Mata di Kedua Tangan (Tenome) A.K.A Pale Man

The Pale Man in Pan’s Labyrinth ini didasarkan dari tenome, legenda ini berasal dari Jepang tentang hantu seorang yang buta dan memiliki mata dikedua telapak tangannya. Tenome dapat diartikan sebagai “mata dikedua tangan”.

Ada seorang pria tua yang buta yang diserang oleh perampok. Mereka memukulinya dengan kejam dan membiarkannya mati sendirian ditengah lapangan. Saat dia terbaring sekarat, orang tua yang buta itu berteriak dalam kemarahan dan frustrasi, “seandainya saja aku melihat wajah mereka! Tapi mataku tidak bisa melihat! Seandainya saja aku mempunyai mata dikedua telapak tanganku!”.

Karena dia meninggal dalam keadaan marah dan kesakitan, orang yang buta itu kembali sebagai hantu bernama tenome. Keinginannya untuk balas dendam begitu besar sehingga matanya yang buta itu kini dapat melihat melalui sepasang mata baru pada kedua telapak tangannya.

Sekarang tenome menjelajah kota dan desa, mencari perampok yang telah membunuhnya. Dia bisa melihat dengan memegang kedua tangannya didepannya. Tapi tenome tidak pernah melihat wajah penyerangnya, jadi dia hanya membunuh siapapun yang bisa dia dapatkan. Meski memiliki mata dikedua tangannya, dia masih dibutakan oleh kemarahannya.

Suatu malam, seorang anak laki-laki jepang ditawari oleh teman-temannya untuk pergi kepemakaman dan menguji keberaniannya. Saat anak itu berjalan melalui pemakaman, dia tiba-tiba melihat seorang pria tua muncul dari kegelapan. Saat sosok itu keluar dari kegelapan malam, dia menyadari bahwa orang tua itu buta dan memiliki bola mata dikedua telapak tangannya.

Anak laki-laki yang ketakutan itu melarikan diri secepat mungkin. Dia berlari ke kuil dan memohon kepada pendeta untuk membantunya. Pendeta itu lalu menyuruhnya untuk bersembunyi disebuah peti dan kemudian pergi untuk menyembunyikan dirinya.

loading...

Saat tenome masuk kedalam kuil, dia berkeliaran dengan tangan yang terulur didepannya, untuk mencari mangsanya. Anak laki-laki itu berjongkok didalam peti, dia tidak berani bernapas saat mendengarkan suara langkah kaki mulai mendekat dan mendekati tempat persembunyiannya. Langkah kaki itu berhenti tepat disebelahnya dan dia mendengar suara mengisap yang aneh. Slurp! Slurp! Slurp.

Pagi harinya, pendeta itu keluar dari persembunyian. Dia membuka peti untuk membiarkan anak itu keluar, tapi saat dia mengintip kedalam, dia bergidik ngeri. Anak itu sudah meninggal. Tenome telah menyedot semua darah dan tulang dari tubuh anak itu, tidak menyisakan apa pun kecuali bibir, dan kulitnya yang sudah terlihat kendor.

loading...
Arie R

Arie R

Suka berbagi cerita dan senang membaca website seperti KCH!

All post by:

Arie R has write 25 posts