posts