Misteri Hantu Leak

Gelisah Hana saat melihat suaminya masih tertidur pulas dan mencoba membangunkannya. Nama suamiku Sean, ia adalah seorang perantau dari kalimantan. Aku membangunkannya karena ada berita buruk mengenai kakak ku yang seluruh organnya hilang. Sean berkedip berkali-kali, kemudian melihat wajah istrinya yang terlihat ketakutan. “kamu kenapa sayang? jangan bilang masalah hantu leak lagi, aku tak percaya akan mitos itu” ujar Sean.

Aku yang mendengar kata sindirannya hanya menutup mata, “kakak ku. Kakak meninggal sayang, aku takut kalau giliranku tiba. Apa yang tertulis di secarik kertas ini benar” ujar Hana sejenak memberikan kertas berisi tulisan. Suamiku yang membacanya terlihat menyelidik setiap bait kata.

“Aku masih bingung dengan tulisan ini, aku tahu ini milik nenekmu, tapi aku rasa ada rahasia yang ingin dia ungkapkan” Sean masih mencerna tulisan tersebut.
“Aku tak ingin mati” Hana menahan kesedihan yang selama ini ia tahan.

Sejenak Sean terdiam melihatku lalu berkata, “aku akan memecahkan misteri ini, ini janjiku padamu sayang. Aku rasa aku mulai mempercayai tulisan nenekmu, di sini tertulis 3 benda keramat yang tidak boleh di sentuh, jika benda pertama telah di pegang atau di lihat, maka 2 benda lainnya akan segera menyusul” ujarnya kemudian memberikan kertas itu padaku.

“Aku tak tahu kenapa kakek-ku tega melakukan pesugihan, tapi derita yang akan di tanggung cucunya, kenapa ia tega melakukan semua ini?” kemarahan meliputinya bagai kobaran api.
“Sudahlah, yang sudah terjadi biarlah terjadi, setidaknya nenekmu memberitahu kita semua, walaupun melalui secarik kertas, tapi kurasa masih ada tulisan yang tertinggal, kenapa kita tidak ke rumah nenekmu saja?”.
“Rumah nenekku terpencil, dulu kupernah ke sana dan tak pernah lagi datang, hawanya terlalu menyeramkan, aku bahkan tak ingat wajah kakek dan nenek ku”.
“Baiklah kalau kamu tidak mau, aku akan melihat jenazah kakakmu besok, kau mau ikut denganku?” kata Sean penuh harap.

Aku yang mendengar merasa ketakutan, aku sebenarnya ingin melihat wajah kakakku di ruang otopsi, tapi setelah melihat jenazah kakak tertuaku 2 tahun lalu. Hanya tinggal kepala dan seluruh organ tubuhnya menghilang membutuhkan waktu lama untuk menghilangkan shock, teringat akan kematian yang akan kulalui.

“Aku sebenarnya ingin kesana mas, tapi aku masih trauma dengan saudara perempuanku dulu, aku.. aku hanya” lagi-lagi Aku tak dapat menahan tangisku, seakan wajah masa lalu sulit untuk di lupakan. Kemudian tak terasa tangan yang hangat memegang erat tanganku,
“Ya, kurasa kau tak perlu ke sana, biarlah aku yang mengambil jenazah kakakmu dan langsung menguburkannya. Kamu tak usah khawatir, sekarang kamu istirahat saja jangan terlalu memikirkan masalah hantu leak.” ujar Sean tersenyum sendu.

Aku pun menuruti sarannya dan tertidur pulas. Keesokan harinya suamiku pergi ke rumah sakit, sedangkan aku membawa kertas kemudian pergi ke mall membeli makanan untuk keperluan sebulan. Aku pergi dengan membawa mobil, di sana aku membeli sarden, mie instan, dan makanan yang tahan untuk sebulan. Setelah lelah berbelanja aku pun pergi ke toilet wanita, hendak mencuci muka walaupun firasatku agak buruk.

Air kran membasahi tanganku, lalu kubasuh muka sambil mengeluarkan tisu untuk membersihkan sisa air, entah kenapa bulu kuduk langsung berdiri walaupun tak ada orang sama sekali. Aku melihat kaca kemudian ada sekelebat bayang putih yang melintas, seketika itu juga kulihat ke belakang tapi tak ada apapun, tapi lampu toilet itu berkedip 3 kali, agak lama menurutku. Lalu kubulatkan tekad, yakinlah ini hanya halusinasi. Pikirku mencoba menenangkan.

Aku kembali menghadap wastafel tapi ada sebuah lipstik di samping kran air. Seingatku tak ada benda itu di sini. Lalu kuambil lipstik itu walau benakku menegaskan untuk tidak mengambilnya, tapi tanganku tetap tidak mau berhenti, seakan akan lipstik itu seperti magnet bagi tanganku. Aku pegang pelan tapi bayang putih itu kembali ada, ku tutup mata dan kurasa ada tangan yang memegang pundak ku. Aku tak berani untuk melihat.

“Maaf, mbak kenapa?” tanya seseorang wanita berpakaian putih. Mataku yang masih terkejut melihat ke arahnya dan perempuan itu tersenyum, mengingatkanku pada seorang yang sangat dekat tapi aku tak tahu siapa.

“Owh, gak kenapa-napa mbak, hanya saja tadi saya tidak melihat lipstik di sini” kataku mengarahkan jari telunjuk ke arah lipstik. Wanita itu sejenak melihat lipstik itu kemudian tersenyum.
“Lipstik itu bukan milik saya juga mbak, lebih baik mba ambil saja lipstiknya, sayang jika tidak di ambil” ujar wanita berambut panjang itu lagi, ucapannya serasa membuai pikiranku, lalu ku ambil lipstik itu dan juga barang yang kubeli, lalu keluar dari toilet itu.

Sebelum keluar aku sempat tersenyum padanya dan dia ikut tersenyum, tapi saat ku berjalan keluar aku merasa ia menyeringai menatapku. Tapi aku tak mempedulikannya lalu langsung balik pulang. Setiba di rumah ternyata suamiku telah berada di ruang tamu sambil menonton tv lalu ia berkata.

“Aku tadi sudah menguburkan jenazah kakakmu, aku lihat semuanya. Kurasa matinya memang sangat tidak wajar” ujarnya memasang tampang menyelidik juga takut. Aku menatap suamiku sesaat lalu berkata, “Jadi kamu percaya kan?”.
“Ya, aku percaya setelah ku lihat dengan mataku sendiri, kurasa aku harus membongkar isi kertas itu, mana kertasnya?”.
“Ada di tasku, tapi aku mandi dulu ya mas”.

Aku pun berjalan ke lantai atas tempat kamar mandi berada, sekalian mencoba lipstik itu pikirku. Sementara itu Sean pergi ke kamar mencari kertas di dalam tas setelah istrinya masuk ke kamar mandi. “Aku harus memecahkan teka teki ini, aku yakin ada jalan keluarnya,” matanya mencari seisi tas dan menemukan apa yang di cari. Matanya memperhatikan isi tulisan sambil bersandar di tempat tidur.

“Di sini tertulis bahwa hantu leak akan mencari tumbalnya setelah 3 benda diketemukan, tapi benda itu tidak disebutkan. yang jadi persoalan mengapa benda itu tidak disebutkan? ini aneh. lalu ada baris kosong di akhir tulisan, di sini tertulis. 3 hari, lalu selebihnya kosong. eh tunggu dulu” Sean menyipitkan mata ke arah baris kosong tersebut lalu melotot dan ternganga.

“Ternyata baris kosong itu ada tulisannya! Aku harus kasih tau istriku dulu, tapi tidak sekarang karena harus membeli kaca pembesar asli, pasti ada yang nenek Hana sembunyikan dari baris kosong ini”. Setengah jam kemudian Hana keluar kamar mandi sambil memegang lipstik.

“Aku mau coba lipstiknya, sepertinya bagus” ujarnya sambil memperhatikan lipstik tersebut kemudian pergi ke wastafel tepat di sebelah kamar mandi. Setelah membuka penutup lipstik tiba-tiba hawa dingin singgah di belakang leher, tapi tidak ia pedulikan lalu mengoles lipstik tepat di bibirnya, sebelum menyentuh bibir dari arah kaca terlihat lipstik itu berubah bentuk, karena yang dipegangnya sekarang adalah jari tangan.

Hana berteriak histeris sambil membuang jari tersebut ke lantai yang sempat menggelitik bibirnya lalu terpejam ketakutan meringkuk di bawah. Sean yang mendengar jeritan istrinya kemudian berlari keluar kamar dan menemukan istrinya berjongkok sambil menutup mata. “Kamu kenapa?” panggil Sean sambil memeluk istrinya “aku di sini sayang, jelaskan ada apa?” ujarnya sambil mengelus pundak istrinya.

“itu” bisik Hana penuh ketakutan.
“itu apa? sudah jangan takut, cerita saja sebenarnya ada apa?”.
“lipstik. Jari” gumam Hana histeris.

Suamiku memicingkan mata mencari lipstik, lalu dari sudut matanya ia melihat lipstik yang teronggok di lantai. “ini cuma lipstik, kamu lihat kan?” ujar Sean meyakinkan. “Buang.. Buang Lipstiknya!” jerit Hana menutup mukanya, Sean lalu menuruti perkataan istrinya, ia mengambil lipstik lalu pergi keluar sambil mencari minyak tanah untuk membakar lipstik itu. Di kejauhan sesosok wanita menyaksikan jari tangan miliknya di bakar.

Keesokan harinya Sean pergi ke pasar mencari kaca pembesar asli, lumayan agak mahal, tapi semua itu terbayar setelah dia pulang. Sebelum membeli kaca pembesar, Sean sempat mengambil pemetik gitar yang ada di jalan entah untuk apa, karena sudah banyak pemetik gitar tapi tangannya bagai tersedot untuk mengambil benda itu.

“Ma, sepertinya kita bakalan tahu teka teki tulisan ini, papa sudah membeli kaca pembesar untuk membaca baris kosong di akhir kalimat 3 hari itu”. Dengan mata menyipit Hana mencoba menerka apa yang tertulis di kertas itu, tapi karena tidak tahu lalu berkata, “apa isinya?”.

“Sebentar, aku arahkan kaca pembesar ke arah kertas ini dulu” jelasnya sambil menggerakkan ke arah baris kosong, namun kata yang muncul. Perjanjian Kematian. Sudah jelas apa isinya, Tiga Hari Perjanjian Kematian. “Ma, sepertinya kita harus ke rumah nenekmu secepatnya, sebelum semua terlambat” dengan mimik campuran antara iba dan kepedihan Sean memberitahu apa yang tertulis di situ, lalu istrinya hanya berkata.

“Mungkin ini memang takdirku mas” Hana berkata pilu, “aku yakin jika aku mati maka hantu leak itu akan pergi, biarlah aku yang mati”.
“kamu jangan berkata begitu! Kamu tahu kalau aku sayang kamu. Aku berjanji akan menjagamu, kalau kamu hanya pasrah seperti itu, kamu bukan istriku. Pasti ada jalan” ujar Sean penuh kemarahan. Hana berkaca-kaca mendengar ucapan suaminya, kata-katanya bagai embun di pagi hari, bagai tetes hujan di musim kemarau.

“Aku bangga menjadi istrimu mas, walaupun aku mati besok, walaupun aku ditakdirkan tidak bersama kamu. Tapi aku akan tetap mencintaimu” gumamnya sambil memeluk Sean erat seakan akan ini hari terakhir mereka berdua. “Kamu harus kuat, aku yakin pasti ada cara mencegah hantu leak membunuhmu, pasti nenekmu masih menyimpan diary, aku yakin ini hanya robekan” ujarnya seraya menggenggam kertas tersebut.

“Aku tak tahu soal itu, tapi kita berdua memang seharusnya ke sana. Aku sebenarnya gak mau ketempat angker tersebut, tapi siapa tahu yang kamu bilang benar mas.” ujarku tersenyum sendu. Kami pun sejenak melupakan esok hari, Sean mengambil gitar sambil memetik senar gitar di tengah malam itu, tapi Hana tahu apa yang di pegang suaminya, itu bukanlah pemetik senar gitar tetapi kuku jari kaki.

Malam itu dilalui Hana dengan penuh ketakutan, tapi ia menyembunyikan dari suaminya, lalu mereka berdua pun tertidur. Di mimpinya, Hana berada di suatu tempat, hampir mirip perpustakaan. Di kegelapan malam itu ia membawa obor dari bambu lalu menyalakannya, ia menyusuri lorong-lorong yang panjang dan gelap.

Hanya diterangi obor yang dipegangnya, ia menyusuri lorong itu, lalu dikejauhan ia mendengar suara berisik, suara seperti orang sedang memakan sesuatu. Lalu dihampirilah asal suara itu, dengan obornya ia memindai kegelapan dan tepat didepannya, sesosok wanita tanpa badan, hanya kepala dan isi perut sedang memakan seseorang, seseorang yang tak lain adalah kakaknya.

loading...

“Argh.. Hantu leak” jeritnya keras keras berharap seseorang menolongnya. Wanita tanpa badan yang mendengar jeritan itu lalu berhenti memakan organ tubuh tersebut. Lalu menengok ke arah Hana yang masih pucat pasi, di sudut bibirnya penuh dengan darah, gigi penuh taring dan matanya melotot sehingga terlihat jelas mata kucingnya yang berwarna merah. Aku yang meneranginya dengan obor sangat jelas melihat mata itu, ini adalah wanita yang bertemu dengannya. Bersambung ke Misteri Hantu Leak Part 2.

Share This: