Mati Suri dan Pesta Gaib

Saya mau berbagi kisah yang diceritakan oleh ayah saya (Alm) tentang kakek buyut saya semasa hidup dulu, beliau adalah seorang keturunan jawara Banten. Kisah ini bermula di suatu sore waktu menjelang matahari akan terbenam, buyut saya kesehariannya adalah bertani dan berkebun (beliau memiliki ladang sawah dan kebun yang beliau garap sendiri) sore itu sehabis berkebun beliau memutuskan pulang ke rumah karena hari mulai sore.

Setibanya di rumah beliau duduk di depan bambu di dapur (dapur buyut saya ada pintu yang mengarah langsung ke halaman samping rumah dan di dalamnya terdapat dipan terbuat dari bambu yang biasa dipakai untuk makan lesehan bersama keluarga atau digunakan buyut saya untuk sekedar rebahan). Kemudian beliau pun disuguhi air minum oleh istrinya. Sudah menjadi hukum adat masyarakat terdahulu bahwa tidur di sore hari adalah tidak baik (pamali).

Celakanya buyut saya malah tertidur di atas dipan bambu pada saat waktu maghrib akan menjelang (mungkin faktor kelelahan karena usia dan setelah seharian berladang). Ketika baru beberapa saat beliau tertidur, ada seorang pria asing berdiri disamping dipan dan membangunkan beliau dengan menyebut nyebut namanya. Seketika buyut saya terkejut karena ada orang asing masuk rumahnya, membangunkan beliau dari tidurnya dan mengenali nama beliau.

(Insting jawara beliau pun mulai keluar) tetapi belum sempat beliau bertanya perihal sosok asing yang berdiri di hadapannya, sosok asing tersebut malah menawarkan buyut saya untuk menyaksikan pagelaran wayang golek di kampung sebelah (maklum zaman dulu di desa belum ada listrik, hiburan yang tersedia hanya pagelaran wayang golek semalam suntuk, itu pun sangat jarang, biasanya diadakan hanya saat acara pesta perkawinan kaum ningrat/ orang berada).

Berikut percakapan singkat antar keduanya (sudah diterjemahkan).
Kaka : buyut saya (orang sunda yang lebih tua biasa dipanggil dengan kaka).
Jajang : sosok asing (orang sunda yang lebih tua biasa memanggil jajang pada orang yang lebih muda).
Jajang : “ka, mau nonton pagelaran golek (wayang golek) enggak?”.
Kaka : “memang ada jang? (Sahut buyut saya penasaran) dimana?”.
Jajang : “ada ka, di kampung sebelah. Kalau kaka mau ayo ikut saya (sambil berjalan keluar dari pintu dapur)”.

Buyut saya tanpa kecurigaan (mungkin karena excited mendengar ada pagelaran wayang) langsung beranjak dari dipannya dan mengikuti sosok asing itu keluar dari pintu dapur hingga menyusuri hutan belukar. Namun sosok asing ini berjalan terlalu cepat sehingga meninggalkan buyut saya di tengah hutan. Beliau tidak dapat melihat jelas dalam hutan selain karena tidak membawa penerangan, kondisi langit pun sudah mulai gelap, tapi beliau heran kok tidak terdengar ada suara adzan maghrib padahal langit sudah mulai gelap.

Beliau malah mendengar suara gamelan sunda (alat musik khas karawitan sunda). Beliau pun mulai melupakan sosok asing yang meninggalkannya dan kembali bersemangat mencari arah suara gamelan tersebut karena beliau pikir jaraknya dengan pagelaran tersebut sudah dekat. Setelah mencari-cari sumber suara akhirnya beliau menemukan sumber suara tersebut berada di balik sebuah gerbang besar nan megah di tengah hutan.

Tanpa curiga beliau memasuki pintu gerbang besar tersebut dan mendapati sekelompok orang kebanyakan kaum perempuan paruh baya sedang menyiapkan masakan dalam skala besar (buyut saya masih belum curiga karena beliau pikir mereka tengah menyiapkan masakan yang melimpah untuk kebutuhan hajat/pesta disitu) namun ketika beliau berjalan menyusuri kerumunan perempuan yang sedang masak beliau terperanjat/terkejut bukan main dengan apa yang dilihatnya.

Beliau melihat sekumpulan perempuan sedang mengiris sayur-sayuran dan bumbu-bumbu dengan ukuran yang tidak masuk akal. Beliau melihat seorang perempuan sedang mengiris bawang merah seukuran batu raksasa (diameter 2 meteran). Karena terkejut akan apa yang dilihatnya beliau pun secara spontan menyebut istighfar. “Astaghfirulohal’aziem, itu bawang besar amat”.

Mendengar buyut saya menyebut istighfar, seluruh perempuan yang tengah sibuk memasak langsung terpaku terdiam tak bergerak dan seluruhnya menatap ke arah buyut saya dengan pandangan murka. Tiba-tiba saja buyut saya melihat semua menjadi gelap dalam sekedip mata dan di kedipan yang kedua beliau membuka mata dan beliau keheranan menyadari dirinya dalam keadaan berbaring dibalut kain kafan dikelilingi tetangga dan sanak keluarga yang sedang membaca surat yasin dan meratapi beliau.

Karena beliau heran dengan apa yang terjadi beliau pun bangkit dan bertanya pada yang hadir disitu. “Memangnya ada apa ini kok pada yasinan di rumah saya?”. Melihat buyut saya bangun dan berbicara dalam keadaan dibalut kain kafan sontak seluruh tetangga yang tengah membaca surat yasin kaget ketakutan dan berhamburan keluar rumah sementara sebagian pingsan di tempat.

Singkat cerita setelah keadaan membaik, istri buyut saya bercerita bahwa sore hari ketika buyut saya tiba dari berladang dan selesai menyuguhkan minuman, istri beliau mendapati buyut saya sudah tidak bisa dibangunkan dan tidak bernyawa sehingga melaporkan kejadian tersebut pada kepala adat dan tetangga sepakat berinisiatif memandikan jenazah dan mengkafani buyut saya (yang mana secara metafisis belum meninggal itu “mati suri”) sembari menunggu seluruh anggota keluarga tiba di rumah duka.

loading...

Lokasi kejadian : di suatu desa di Banten.
Waktu kejadian : saya lupa tapi cerita ayah saya waktu itu masih pendudukan jepang.
Sekian guys. Mohon maaf kalau ada kesalahan yah abah (kok abah? Iya, khawatir buyut saya ikut baca makanya saya minta maaf).

KCH

bobb

Sekedar kembali mengingatkan. “Jangan pernah baca ini sendirian” :)

All post by:

bobb has write 2,704 posts

Please vote Mati Suri dan Pesta Gaib
Mati Suri dan Pesta Gaib
Rate this post