Mimpi Petak Umpet

Cerita ini tentang adik kecilku, yang saat itu masih kelas 4 Sekolah Dasar. Saya masih di Sekolah Menengah, dan kakakku baru saja masuk ke sekolah kejuruan. Kakakku berada di sekolah penerbangan jadi dia jarang di rumah, sedangkan saya adalah anggota dari klub atletik sekolah jadi saya selalu lari pagi tiap hari.

Suatu hari di musim panas, saya bangun cepat seperti biasanya tapi adik kecilku, yang seharusnya masih tidur di bawah ranjangku ranjang kami ranjang susun, sudah tidak di kasurnya. Saya pikir dia ke kamar kecil, jadi saya keluar tanpa memikirkannya lagi. Tapi kemudian, saya menemukannya tertidur di lantai di luar kamar kami. Saya membangunkannya sebelum pergi lari pagi. Ketika aku memikirkannya lagi, aku baru sadar bahwa pintu kamar kami terkunci ketika saya keluar.

Dari hari itu dan seterusnya, adikku sering menghilang, dan tiap kali ditemukan sudah berada di suatu tempat dalam rumah kami. Walau dia tidak pernah keluar, dia selalu ditemukan bersembunyi di bawah meja, atau di sebuah tempat yang sempit di lemari. Kami sudah melupakan semua tentang itu ketika di malam tahun baru, kami berkumpul dan bercanda-tawa tentang kenangan-kenangan bersama keluarga kami. Ibu mulai bercerita, “Kalian semua pernah berjalan mimpi”.

Saya bahkan tidak ingat kapan saya pernah berjalan dalam mimpi dan saya juga tidak tahu kapan kakak ku pernah begitu. Tapi tiba-tiba saya mengingat sesuatu. Saya menanyakannya kepada kakak ku. “Saat kau masih kecil, pernahkah kau bermimpi mimpi yang sama terus-menerus? Mimpi tentang bermain petak umpet?”

“Yah. jika saya tidak salah ingat, saya pernah bermimpi seperti itu ketika masih di sekolah dasar”.
“Terus.. anak yang bersamamu, apakah dia juga mengajakmu untuk ikut dengannya?”.
“Maksudmu, ke pinggir sungai? Saya tidak pernah mengikutinya.” jawab kakak.
“Saya juga. Saya menolaknya. Tapi apakah kemudian dia mengatakan sesuatu? Seperti” tanyaku lagi.
“Baik, tidak apa-apa. Aku akan membawa adikmu nanti.” saya dan kakak serempak mengatakannya.

Saya rasa di saat itulah saya berhenti memimpikannya lagi. Bulan depan genap 13 tahun sejak adik kecil kami meninggal dunia. Suatu pagi di bulan Desember, saya pulang ke rumah dari lari pagi dan menemukan sebuah mobil ambulance terparkir di depan rumah kami. Ibu menemukan adikku di kasurnya, sudah terbujur kaku.

Saya tidak tahu apakah adik kecilku bermimpi mimpi yang sama dengan kami. Apakah dia mengikuti anak itu ke pinggir sungai? Atau apakah karena dia yang paling kecil di antara kami? Atau mungkinkah dia meninggal karena suatu penyakit yang belum diketahui. Saya memutuskan tidak memberitahu orangtuaku tentang hal ini. Ini adalah rahasia yang hanya saya dan kakak yang tahu.

loading...

Share This: