Mendadak Sakit Karena Melihat Sesuatu

Perkenalkan namaku edy, teman-temanku sering memanggil dengan sebutan pelatuk atau edoy. Dengan bermodal alamat dari ayah, aku nekad menyusuri jalan yang belum pernah aku lewati. Aku adalah anak ke-4 dari 6 bersaudara, namun hanya aku yang belum menikah di antara saudara/ri kandung kami. Perjalananku cukup jauh, dan harus menempuh 3 hari.

Aku dari kota Tanjung Karang yang akan berpetualang mencari rumah keluarga orang tuaku. Hanya dengan bekal alamat dan info dari ayah, aku berangkat sendirian menuju daerah Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Dengan jurusan bus-bus di Sumatera. Hal yang menyedihkan adalah ketika di perjalanan kehabisan ongkos, sehingga membuatku untuk menumpang kendaraan lain.

Untung saja ada sebuah mobil grand max lewat di jalan yang sepi ini. Sepertinya mobil itu sedang mengangkut hasil kebun berupa karet. Terus terang, desa yang akan aku tuju adalah desa yang mayoritas berpenghasilan dari getah pohon karet. Itu sebabnya di sepanjang jalan masih banyak hutan karet berhektar-hektar. Aku menghentikan mobil itu sambil menyapa dan meminta ijin untuk menumpang. Dan ternyata orangnya sangat ramah, sehingga mengijinkanku, “tapi di belakang ya mas” kata sopir.

Lalu ku iyakan saja, dari pada harus jalan berkilo-kilo meter. Bau karet ini sangat menyengat membuatku tidak bisa bernafas bebas. Tiba-tiba “mas, sampai disini saja ya, soalnya saya mau ke arah sana, dan tujuan mas ke arah jalan belokan ini” ucap sopir itu. Lalu aku turun tidak lupa mengucap terima kasih. Sudah jam 4 sore, ku beristirahat di warung pertigaan jalan ini. Dan ini adalah warung satu-satunya.

Aku pesan minuman, sambil bertanya alamat desa pada pemilik warung. Alangkah terkejut jawaban yang ku dengar, bahwa alamat desa yang ku tuju masih berkisar puluhan kilo meter lagi. Seketika aku langsung lemas bercampur bingung “hari sudah sore, tidak ada ongkos apalagi kendaraan untuk sekedar menumpang” pikirku. Tiba-tiba ada seorang bapak-bapak berusia sekitar 45 tahunan datang dengan sepeda motornya ke warung ini. Sepertinya dia akan membeli rokok, tiba-tiba korek yang dia pegang terjatuh di dekatku. Aku pun mengambilnya dan memberikan pada bapak itu.

loading...

Dan setelah ia berterima kasih lalu bertanya padaku karena dia merasa asing melihatku. Setelah ku jelaskan tujuanku dan menjawab pertanyaannya, dia pun langsung merangkulku sambil matanya berkaca-kaca. Aku hanya terkejut, setelah ia menjelaskan siapa dirinya aku pun merasa senang dan lega. Akhirnya ada yang aku kenal dan salah satunya aku tidak jalan kaki untuk menuju rumah nenek.

Bapak ini adalah adik tiri ayahku, ayahku memang punya beberapa saudara tiri dan baik pada ayahku. Hanya saja ayahku yang bersifat egois meninggalkan keluarganya dan hidup berkelanan sesuai jati dirinya. Setelah perkenalan dan memboncengku untuk menuju desa/rumah nenek. Sampailah di rumah keluarga ayahku, kemudian paman memperkenalkan diriku pada mereka, langsung suasana menjadi haru menyelimuti keluarga ini menyambutku.

Terlebih lagi nenek yang sejak tadi memelukku sambil menangis tanpa lepas. Singkat cerita sudah 1 bulan aku disini, setiap malam selalu mendengar rombongan babi melewati pemukiman dan hutan karet. Suatu hari aku di suruh nenek untuk memetik jengkol di kebun miliknya, jaraknya tidak begitu jauh dari rumah. Namun pohon jengkol itu berada di pinggir ladang dan sawah.

Kebetulan di ladang ada paklek/om tetangga nenek yang sedang mengambil rumput untuk ternak kambingnya. Ketika kami sedang mengobrol tiba-tiba aku dan paklek melihat daun dan dahan pohon bergerak-gerak. Padahal tidak ada angin, dan hanya di dahan rimbun itulah yang bergerak. Karena penasaran akhirnya paklek meminjam galah (kayu dari bambu) yang ku pakai untuk memetik jengkol di bawanya.

Dan ia mendekati ranting yang bergerak itu, setelah rantingnya di buka dengan galah, sontak dia langsung pingsan dan pohon tadi sudah tidak bergerak lagi. Aku yang kebingungan langsung mendekatinya dan berteriak meminta tolong. Untungnya masih ada warga yang mendengar langsung mendekat dan menolong kami. Setelah ku ceritakan akhirnya kami membawa paklek pulang ke rumahnya.

3 bulan paklek tidak bisa berbicara dan hanya berada di kamarnya. Setelah di panggilkan orang pintar akhirnya terungkap sudah, paklek berbicara dengan bahasa isyarat dan telah di artikan oleh orang pintar tersebut. Bahwa dia telah melihat sosok ular besar/raksasa. Dan konon ular itu adalah penunggu daerah ini. Kata orang pintar itu untung dia segera di obati, dan untung tidak melihat kepalanya dan menerkamnya.

Konon dulu pernah ada 2 orang yang tewas dan satunya mengalami hal yang sama lalu meninggal juga. Mereka adalah warga setempat yang mengalami nasib sial yang buang air kecil sembarangan, dan karena telah melihat kepala ular raksasa itu juga. Mendengar kejadian itu aku mulai khawatir, terlebih lagi aku adalah orang asing di sini.

Akhirnya aku hanya 3 bulan menemani nenek, tapi nenek menyuruhku untuk tinggal dan akan memberiku lahan karet seperti saudara bapak lainnya. Tapi aku menolaknya dan memilih untuk kembali pulang. Karena aku sudah lega bisa melihat dan bertemu nenek, tamat.

Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts