Membantu Persalinan

Assalamu’alaikum wr. wb. Hallo sahabat KCH, saya Nugroho ingin berbagi kisah nyata yang sempat menjadi heboh di desa saya, tepatnya di dusun Paculan, kelurahan Ganggeng, Purworejo, Jawa Tengah. Berawal dari seorang wanita paruh baya (saya lupa namanya) yang berprofesi sebagai dukun bayi yang tinggal di dusun Sucen, desa Kemanukan, Bagelen, Purworejo, tidak jauh dari desaku. Waktu itu cuaca agak mendung sekitar pukul 16.00 Wib tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.

Tamu: “kulo nuwun Mbah” (Permisi Mbah).
Embah: “Monggo pinarak, wonten nopo Mas?” (silahkan masuk, ada apa Mas?).
Tamu: “Nuwun sewu Mbah, kulo badhe nyuwun tulung, garwo kulo badhe babaran” (Maaf Mbah, saya mau minta tolong, istri saya mau lahiran).
Mbah: “Oh iyo Mas, yowis tak ganti klambi ndisik yow, sampean tunggu sedelok” (Oh iya Mas, ya sudah saya tak ganti baju sebentar ya, kamu tunggu sebentar).
Tamu: “Inggih Mbah” (Iya Mbah).

Selesai siap-siap, si Embah dukun bayi langsung pergi ke rumah tamu tadi yang minta tolong untuk dibantu persalinan istrinya, Embah di bonceng menggunakan motor. Tetapi sebelum berangkat tamu tadi berpesan kepada si Embah “Mbah mengko nek tak bonceng sakdurunge tekan umahku ora usah nolah-noleh yo Mbah” (Mbah nanti jika tak bonceng sebelum sampai rumahku jangan tengak-tengok ya Mbah).

loading...

Si Embah agak bingung tetapi menyanggupinya, sepanjang jalan Embah merasakan jalanan yang sangat halus tanpa hambatan, motor yang dinaikinya juga tidak mengeluarkan suara. Sesampai di rumahnya di desa saya yaitu dusun Paculan si Tamu bilang “monggo mlebet Mbah niki griyo kulo, garwo kulo mpun nenggo” (Mari Mbah ini rumah saya, istri saya sudah menunggu).

Sebelum masuk ke rumah Embah melihat rumahnya itu sangat mewah, ketika masuk ke rumah berbagai furniture rumah tangga yang lengkap dan mewah. Si Embah lalu membantu persalinan istrinya, berhubung saat proses persalinan sampai larut malam, si Embah terpaksa menginap dirumah tamu tadi. Keesokan harinya si Embah pamit pulang karena tugasnya sudah selesai, si Tamu kemudian memberi sejumlah uang sebagai imbalan dan ketika pulang diantar lagi menggunakan motor.

Lagi-lagi si Tamu sebelum berangkat bilang sama si Embah “Mbah mengko nek tak bonceng sakdurunge tekan omah ora usah noleh-noleh yo Mbah” (Mbah nanti jika dibonceng sebelum sampai dirumah jangan tengak-tengok ya Mbah). Sampai di jalan si Embah penasaran atas pesan si Tamu tadi, gak boleh tengak-tengok ketika dibonceng, dan ketika di tengah jalan si Embah menengok melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Spontan dengan muka agak memerah dalam kondisi berboncegan tanpa berhenti terlebih dahulu si Tamu langsung mendorong si Embah. Sontak si Embah kaget dan jatuh d itengah jalan si Tamu langsung pergi meninggalkan si Embah, kaki dan tangan si Embah sedikit memar akibat jatuh dari motor. Akhirnya si Embah pulang ke rumah jalan kaki. Sesampai di rumah si Embah cerita dengan suaminya.

Suami si Embah marah dan menelusuri rumah si Tamu tersebut, setelah mutar-mutar di desaku mencari rumah si Tamu tersebut tidak ketemu dan akhirnya suami si Embah pergi ke tempat pak RT dan bertanya sama pak RT. Pak RT menjelaskan bahwa di desa ini tidak ada orang yang melahirkan. Suami si Embah bilang bahwa istrinya baru saja membantu persalinan di desaku, patokan rumah berada di sebelah perempatan.

Setelah di cari di perempatan jalan itu tidak ada rumah, hanya lahan kosong dan ada pohon bunga kantil dan pohon bambu kuning saja disitu. Suami si Embah langsung berpamitan pulang, menceritakan pada si Embah. Kemudian si Embah mengecek uang yang telah di terimanya, alangkah kagetnya uang yang diterima berubah jadi tanah. Sejak saat itu desaku menjadi heboh dengan cerita ini. Subhanallah. Wassalamu’alaikum wr. wb.

KCH

Nugroho

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Nugroho has write 2,691 posts