Masuk Dunia Astral Tanpa di Sengaja

Jam 4 sore aku duduk dibelakang rumah sambil menikmati segelas kopi hitam. Aku duduk sambil termenung memikirkan nasib yang masih menyendiri. “Kapan aku punya pacar” kataku dalam hati. Dan hatiku semakin tersayat-sayat ketika melihat ayam betinaku mojok berdua dengan ayam jago tetangga dibawah pohon rambutan. Sedang asik melamun tiba-tiba ibuku keluar dan berbicara kepadaku.

“Di dari pada bengong gak jelas, sana cari kayu bakar!”
“Sudah sore bu?”
“Ah alasan saja kamu. sebentar saja, ibu gak ada kayu bakar lagi buat masak besok pagi.”
“ya sudah deh bu.”

Kemudian aku berdiri dan masuk kedapur untuk mengambil golok. Lalu aku berangkat ke hutan untuk mencari kayu bakar. Sesampainya ditepi hutan, aku mengamati sekeliling dan tidak ada orang sama sekali. Kemudian aku segera masuk ke hutan sambil membayangkan neng ayu si kembang desa yang sudah menolakku dengan jujur. Aku terus berjalan menelusuri jalan setapak tanpa menoleh sama sekali. Beberapa menit kemudian, aku berhenti dan mulai fokus mencari kayu bakar. Tapi tiba-tiba aku mendengar suara anak kecil sedang bermain.

“Hey itu punyaku?”
“Ambil saja kalau bisa, *haha”
“Ibu?”

Begitulah obrolan anak kecil yang aku dengar. Karena penasaran, aku mendekati asal suara anak kecil itu. Saat itu ada pohon bambu yang sudah roboh yang menghalangi pandanganku. Kemudian aku menerobos pohon bambu itu. Setelah kuterobos, aku terkejut karena banyak sekali rumah.

“Lho, kok ada rumah? setahuku disini tidak ada perkampungan?” kataku dalam hati sambil terheran-heran. Tapi anak kecil yang sedang bermain tadi sudah tidak ada lagi. Kemana mereka? Aku terus berjalan memasuki perkampungan ini. Langkahku terhenti saat melihat gadis cantik yang mengenakan kebaya sedang duduk diteras rumah, dan dia sedang menatapku.

“Cantik sekali gadis itu? Apakah ini jalan keluar keterpurukanku?” kataku dalam hati sambil menatapnya. Gadis itu tersenyum kearahku. Hatiku seperti terhempas dan hanyut kebawa senyuman gadis itu. Kemudian aku berjalan dengan mantap dan setiap langkah ini aku atur supaya terlihat gagah. Sesampainya dihadapan gadis itu, aku memberikan senyuman yang paling indah. Lalu aku menyapanya.

“*Eu, punten neng?” gadis itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Kemudian aku melanjutkan perkataanku “kalo boleh tahu ini dimana ya? Kok aku baru tahu kalau disini ada perkampungan?” kemudian gadis itu berdiri dan menjawab.

“Tempat ini adalah bukan tempat manusia. Hanya manusia tertentu yang bisa memasukinya.”
“Oh gitu ya neng?”

Tapi aku terkejut setelahnya

loading...

“Tunggu-tunggu, bukan tempat manusia? Lalu, kenapa si neng bisa ada disini?” kataku sambil memundurkan kakiku selangkah. Lalu dia menjawab.
“Menurutmu kenapa?” jawab dia sambil tersenyum.

Aku berfikir cepat dan aku mendadak merasakan ketakutan. Tapi aku tidak mau menunjukan ketakutanku ini kepadanya. Aku mencoba tenang dan pamit pulang. “Oh gitu. Ya, ya aku tahu, *hehe, aku mau pulang dulu ya neng?” gadis itu hanya tersenyum dan kemudian tertawa. Aku cepat-cepat membalikkan badan. Selangkah, dua langkah, tiga langkah aku mencoba santai.

Namun yang keempat langkahnya aku berlari dengan kencang. Sesekali aku menoleh kebelakang takut dia mengikutiku, terlihat sekilas dia melambaikan tangannya kearahku. Tapi sial, tubuhku menabrak pohon besar setelah menoleh kebelakang. “*Aw!” kemudian aku cepat-cepat bangkit lagi dan berlari. Setelah dekat pohon bambu yang roboh tadi, aku menerobosnya dengan meloncatinya.

Kemudian aku terus berlari menuju rumahku. Hatiku merasa tenang ketika aku melihat rumahku. Sesampainya dirumah, aku duduk setengah menjatuhkan diri diatas dipan. Sambil ngos-ngosan aku mencoba menenangkan diri dan mengatur nafas. Setelah mendingan, aku memanggil ibuku.

“Ibu, ibu?” tidak lama kemudian ibuku keluar dan menatapku. Kemudian aku berkata.
“Bu, tadi aku masuk ke alam astral bu?”
Kemudian ibuku menjawab “kamu siapa?”

Aku langsung menoleh kearah ibuku dengan cepat. “Tidak!” aku kembali berlari menjauhi rumahku. Kemudian aku berhenti dan menoleh kearah rumahku, betapa terkejutnya aku ternyata itu bukan rumahku tapi pohon beringin besar. Aku benar-benar panik saat ini. Aku menjatuhkan tubuhku ketanah sambil menangis dan berdoa. “Ya Allah, hamba ingin pulang kerumah hamba yang ada didunia nyata”.

Tiba-tiba aku teringat cerita ibuku. Kalau kita sedang tersesat karena perbuatan jin, kita harus jongkok. Akhirnya aku segera jongkok, dan mengamati sekeliling. Apa yang terjadi, aku mendadak melihat genteng rumah disebelah kananku. Dan aku mendengar suara motor. Lama kelamaan aku menyadari keberadaanku sekarang. Aku cepat-cepat berdiri dan berlari ke arah suara motor tadi, dan alhamdulillah suara motor itu berasal dari motor temanku yang berniat main kerumahku. Aku juga melihat ibu sedang ngobrol dengan tetanggaku dibelakang rumah.
Setelah aku sampai rumah, aku menyapa temanku.

“Di belakang rumah ngobrolnya” temanku langsung mengikutiku. Kemudian aku menghampiri ibuku dan beliau berkata.
“Katanya mau cari kayu bakar?”
“Ceritanya panjang bu” jawabku sambil duduk diatas dipan. Aku hanya terdiam dan menatap kosong. Bersambung.
Facebook: Marwan Marley Nurrohman (Marli)

KCH

Didi Wasidi

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Didi Wasidi has write 2,691 posts