“Mereka” Datang Banyak Sekali

Hola! Ketemu lagi dengan saya, Mago. Sebelumnya saya sudah kirim cerita dengan judul “Tuyul itu Pegang Baju Ibuku” dan sekarang saya mau membagikan lagi kisah nyata yang saya alami saat dulu masih indigo. Oke, langsung saja kita ke penjabaran ceritanya.

Kejadian ini saya alami ketika masih SMK kelas XII di salah satu sekolah negeri di kampung saya. Waktu itu saya mengikuti salah satu perkumpulan ilmu kebatinan. Sekedar info, perkumpulan ilmu kebatinan yang saya ikuti sama halnya dengan organisasi pencak silat dan yang sejenisnya tapi lebih difokuskan kepada pengasahan ilmu batinnya atau bisa juga disebut “pengasahan/pembukaan mata batin” lebih kurang begitu.

Hampir mencapai satu tahun saya mengikuti perkumpulan tersebut, kalau tidak salah mungkin sudah 8 bulan saya ikut sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar. Kami mengadakan latihan pada malam hari, tepatnya di hari sabtu malam minggu dan hari minggu malam senin jam 20.30 lebih di lapangan dekat sungai. Kegiatan yang kami lakukan cuma sekedar saling pukul dengan menggunakan atau tanpa alat pukul. Ada satu partisipan dari anggota yang akan menjadi target untuk dipukul oleh anggota yang lain, kebayangkan bagaimana mental diuji.

Setelah itu, partisipan tersebut akan mencoba menangkis dan memantulkan serangan anggota yang lain dengan tenaga dalam. Anggota yang menjadi penyerang tidak sembarangan, karena ada syarat tertentu supaya bisa menjadi penyerang, dan saya pada saat itu belum bisa menjadi penyerang sedangkan teman-teman saya sudah menjadi penyerang, jadi saya hanya sebagai target. Ada juga yang latihannya dengan memfokuskan tenaga dalam supaya lebih kuat dan stabil.

Biasanya ketika tidak menjadi target saya hanya duduk di samping lapangan dan mengasah tenaga dalam saya atau hanya duduk melihat orang-orang latihan sekalian melihat bentuk dan warna tenaga dalam mereka. Yah, memang karena saya adalah indigo dari kecil jadi saya bisa melihat hal tersebut. Pada saat saya melakukan hal tersebut, biasanya ada kejadian-kejadian yang aneh seperti kejadian yang satu ini.

loading...

Kebiasaan saya ketika duduk-duduk disamping lapangan selain kegiatan diatas, saya juga biasanya merasakan keberadaan makhluk-makhluk tak kasat mata dan mengundang mereka secara sengaja. Saya berani mengundang mereka karena ada seperti penghalang/pemagaran (kekkai) yang dipasang oleh tiap-tiap anggota dilapangan. Tapi malam itu saya ceroboh. Penghalang itu kurang kuat dari hari-hari sebelumnya dikarenakan banyak guru atau senior kami yang tidak hadir dan tidak melakukan pemagaran. Tentu saja, karena penghalang itu kurang kuat banyak dari “mereka” yang ingin masuk ke lapangan.

Tubuh saya merasa lemas karena hanya saya sendiri yang mencoba menghalang “mereka” masuk dan memang hanya saya yang indra keenamnya yang sangat tajam diantara yang lain jadi yang lain kurang peka dengan hal ini. Saat tubuh saya terlihat lumayan capek dan terdiam, ada satu teman saya sebut saja Tenma duduk menghampiri dan bertanya.

“Kamu kenapa migo?! Kok lemas banget. Belum makan ya?!”.
“Nggak kok. Kenapa kamu duduk, sudah capek latihannya?” jawab saya.
“Iya nih. Sudah banyak keluar keringat. Kamu enak duduk aja disini” katanya.
“Hehe. Eh, Tenma. Aku mau nanya nih. Kamu ngerasain gak dibelakang kita terasa suram?” sambung saya.
“Bentar, saya rasain dulu. Waduh! G*la! Banyak amat yang datang! Dari tadi kamu sudah ngerasain ini?!” timpalnya.

“Iya, dari tadi aku coba nahan mereka biar gak masuk kesini. Makanya dari tadi aku fokus benerin penghalangnya. Ayo, kamu bantu juga!” ucap saya.
“Iya, iya. Tapi seram banget wujud-wujud mereka. Ada yang cewek putih rambut panjang muka hancur, ada kayak raksasa hitam berbulu lebat, ada anak kecil kulit hitam main kejar-kejaran, ada cuma kepala saja yang melayang, dan, wah banyak bener. Kamu gak takut? Kalau aku sih masih mikir dua kali untuk hadapi mereka” jawab teman saya.

“Sudah biasa. Tapi kalau hadapi tenaga mereka sebanyak ini baru pertama kali aku ngerasain.” jawab saya mengakhiri percakapan. Gubrak! Tiba-tiba saja ada satu anggota terjatuh dan sedikit tidak terkontrol karena ada yang ingin masuk ketubuhnya. Saya melihat kalau yang ingin masuk ketubuh orang itu adalah anak kecil kulit hitam main kejar-kejaran yang disebutkan teman saya tadi.

Syukurnya karena dia masih anak-anak jadi mudah dibuang dan dihalang. Tidak hanya itu, saya melihat semakin lama penghalangnya semakin tidak stabil dan menipis. Saat itu juga banyak dari “mereka” datang dari segala arah ingin masuk kelapangan. Ada yang melayang diatas, ada yang duduk-duduk disamping, ada yang mengamati dari kejauhan, ada yang sembunyi dibawah kursi penonton yang berada di luar lapangan, dan lainnya.

Saat keadaan itulah saya melihat secara sepintas seperti ada sesosok makhluk yang tinggi besar seperti memiliki dua tanduk dari arah sungai atau dibelakang saya dan teman saya duduk tetapi saya tidak melihat wajahnya, hanya melihat matanya sepintas. Matanya berwarna oranye tua menyala-nyala sambil melotot kecil. Setelah itu sosok itu pun hilang. Entah kenapa dia muncul, tapi saya berasumsi kalau sosok itu hanya mengamati pasukannya untuk mengganggu kami latihan.

Semakin malam pengahalang itu semakin menipis dan banyak anggota yang hampir kerasukan. Akhirnya, karena hal itu kami memutuskan untuk mengakhiri latihan malam ini dan semua penonton pulang begitu juga dengan para anggota mulai meninggalkan lapangan. Saya kira fenomena horor sudah berakhir sampai disini ternyata tidak! Tidak sengaja saya melihat kaki teman saya ketika berjalan pulang bersama. Saya melihat sesosok makhluk kecil hitam lebih kecil dari sosok anak-anak dilapangan tadi memeluk erat kedua kaki teman saya.

Saya langsung bertanya kepadanya apakah kakinya merasa agak berat, pegal atau semacamnya. Dia mengiyakan perkataan saya dan sontak saja saya memberitrahu dia apa yang saya lihat. Dia berusaha melepaskan sosok itu dengan bacaan basmalah memegang kedua kakinya di bagian betis, syukur dia tidak merasakannya lagi dan memang sosok itu saya lihat sudah lari entah kemana. Kami pun sampai dirumah masing-masing.

Sekian dari cerita pengalaman nyata yang saya alami. Mudah-mudahan pembaca bisa terhibur, semakin berani dan selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maaf jika tulisan saya ini kurang rapi dan cerita tidak seram menurut pembaca, saya hanya sekedar membagi pengalaman saya. Terima kasih.

KCH

Mago

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Mago has write 2,660 posts