Meraga Sukma

Ini adalah kisah tentang ritual meraga sukma yang tidak akan pernah bisa aku lupakan, kisah ini terjadi saat aku masih duduk dibangku SMP. Namaku Ana, saat itu aku masih bersekolah dan kejadian ini bermula dari rasa iseng aku dan kawan-kawanku ketika saat jenuhnya dengan aktivitas disekolah. Aku ingat hari itu langit mendung namun tidak hujan, suasana yang gelap membuat sekolah menjadi agak menakutkan.

Jam menunjukan sudah 3 sore, artinya sebentar lagi bel tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar akan selesai. Tidak begitu lama akhirnya bel pun berbunyi, suasana kelas menjadi ramai. Sorak sorai dari seluruh penjuru sekolah mulai terdengar. Tidak ada yang menyangka kalo suasana ramai di sore hari ini sebentar lagi akan berubah menjadi bernuansa mistis.

loading...

Setelah selesai berdoa, sebagian siswa berhamburan keluar kelas kecuali aku, laura, rubi, hendra, irma dan rizki. Kami saling bertukar pandang dalam diam, laura melempar senyum dan sementara aku dan lainnya mendadak grogi. Kami menunggu sampai satu-persatu siswa keluar kelas dan setelah suasana sepi muncul ardin dan bagus dari ruang sebelah.

Sekarang kami sudah lengkap, kelompok kami ada delapan orang. Kami memang membentuk sebuah kelompok yang mencari-cari hal mistis disekolah kami. Kali ini kami telah berencana untuk melakukan sebuah ritual didalam kelas, ritual macam apa yang akan kami lakukan saat itu kami semua belum tau terkecuali laura yang telah merencanakan ritual ini.

Dan dia lebih memilih diam tidak menceritakan kepada kami, katanya biar surprise. Suasana kelas saat itu sudah remang-remang, langit masih mendung dan hujan masih belum juga turun. Suara siswa dan siswi diluar kelas mulai sepi tanda sebagian dari mereka sudah pulang. Laura meminta kami semua duduk melingkar dan memejamkan mata.

Sambil saling berpegang tangan, sebelum memulai aktivitas ini laura membuka sebuah buku dengan judul “Meraga Sukma”. Aku sempat terkejut dengan buku yang laura pegang, setauku meraga sukma adalah aktivitas melepaskan roh dari badan dan roh kita bisa berjalan-jalan ketempat yang kita mau dan yang lain sama denganku, mereka semua terkejut.

Belum pernah diantara kami berdelapan yang melakukan hal itu sebelumnya. Melihat kami semua panik, laura menyuruh kami tenang dan berkata, kalo dia hanya ingin mengajak kita latihan berkonsentrasi berdasarkan petunjuk buku itu. Seperti biasa dia mampu meyakinkan kami semua, kami berdelapan mulai duduk melingkar dan mengosongkan pikiran lalu memejamkan mata.

Kami berkonsentrasi sesuai dengan petunjuk yang ada didalam buku itu, aku mulai memejamkan mata dan mulai menghitung mundur dalam hati. “100, 99, 98, 97,…” suasana menjadi hening, tidak ada suara apapun yang terdengar disekitarku. Sesekali aku mendengar, suara anak-anak yang sedang berlatih basket dilapangan. Tiba-tiba, laura berkata kalo kita harus tetap berkonsentrasi pada hitungan kita. Dia bilang sebentar lagi kita akan merasakan makhluk lain diruangan ini.

Dan dia meminta kita untuk tidak menutup diri kepada mereka, aku melakukan apa yang telah dikatakannya dan benar saja mendadak aku merasa suhu diruangan ini berubah drastis. Tidak lama pintu kelas tiba-tiba terbanting dengan sangat keras. Kami semua sontak membuka mata dan membubarkan formasi, irma menengadahkan wajahnya di pundak aku sambil ketakutan.

Tiba-tiba saja angin yang sangat besar masuk kedalam ruang kelas kami. Pintu kembali terbuka dan daun-daun kering yang berada diluar kelas kami, ikut masuk bersama angin dan membuat kelas kami berantakan. “Kami tidak ganggu, tolong jangan ganggu kami” Laura membentangkan tangannya dihadapan kami, laura seperti berusaha melindungi kami. Tidak lama, angin pun reda dan suasana kembali normal.

Kami semua saling berpandangan satu sama lain dan kami memutuskan untuk menghentikan ritual meraga sukma dan langsung membubarkan formasi. Aku berusaha untuk tidak serius memikirkan kejadian sore itu, pintu yang terbanting tadi ku anggap hanya angin biasa yang secara kebetulan saja. Karena kelelahan ketika sampai dirumah aku langsung mandi dan begitu selesai, aku langsung tidur diatas ranjang. Tapi aku merasa ada yang aneh dalam kamarku, seakan ada aura berbeda yang mengisi kamarku.

Tidak lama kesadaranku hilang dan aku tertidur, aku tidak merasakan nyenyak didalam tidurku karena aku tidak bisa mengubah kelelahan yang aku rasakan hari ini. Ketika kesadaranku muncul tiba-tiba saja sesuatu menyentuh kakiku dan sedikit demi sedikit, sesuatu itu berjalan ke arah lenganku. Aku merasa, sesuatu menindihku dan aku berusaha sekuat tenaga untuk bisa lepas dari cengkraman ini tapi sangat sulit.

Aku terus berusaha untuk berdoa hingga tidak beberapa lama, akhirnya aku bisa terbebas dari cengkraman itu dan ketika aku tersadar. Aku lihat tidak ada sesuatu apapun disebelahku, karena lagi kelelahan aku hanya bisa terduduk sambil memandangi jam yang menunjukan hampir jam 10 malam suara dentuman jarum jam begitu nyaring ke arah telingaku.

Aku pun kembali memejamkan mata, tapi belum lama aku terpejam tiba-tiba sesuatu kembali mengusik kenyamanan ku. Kali ini, aku bisa langsung membuka mata namun badanku tidak bisa digerakan. Aku berteriak, tapi suara yang aku keluarkan teredam dan hanya memantul didalam otak lalu aku berusaha untuk berontak. Sedikit demi sedikit aku berusaha menggerakan lenganku dan berusaha untuk bangkit tapi semua masih terasa berat.

Tanganku yang berhasil aku gerakan, akhirnya bisa menyentuh sudut ranjang tapi tiba-tiba tanganku menyentuh sebuah wajah. Sebuah wajah pria berjenggot dan berkumis tajam, ketika aku lihat terlihat seorang pria terbalut kain putih tidur terlentang disebelahku. Itu Pocong, kepalaku terbenam di wajah pocong itu kali ini rasanya jadi basah.

Dan astaga, pocong itu mulai membusuk dan wajahku semakin terbenam diwajahnya. Matanya tidak lagi dibungkus oleh kulit, dan mencair begitu saja seperti tulang yang akan keluar dari kulit lalu aku berteriak sejadi-jadinya. “Tolong…” Tiba-tiba semua menjadi gelap, dan dihadapanku tampak pocong tadi sedang sedang memperhatikanku. Dan disebelah pocong itu juga ada pocong-pocong lain yang muncul sambil melotot ke arahku, aku kembali berteriak dan tiba-tiba saja gelap itu menghilang lalu sedikit demi sedikit cahaya muncul.

Dan aku sedang melihat tembok didalam kamarku, aku sadar dengan posisi terakhir sambil melihat jam tadi. Aku merasakan keringat membanjiri badanku lalu aku bangkit dari tempat tidurku dan aku mulai mengalami Schizophrenia yang hebat. Dengan susah payah aku berjalan menuju keruang tamu dan melihat ibuku yang sedang menonton tv.

Aku bertanya apa dia mendengar suara teriakanku, dan ibuku menjawab dia tidak mendengar suara apapun. Aku langsung menceritakan kejadian yang baru saja aku alami, lalu ibu bilang bahwa aku mengalami ketindihan (erep-erep) dan itu terjadi karena aku selalu kelelahan. Dan esok harinya aku menceritakan ini kepada teman-temanku, lalu mereka semua berkata mengalami hal yang sama denganku termasuk juga laura.

Laura mengatakan, bahwa ketika kami melakukan ritual peraga sukma dan dia sempat melihat sekilas ada pocong yang mengikuti kami satu persatu, namun laura tidak berani bilang dan sejak saat itu aku tidak mau lagi mengikuti ritual-ritual mistis. Aku dan juga teman-temanku pun membubarkan diri dan tidak pernah lagi mencari sesuatu yang mistis di sekolah.

Share This: