Misteri Hantu Leak Part-2

Tanpa buang waktu, Hana pergi ke arah berlawanan terus berlari, tanpa melihat ke belakang. “Aku harus mencari lemari” ucapku terengah engah, di jalan lorong ia menemukan tempat yang berisi lemari pakaian dan juga kasur. Tanpa buang-buang waktu, Hana masuk kedalam lemari pakaian sambil mematikan obor, pintu lemari itu ada sedikit lubang.

loading...

“Apa hantu leaknya sudah pergi?” pikirku sambil tetap melihat ke arah lubang dan memegang pintu lemari pakaian. Detak jantungnya berhembus cepat, seakan akan memekakkan telinganya. Lalu dari arah pintu terdengar suara ketukan sambil mendorong, sudah jelas itu suara kepala hantu leak yang membuka pintu. Hening sejenak.

Kulihat dari lubang itu leak mengendus kasur, lalu ia berhenti mengendus dan sekarang ia menatapku. Aku tahu dari sorot matanya kalau dia menatapku, matanya sungguh mengerikan. Ia terbang ke arah lemari sambil terus menatapku dari lubang itu, aku menjauh dari lubang tanpa memegang handel lemari, terpojok dengan sempitnya lemari, “Jangan bunuh aku” bisikku penuh ketakutan, lalu kudengar suara handle lemari di buka, pasti giginya yang membuka lemari itu.

Aku menyesal dalam hati kenapa kakek melakukan semua ini? kenapa hanya demi harta yang kecil nilainya justru sanggup mengorbankan keturunannya? aku terus menyesal walau aku tahu itu semua salah, aku tahu ini akhir hidupku. Lalu hantu leak itu sudah ada dihadapannya, lebih tepatnya diatasnya karena ia sendiri jongkok penuh ketakutan, lalu leak itu bertambah dekat. Sangat dekat dan “Argghh”.

“Kamu kenapa sayang?” tanya Sean sambil melirik diriku yang melotot kearahnya dengan wajah penuh ketakutan.
“Aku bertemu leak dimimpiku, ternyata leak itu adalah wanita yang kutemui di mall 2 hari yang lalu, kurasa ini hari terakhir kita mas”.
“Hari terakhir? apa maksudmu?” tanya Sean sambil memicingkan mata.
“huft. Jadi 3 benda itu adalah bagian tubuh leak, aku baru tahu sekarang setelah melihat lipstik yang ternyata jari tangan, dan pemetik gitar (pick) ternyata kuku kaki”.

“Apa? jadi yang ku bawa kepunyaan leak itu?” gumam Sean dengan jijik, setidaknya dia tidak muntah.
“Iya, kamu memang tidak bisa melihat hal itu mas. tapi aku yakin dengan semuanya ini, makanya kita harus ke tempat nenek”.
“Ya, kamu benar. Tapi sekarang aku sedang berpikir cara menakuti leak, kamu ada ide?”.
“Kurasa dengan obor sayang. Kita harus buat obor”.
“Oke, aku bakal cari batang bambu. kamu siapkan kain dan juga minyak tanah, kira-kira untuk sampai ke rumah nenekmu berapa lama?” tanyanya penuh harap.

“Aku tak tahu berapa lama, mungkin 4 jam” ucapku mengira-ngira, karena memang semenjak tumbuh remaja tidak pernah ke tempat itu lagi, cukuplah sekali ke tempat itu. Tapi dengan tersenyum getir menambahkan. mungkin dua. Akhirnya di hari terakhir itu, jam 4 pagi kami siap pergi ke rumah nenek, berharap ada buku atau diary yang mampu mengungkapkan cara membunuh hantu leak itu.

Aku menatap kosong ke arah pedesaan dari balik kaca mobil, tak memikirkan makanan karena selain tidak berselera makan, juga pastinya isi perutnya bakal habis di makan leak. Yah setidaknya ini cara terakhir dan paling pasrah sebelum di santap leak, sekali lagi biar leak gak suka isi jeroanku hehe.

“Kamu kenapa tersenyum sayang?” ujar suamiku dengan tampang sinis, jelas sekali dia tak yakin apa yang kupikirkan.
“mengingat kondisimu saat ini, aku berani bertaruh isi kantongku sekarang juga” ujarnya lagi sambil tersenyum mengejek. Aku yang mendengarnya tak berkata apa-apa, lagi pula buat apa memberitahu sesuatu yang akhirnya diselingi tawa? yah setidaknya skenario seperti itu yang ia tahu.

Kami berdua terdiam penuh konsentrasi, suamiku memikirkan jalanan yang penuh batu karena mereka sudah memasuki daerah terpencil, sementara aku hanya sibuk memikirkan akhir hidup dan sesaat aku terdiam melihat benda aneh di lubang tempat menaruh recehan seperti pada angkot. Setidaknya itulah yang ada dipikiranku, lalu kuambil yang ternyata kapur krem dengan bentuk agak aneh, ada lekuk seperti pada jari manis kaki.

“Ini benda leak” pikirku sambil membuka jendela mobil lalu membuang kapur yang sempat berubah menjadi jari tersebut. Sejenak Sean melirikku yang bertambah pucat “kamu kenapa?” tanyanya heran.
“Sepertinya yang kupegang tadi benda terakhir, sebaiknya kita cepat-cepat ke rumah nenek, kurasa hantu leak itu sedang mengarah ke sini”.
“Hmm, aku sebenarnya ingin berkata sesuatu padamu, sepertinya aku hanya berputar di rute yang sama” bisiknya pelan.
“Kamu bercanda kan?” kataku setengah tak percaya karena rutenya sudah kuberitahu.
“Aku gak bercanda, sepertinya ada yang aneh. Lebih baik aku tanya ke penduduk sini, tunggu sebentar”.

Suamiku keluar mencari warga desa untuk mencari rumah peninggalan nenek, terlihat ia berhasil menemukan tukang kayu panggul dan orang itu menunjuk lurus dan membisikkan sesuatu. Beberapa menit kemudian ia tiba di mobil dengan tersenyum masam.

“Penduduk sini bilang jika orang asing sering tersasar di daerah ini, kecuali ada seseorang yang pernah atau memiliki ikatan di kampung ini”.
“Baiklah, aku yang nyetir kalau begitu, mudah-mudahan aku masih ingat jalannya” jawabku sambil berpindah tempat duduk, mobil terus berjalan menyusuri kawasan hutan, hanya ada jalan berbatu yang cukup untuk satu kendaraan, kami tiba di sebuah rumah yang hancur sebagian.

“Ini dia tempatnya” ucap Hana lalu menambahkan. “Sekarang jam 6, kita harus cepat menemukan diary itu”.
“Sebaiknya aku membawa 2 obor,” ucap Sean sambil berlari ke mobil membawa obor yang telah di beri minyak lalu dinyalakan.

kami pun menyusuri rumah yang sudah tak berpenghuni, dan entah dari mana datangnya, angin kencang menerpa mukaku dengan sangat ganas. Di ikuti suara cekikikan tawa yang memekakkan telinga, aku dan suamiku lalu langsung memasuki rumah itu.

“Cepatlah kita tak punya waktu” ujar resah suamiku sambil mengawasi sekeliling tempat, aku yang pergi ke tempat yang penuh buku lalu mengobrak abrik buku tersebut, tak sengaja menjatuhkan buku yang dilapisi cap darah. “Sepertinya ini bukunya” bisikku senang, lalu mulai membuka satu persatu kertas itu yang berisi perjalanan hidup nenek dan saat-saat ia tahu pesugihan suaminya.

Semuanya tertulis di buku ini, buku ini lebih dari sekedar diary, ini adalah jiwa nenek. Pikirku, aku beralih kebagian tengah buku yang ternyata terdapat robekan, ternyata robekan itu sama dengan kertas yang selama ini aku baca, aku dengan tidak sabaran membaca kalimat yang agak acak, entah karena di tulis sambil menggigil atau *gusrakk.

“Hana, lari dari sini” teriak Sean yang telah di tabrak hantu leak. obor yang dipegangnya terpental ke arah tumpukan kertas sehingga membakar seisi rumah. “Tidak” aku menjerit melihat suamiku yang menatap nanar padaku. Seakan-akan menyuruhku pergi dan bergumam tanpa kata yang seakan akan hendak mengatakan. “KESELAMATANMU ADALAH SEGALANYA”.

Hantu leak itu sudah menggigit jantungnya lalu dengan buas menyantap isi perutnya. Sungguh kejam, seharusnya aku saja yang mati. Aku berlari sambil membawa diary itu, ingin rasanya aku mati mengikuti jejak suamiku, tapi dari matanya kutahu ia ingin aku tetap hidup.

“AKU BERJANJI AKAN MENJAGAMU”. Itulah kata suamiku, dengan berurai air mata aku berlari ke arah mobil dan kulihat dibelakang hantu leak itu terbang mengejarku, dengan tawanya yang membuat bulu kuduk merinding, derau angin bertambah cepat sedangkan pintu mobil tak bisa terbuka. “Ayolah buka!” aku semakin cemas, leak itu tinggal beberapa meter lagi kearahku, dengan rambut panjang dan mulut penuh darah ia tertawa “hi.. hi.. hi”.

Aku mengeluarkan seluruh tenagaku hingga akhirnya pintu mobil terbuka, lalu aku langsung masuk dan mengunci pintu tepat sebelum leak itu menabrak kaca pintu mobil. “Syukurlah untung sudah di tutup kacanya,” ujarku tapi kemudian dalam hati. Pintu samping belum di tutup, aku melihat leak itu yang sepertinya tahu jalan pikiranku, lalu ia terbang tepat memutar kaca jendela untuk menutup mobil, tapi ia sudah seperempat masuk.

Kepala leak ini kuat sekali, lalu kunyalakan obor sambil menyodorkan tepat ke wajahnya, lalu hantu leak itu terbang menjauh, kesempatan itu tak kuabaikan. Langsung saja kututup kaca yang telah berlapis darah dan langsung tancap gas. Diperjalanan menuju pulang aku melihat leak masih terbang di belakang mobil, kesempatan itu kugunakan untuk menarik gigi, aku langsung berhenti dan memundurkan mobil secepat mungkin.

Lalu hantu leak itu tertabrak kaca belakang trus bergelinding di atas mobil menuju bawah mobil, aku memundurkan mobil lagi. “Matilah kau Leak!” ucapku dengan penuh kemarahan lalu melindas kepala leak itu, setidaknya dia sudah mati, pikirku sambil terus memacu mobil, diperjalanan pulang aku membaca kembali diary itu. Membaca bait terakhir yang tertulis bahwa leak hanya akan mati dengan pisau, dan pisau ini terletak di rumah anaknya, sengaja ia kubur di ruang tamu tepat di bawah lampu.

“Jadi di rumah ibuku ada pisau itu” seandainya pisau itu dari dulu kutemukan, mungkin 3 nyawa manusia telah tertolong, bisikku dengan penuh air mata. “Mas maafkan aku”. Akhirnya setengah 12 malam aku tiba di rumah dengan membawa 7 obor, semua pintu dan jendela aku kunci, tepat di ruang tamu aku membuat lubang disekeliling untuk tempat 6 obor, lalu kunyalakan sambil membongkar ubin.

“Ayolah cepat” cemasku sambil menggali lebih dalam berharap bertemu pisau itu, lalu tak terasa saat di gali seperti menimpa suatu mirip besi. Lalu kukorek yang ternyata lebih mirip pedang, kemudian ku baca sekali lagi diary itu, yang tertulis, “potonglah organ leak itu agar membebaskan jiwa”.

“Kenapa ada baris kosong di akhir kalimat ini?” lalu ucapan itu tak dicernanya, karena leak itu terbang ke arah jendela, memecahkan kaca dan terus menuju kearahku. Aku yang melihatnya, tak merasa takut. Saat leak mengarah kearahku lalu ku tebas organ di bawah kepalanya, kepala itu jatuh sambil menatapku. Mata itu terlihat berkaca-kaca dan tersenyum melihatku, seakan-akan apa yang dikatakan diary itu benar. Jiwa leak ini telah bebas, lalu kulihat di sudut matanya seperti menatap erat padaku, seakan-akan mengatakan satu kata yang mustahil di ucapkan.

Karena di mata itu tersirat kata “MAAF” dan kemudian akhirnya leak itu sirna seiring dentang jam menunjuk jam 12. Dua hari kemudian, sekarang aku telah bebas dan mengunjungi rumah nenek kembali, sekaligus membawa jasad suamiku dan mengembalikan diary itu, setiba di sana. Jasad suamiku ku makamkan di samping makam nenek di bantu penduduk setempat, sebelum di makamkan aku sempat mengambil kaca pembesar di kantong celana almarhum suamiku.

Lalu sebelum aku kembalikan diary itu, aku membuka bagian terakhir diary itu. Tapi tiba-tiba foto seorang wanita terjatuh, tertulis di sana bernama Magdalena, itu memang nama nenek. Tapi setelah melihat wajah itu bukankah ini wajah wanita itu? bagaimana mungkin? kemudian, kuarahkan kaca pembesar di baris kosong tersebut. Lalu paru paruku seakan tersedot keluar, karena leak yang dibunuh adalah nenek ku sendiri.

Share This: