Mimpi Davikah, Malah Ketemu Kunti

Hai sahabat KCH, hai kak John. Ini kisahku yang gak akan aku lupakan, ya walau tanggal sama bulannya sudah lupa, tapi ini kejadiannya tahun lalu. Sebelumnya aku mau share atau curhat lah dikit dulu (ala mama dede). Aku sudah lama ngefans sama model terkenal asal Thailand bernama Mai Davikah Hoorne. Ah! Kan cewek? “Gina, dirimukan cewek, masa ngefans sama cewek. Gak salah tuh”. Ya kalau salah,tinggal disilang saja, *haha.

Malahan tuh, yang ngefans sama si cantik Davikah (kayak diriku) itu rata-rata cewek loh. Ya, aku sudah ngefans sama dia dari tahun 2013 sampai sekarang, *hm, dia itu cantik pakai perfect. Tinggi, putih, langsing, bulu matanya lentik senyumnya, W-A-H lah dan yang paling penting, alisnya guys. Asli, *haha. Fisik ok, apalagi bakat. Dia bisa modeling, akting (drama dan film), singing, dancing dan mancing (kalau mancing sih, bakatnya kak Al. Mancing emosi orang, *haha).

Ya, semua tentang dia, aku update terus (instagram dan tweeter. Aku juga bergabung sama DKC, alias Davikah Club singkatan dari nama fansnya Davi), always on, dan film-filmnya (sudah nonton ke bioskop dan ada yang dikoleksi), lagunya, fotonya, aku punya semuanya, kecuali dramanya ya, musti ke Thailand dulu kalau mau nonton dramanya *doang, kan ribet. Top lah. (Penasaran? Search saja di mbah google. Kalau gak, juga gak apa-apa. Aku gak rugi juga, kali).

Saking ngefansnya, aku sampai sering menghayal andai aku ketemu dia, makan di misstarcafe, menghayal main sama Davikah dan pola patek (nama anjingnya). Bahkan nih, saking gilanya, aku pernah menghayal menjadi dirinya. Ah? Memang gila si Ginong. Waduh, sudah kepanjangan ngebahas si kembaranku, Davikah. Sekarang aku mau bahas tentang si kembaran kamu (yang baca), kunti, *haha.

Jadi, pada malam itu, aku habis menonton video Davikah yang aku download, *haha, sering lihatin si doi, alhasil aku kebawa mimpi. Ya, seperti di khayalanku tadi. Aku dipeluk Davi, terus makan di misstarcafenya Davi, *hm, lezat. Di dalam mimpi, lagi asik makan, tiba-tiba ada yang kacau mimpi aku. (Ngomong masih didalam mimpi), “wah, aku baru tahu, kalau di area Misstarcafe, udaranya sejuk. Tapi kok bau kamboja ya?” itulah yang kukatakan.

Aku masih ingat betul. Semakin lama, baunya gak enak jadi bau bangkai, akhirnya aku terbangun. (Percaya gak percaya, terserah pada anda). “Wah, kacau. Waduh. Eh si*l*n loe. Kampr*t”. Aku sudah ngenes kali, betul, serius. Ini nih, kebiasaan. Masa saat, aku tidur nih ya, terus kubuka mata, ciluk ba. Ah, Tuhan. Ampunilah dosa hambamu ini. Kunti guys. Rupanya si kunti itu yang dari tadi ngembusi udara ke wajahku dan tubuhku. Ampun DJ, aku dikeloni sama dia. Mamak’ke saja gak segitu kali lah.

loading...

Mendengar tadi yang aku bilang kampr*t dan segala macam, kunti itu langsung main sulap dia. Hilang. “Dasar setan. Enak-enakan tidur, malah dikacau. Ku sikat habis nanti tuh kunti. Entah dari manalah tuh kunti, kok bisa nongol”. Aku mengomel sendiri.Karena aku tidur bareng Oi, (kalau mau tahu siapa Oi, baca “pengalaman pertama kak aldan” ada Oi-nya tuh!)kemudian aku tanya sama dia “Oi, siapa yang kacau?” kemudian Oi jawab hanya menggunakan bahasa isyarat.

Ternyata. “Wah. Musti dihajar nih. Kebiasaan”. Sebenarnya kata si Oi, dia mau bilang kalau aku dikeloni sama kunti, tapi si kunti ngapain si Oi. (Kayak ada semacamlah, sesuatu. Hanya jin lah yang tahu. Aku manusia, jadi belum paham. Nanti ya kalau aku sudah menjadi? Menjadi apa hayo. Menjadi dukun ya, bukan jin. Awas kalau ada yang jawab jin. Iya, awas. Awas, minggir dikit, aku mau lewat, misi, misi/permisi).

Oi diam membisu (kalau manusia ibarat diancam gitu lah). Makanya ketika aku dikacau kunti, Oi tak berdaya. “Awas ya loe. Kemana tuh dia” kalian penasaran gak, siapa dia? Ya “Bocah tua, gila” ya. Siapa? Su-sil. Si parah queen. Ratu keparahan. (Aku sudah banyak bicara tentang susil, dia bisa merubah wujud menjadi apapun “komunikasi dan melihat hantu” dan lainnya, banyak lagi, lupa aku, semoga dibaca) *haha, alhasil malam-malam, aku mencari si *prikitew. Kedapur, kamar mandi, ruang Tv, ruang tamu, ruang keluarga, ruang kali tambah bagi aljabar (itu, kurang Ginong. Kurang, kali, tambah, bagi, sama aljabar, itu mah matematika, nong) garasi, gudang, kekamar kak Al (kebetulan gak dikunci, *hahai, bisa sekalian nyolong dikit).

Kekamar Herin (*haha, kunci pintunya rusak. Seminggu yang lalu, belum diperbaiki, bisa double bonus nih. Nyolong lagi), kekamar bonyok/mama dan papa (*weitz, dikunci nih, jangan-jangan. Wah! Wow, otaknya dicuci dulu ya, jangan ngeres). Ah, capek. Semua gak ada. Kemudian aku masuk kamar, dan dikamar Oi sudah sedia tulisan (jin juga bisa nulis loh ya, aku gak tahu Oi sekolahnya dimana. Yang aku tahu, dia itu sudah bergelar prof, *haha) ditulisnya “Susil ada di pohon mangga” wah, bocah ini, tak telan hidup-hidup, baru tahu.

Malam-malam, aku keluar. Karena pohon manggaku tepat ada dihalaman rumah. Aku bukannya sombong ya, aku sama sekali gak takut. Sudah aku bilang, aku bosan melihat yang begituan. Apalagi Susil (no KTP, no Akte kelahiran). Ternyata guys, si Susil lagi nongkrong (duduk) dipohon mangga. Gak mungkinkan, aku malam-malam bising, hanya mau marahi Susil. Ya, alhasil aku lihatin saja dia dari bawah.

(Waktu itu, susil nyamar jadi kunti gak pandai make up guys. Jelek banget. Norak. Gak kayak di film-film). Aku pakai bahasa isyarat untuk memanggil Susil dengan melambaikan tangan menyuruh kesini. Susil gak juga datang. Karena aku palak habis, mimpi beauty malah nyatanya ketemu beast, akhirnya dirumahku seluruhnya aku taburi garam. Biarlah capek dan habis satu toples garam. Paling besok kena jitak.

Sebenarnya aku gak tega, tapi dia cari perkara. “Biar, dia gak bisa masuk. Rasain. Tidur sana loe dipohon, kayak monyet” *haha, ternyata Susil gak bisa masuk. Besok paginya Oi bilang kalau Susil minta maaf (percaya? Semoga tidak ya. Dia itu setan gila) dan aku pun karena kasihan, jadi aku maafkan. Kemudian aku bersihkan semua garam yang sudah aku tabur tadi malam.

Dan dia bisa masuk lagi. Dia (Susil) ketawa-ketawa dikamarku. Singkat cerita, sebagai rasa terima kasih, sebelum berangkat ngampus, dia kasih aku bungkusan. Ah, makanan. Yum. Sampai kampus “ah, lapar. Makan dari bontotan Susil dulu ah” aku lupa kalau Susil kunti itu jahil bin tilan (gila), sewaktu bungkusan dibuka “*jeng, jeng, jeng”. Ah? “Su-sill!” Aku menjerit gila. Cerita ini real no fake. Sekian

Fiolin Fradah

Sezgina F.S Fradah

Thank you for reading my stories. Thank you for liking my stories Thank you so much... Terimakasih,Thank you,Arigato gozaimasu, kamsahamnida,Xie-xie,Merci bien,Dankejewel,Matur nuwun,Tarimo kasih,Hatur nuhun,Bujur...

All post by:

Sezgina F.S Fradah has write 94 posts

loading...