Masih SMP: Rumah Caca

Assalammualaikum sahabat KCH dan untuk kak john. Sebelumnya aku ucapkan terima kasih untuk kak john karena sudah mau post ceritaku. Ini cerita kelanjutan dari yang sebelumnya yang berjudul Masih SMP. Langsung saja ke cerita ya agan dan sis.

Siang itu begitu panas, tapi tak sepanas pikiranku, rumah caca tak begitu jauh dari sekolah jadi kita berdua jalan kaki, sepanjang jalan pikiranku melayang-layang, apa yang bakalan caca lakuin sama aku, yang ketika itu memang kita saling diam diperjalanan. Sampai gerbang rumah caca, aku lihat ada ular berkepala manusia berkeliling perkarangan, gak serem sih cuma takut dikit berhubung badan ularnya agak besar. Sampai didepan pintu.

“Eh yang lain kemana ca? Kok dikunci?”.
“Iya mamah sama papah lagi keluar kota kondangan, kakakku jam segini mah belum pulang, ayo masuk”.
“Sekarang aku mau tanya sama sandi nih, kenapa sampau ngintip gengnya anita? Nafsu?”.
“Gak kok ca, aku cuma ikut-ikutan saja tadi” sambil menunduk aku.
“Terus kenapa lu mau? Terus kenapa lu bisa ketahuan?”.

Akhirnya aku cerita panjang lebar sama si caca ini kalau aku bisa lihat yang sesuatu, sampai si mba kunti di lab.

“Nah jadi kayak gitu ca, aku kaget lihat si mba kunti itu depan muka aku saat ngintip makanya aku teriak”.
“*Hmm” caca hanya menganggukan kepalanya.
“Terus sekarang masih bisa lihat?”.
“Ya masih ca, memang kenapa?”.
“Terus didalam rumah ini ada apa? Coba kalau lu memang bisa lihat, aku mau tahu”.

Aku melihat sekeliling, memang sih rumah caca besar, rumah orang kaya sih. Banyak patung dan hiasan aneh menurutku, mataku tertuju sama pintu yang ada dibawah tangga, seperti ada sesuatu tapi aku gak bisa lihat.

“Ca itu dibawah tangga kayak ada sesuatu tapi aku gak bisa lihat , tapi diperkarangan rumah lu ada ular kepala manusia”.
“Nah betul yang diperkarangan, didalam sini masa gak ada?”.
“Tuh dibawah tangga ada pintu, aku cuma dapat feelnya *doang gak bisa lihat, memang lu bisa lihat?”.

“Aku juga bisa lihat tapi aku semua karena aku dibatasin sama bokapku sebenarnya aku bisa lihat mba kunti yang di Lab itu dari kelas 1 (sekarang aku kelas 2) makanya aku suruh lu masuk, tapi gak tahu kenapa tiba-tiba mba kuntinya hilang saat ada suara macan gitu, lu tahu macan dari mana?”.

“Gak tahu sih *hehe” sengaja aku sembunyikan si putih.
“Itu peliharaan bokapku (nunjuk pintu bawah tangga), kata bokapku kekuatan jin didalam itu kuat jadi gak sembarangan orang lihat, jadi kekuatan mata lu belum sebanding dengannya”.
“Oh gitu baru tahu aku” sambil ngangguk.

Caca tarik tanganku lagi kepada sebuah kamar, kamar itu jelas punya caca karena banyak foto dia, pintu kamar ditutup.

“Lu tunggu situ jangan bergerak 1 cm pun!” posisiku didekat pintu.
“Nih kalau mau lihat”.

Suara kaca pecah terdengar dibalik pintu kamar “*trank” ane takut bukan setan tapi satpam atau orang iseng yang bakalan pergokin aku, bisa digorok papahnya caca nih. Aku buka pintu gak ada orang, tapi samar-samar ada bayangan hitam didekat pintu yang kata caca ada “peliharaan” bokapnya. Aku ketika itu memanggil si putih, tapi anehnya dia gak datang datang, dan malah aku tambah merinding.

Caca keluar dan kita lihat sekeliling gak ada orang dan barang yang jatuh, aku putuskan buat balik, setelah *cipika-cipiki sama caca aku keluar pintu utama, aku kaget karena si putih menunggu didepan gerbang. Wah mungkin ini rumah memang sudah dipasang “pagar gaib”. Di situ aku lihat si manusia ular ini melihat kearahku dengan tatapan yang agak kurang menyenangkan, tapi dia hanya diam ditempat.

“Eh putih, kok lu gak bisa masuk sih?” agak membungkuk, tapi dia diam saja, apa gak bisa bahasa manusia? Harus aku tanya nih ke bokap. Gak lama dia hilang. Sampai rumah, aku langsung ke papah, langsung aku tanyain masalah si putih, ternyata dia itu punya nama dan tidak mau dipanggil si putih. Tapi disini aku gak sebutkan namanya, sebut saja mbah put (samaran, privasi) “emoticon-Cool”.

Dan kejadian dirumah caca ternyata bokap tahu gan “emoticon-Betty” tapi untungnya mbah put ini belum masuk jadi gak tahu masalah didalam, “emoticon-Ngakak”. Singkatnya bokap kasih tahu kalau rumah caca itu sudah dipagar gaib sama guru bokap caca, dan itu levelnya sudah beda. Kalau memang mau sakti, bokap tawarin puasa putih 40 hari 40 malam sama aku, tapi aku gak sanggup secara masih kecil, sudah bisa lihat saja syukur.

Bokap manggil mbah put (macan putih itu), sudah datang, lalu aku disuruh kenalan. Ternyata berbicara dengan makhluk halus itu tidak usah teriak-teriak atau berbicara seperti layaknya manusia gan, aku cuma bicara dalam hati dan dibalas juga dengan mbah put, mbah put ini termasuk jin baik dan dia ada disalah satu keris yang dipegang bokapku.

loading...

Terima kasih semoga untuk kak john dan sahabat KCH suka sama ceritaku karena masih panjang untuk kelanjutannya. Terima kasih, selanjutnya di masih SMP: ayah caca itu.
Instagram: @fikarshavian

fikar shavian alteza

All post by:

fikar shavian alteza has write 8 posts