Meja Dari Papa

Hai makhluk gaib penghuni KCH. Maaf ya kalau kalian aku bilang gaib, karena aku hanya bisa tahu nama kalian saja para writer sekalian, tanpa tahu wajah kalian, *haha, makanya bagiku kalian itu gaib. Meja. Ya, aku punya sebuah meja kayu jati, berukiran ikan koi dan bunga-bunga mawar yang diberikan oleh papaku. Iya, papaku bisa mengukir kayu, karena dia memiliki bisnis furniture di Medan.

Jadi kebanyakan perabotan rumah tangga dirumah kami adalah hasil karya si papa. Papaku ini selain disiplin juga ulet. Gak heran, jika papa bisa membuka cabang furniturenya di Medan, Batam dan Padang. Ok. Papaku ini pandai banget mengukir dan melukis. Walaupun ia sewaktu kuliah salah ambil jurusan yaitu jurusan teknik industri, tapi ya papaku bisa menangani bisnisnya ini.

Meja pemberian papa menurutku kurang bagus, ini bukanlah ukiran meja buatan papa yang aku kenal. Karena apa? Aku benci bunga mawar. Aku gak suka durinya dan papa tahu itu. Aku suka bunga kamboja. Iya, serius. Kamboja, kantil. Bunga tulip juga. Jadi papa memberikan itu, karena aku sempat minta sama papa “Pa. Kakak minta meja. Untuk meletakkan pernak pernik yang baru kakak beli” begitu.

Seminggu kemudian, papaku memberikan meja kayu jati kepadaku. “Papa, meja siapa yang ada didalam kamar kakak?” papa menjawab “meja yang kakak pesan seminggu yang lalu”. Kemudian aku tanya karena aku bingung “pa. Kok cepat banget? Biasanya kalau apa-apa, baru siap sebulan atau dua bulan. Paling cepat 3 minggu. Lah, ini hanya seminggu?” papa jawab sambil beranjak pergi “iya kak. Meja itu punya kawan papa, jadi papa hanya sedikit kasih polesan saja. Sudah ya kak, papa mau kebawah. Nonton televisi”.

Apa-apaan nih. Gak mau ah! Jelek. Gak suka sama ukirannya. Lagian ini bekas pakai. Entah apa papa. Aku merepet sendiri dikamar sambil memukul meja kayu jati itu. Entah kenapa, saat aku memukul meja, lampu lamarku mati seketika terus hidup lagi. Saat kupukul meja lagi, lampunya mati dan hidup lagi. Berulang kali aku coba, hasilnya sama. Kenapa ini? Aku bingung. Mau gak mau aku terima meja jelek itu.

Besoknya aku menyusun pernak pernik yang baru aku beli diatas meja itu “ah! Selesai sudah. Keluar ah, makan. Lapar”. Setelah selesai makan, kemudian aku balik lagi kekamar. Dan, oh my god. Pernak pernikku berantakan dan berpecahan. Siapa nih biang keladinya? Susil (setan usil/penjaga rumahku), gak mungkin. Aku tahu sifat si bocah tua ini, walau dia usil, tapi dia gak pernah jahat sampai ngancurin barang .Oi? (Oi itu BBF ku dan dia makhluk halus juga yang mendiami kamarku dan jadi teman curhat dan tidur) ah, apalagi dia. Dia itu baik banget. Usil saja gak, apalagi yang beginian.

loading...

Siapa ya? Aku terheran-heran. Apa Herina? Gak mungkin. Orang dari tadi dia dilantai bawah. Jadi siapa dong? (Herina/Herin itu adikku). Aku terus bertanya-tanya. Aku merasakan ada yang aneh soal meja itu. Berhari-hari setiap barang aku letakkan diatas meja itu, barangku pun pada berjatuhan dan berpecahan. Apa jangan-jangan? Karena curiga dengan meja itu, bisa menjatuhkan barang tanpa sebab, aku kemudian tanya sama papa atas meja pemberiannya itu.

“Pa, waktu itu papa bilang, kalau meja yang papa kasih untuk kakak itu dari teman papa. Kok bisa teman papa itu ngasih mejanya secara cuma-cuma?” Papaku gak tahu kenapa, tapi katanya kalau temannya itu sudah terlalu banyak meja dirumah. Gitu saja kata teman papa. Ah! Aku gak percaya. Mana ada sejarahnya orang tuh ngasih meja dari kayu jati yang mahal cuma karena beralasan mejanya sudah terlalu banyak dirumah.

Pasti ada apa-apanya. “Pa, papa tahu rumah teman papa yang ngasih meja?” papa jawab dengan heran “Untuk apa kak? Papa tahu. Tapi untuk apa?” aku pun hanya bilang “pokoknya besok kakak kasih tahu alasannya. Pa, besok kita kerumah teman papa itu ya? Papa lagi gak ada pesanan kan?” papa jawab “Gak ada kak, ya sudah. Besok kita kesana”. Keesokan harinya, aku dan papa berangkat kerumah temannya.

Sampai disana, kami dipersilahkan masuk dan disuguhkan teh. Papa dan Om Imran, namanya, berbicara dulu, ya biasa, tentang orang tua. Kemudian barulah papa berbicara maksud sebenarnya datang kerumahnya (karena sewaktu diperjalanan, aku menceritakan semuanya ke papa) dan kulihat om Imran agak sedikit menyembunyikan sesuatu. Karena aku paksa dan aku ceritakan apa yang sudah aku alami selama berhari-hari ini, maka ia mau membuka mulut.

“Meja itu sebenarnya bukanlah meja saya, tapi itu meja dari bos almarhum adik saya. Dulu sebelum meninggal, adik saya juga bekerja, sama seperti pak Ferdi (nama papaku). Ya, furniture. Tapi dibagian pemotongan kayu. Jadi kejadian naas terjadi pada adik saya. Saat hendak memotong kayu untuk membuat meja yang sekarang ada dikamar dik Gina itu, tangan adik saya tanpa sengaja ke ginsaw (mesin gergaji) dan putus. Darah banyak bercucuran kemana-mana, adik saya langsung dibawa kerumah sakit dan sayangnya dia tak terselamatkan.

Kayu itu tetap digunakan, walau ada terdapat darah adik saya, tapi karena perusahaan gak mau rugi, jadi tetap dibuat. Waktu dulu, ada seorang pengusaha yang beli meja itu untuk diruang tamu rumahnya, tapi kejadiannya sama dengan yang dik Gina alami dan pengusaha itu komplain, meminta ganti rugi kalau tidak, usaha dibidang furniture itu akan dipidanakan. Karena tak mau kena kasus, bos almarhum adik saya langsung mengambil meja itu dan mengembalikan uang si pengusaha.

Bos-nya kemudian menjual meja itu lagi dan lagi-lagi banyak yang komplain. Begitu seterusnya. Sampai pada saat bos itu memberikan meja kepada saya (bos itu kenal dengan pak Imran) dan saya menerimanya dan masalah kemudian terjadi kepada saya. Hal-hal aneh terjadi, karena istri saya sudah gak kuat dengan keanehan demi keanehan, maka meja itu diletakkan saja digudang. Sudah bertahun-tahun meja itu tidak dipakai. Karena saya mengenal bapak, dari pada terbengkalai, saya kasihkan saja ke bapak, mana tahu pak Ferdi mau jual lagi.

Ternyata pak Ferdi malah kasihkan ini ke anak bapak. Dan saya sengaja bilang kalau saya punya banyak meja dirumah, saya gak mau bilang kalau meja ini berhantu”. Setelah panjang lebar pak Imran menjelaskan, kemudian aku bilang sama pak Imran “Pak. Saya akan mengembalikan meja itu ke bapak”. Sekian.

Fiolin Fradah

Sezgina F.S Fradah

Thank you for reading my stories. Thank you for liking my stories Thank you so much... Terimakasih,Thank you,Arigato gozaimasu, kamsahamnida,Xie-xie,Merci bien,Dankejewel,Matur nuwun,Tarimo kasih,Hatur nuhun,Bujur...

All post by:

Sezgina F.S Fradah has write 94 posts