Misteri Hantu Parakang (2)

“Tapi kata orang-orang, nenek Ida itu ke mesjid bukan untuk beribadah tapi untuk menutupi kesalahan nya” kata Yusuf sambil menatap paman Saiful.
“Yah sudah, terserah kamu saja. Tapi ingat hanya Allah swt, yang maha mengetahui segalanya, jadi paman minta sama Yusuf jangan pernah ngawur kalau berbicara. Nanti di dengar lagi sama nenek Ida, pasti akan menjadi masalah besar. Lagipula kita tidak punya bukti yang kuat, jadi kita tidak bisa menuduh nenek Ida sembarangan. Parakang itu ada yang baik dan ada yang jahat” kata paman Saiful menasihati Yusuf.

Tiba-tiba nek Ida datang menghampiri Yusuf dan paman Saiful.

“Assalamualaikum!”.
“Wa’alaikumsalam”.
“Wah, anak siapa ini nak Saipul?” tanya nenek Ida dengan penasaran.
“Oh ini keponakan saya, dia baru sebulan tinggal di sini nenek Ida namanya Yusuf. Dia tinggal bersama saya. Yusuf, ayo salam sama nenek Ida!” jawab paman Saiful sambil menyuruh Yusuf menyalami nenek Ida.

loading...

Dengan rasa ketakutan Yusuf pun menyalam nenek Ida dengan memandang kearah lain, lalu segera berjalan ke masjid. Itulah pertama kalinya Yusuf melihat nenek Ida dari dekat, dan Yusuf merasa bahwa nenekk Ida hampir mirip dengan orang tua yang Yusuf pernah lihat saat pertama kali datang ke kampung paman Saiful. Yusuf masih sering mengingat saat ia pertama kali datang ke kampung paman Saiful dan ia masih merasa heran dan bingung mengapa ia bisa melihat nenek tua itu, sedangkan ayahnya tidak bisa melihat apa yang ia lihat. Itu adalah pengalaman yang paling aneh yang pernah di alami Yusuf dan sampai sekarang hal itu masih menjadi tanda tanya untuknya.

Itulah pengalaman masa kecil Yusuf yang masih menghantui pikirannya sampai sekarang. Tapi Yusuf tidak pernah menceritakan tentang hantu parakang kepada teman-teman atau sahabatnya, malahan Yusuf berpikir bahwa di zaman sekarang hantu itu sudah tidak berwujud. Sudah 2 tahun Yusuf sekolah di kota dan belum pernah pulang ke kampungnya. Yusuf merasa sangat rindu dengan kampung halamannya, dan ia selalu mengingat sawah-sawah di kampungnya yang sangat indah. Biasanya, setiap libur semester ayah dan ibunya yang datang menjenguk Yusuf, tapi kali ini beda karena Yusuf sendiri yang akan pulang ke kampungnya dengan membawa dua orang sahabatnya. Yang membuat Yusuf bertambah senang lagi karena sebentar lagi ia akan mempunyai adik setelah sekian lama menantikan adik.

Setelah sekian lama duduk di dalam bus, akhirnya mereka sampai juga di terminal desa Bone, tepat jam 09.00 malam. Karena hari sudah larut malam, Yusuf dan sahabat-sahabatnya terpaksa berjalan kaki sampai di rumah Yusuf karena kendaraan di malam hari susah untuk di cari. Perjalanan dari terminal ke rumah Yusuf kira-kira mengambil waktu 1 jam lebih. Di tengah perjalanan Yusuf banyak bercerita tentang kampungnya yang aman, damai dan sejahtera jauh dari kota. Yang ada hanya sawah, hutan, hewan ternak dan lain-lain lagi.

Yang paling menyenangkan lagi di tengah hutan ada air terjun yang sangat indah. Mendengar cerita Yusuf, Samsul dan Andi merasa tidak sabar untuk sampai ke kampung Yusuf, apalagi ini pertama kali Samsul dan Andi pergi ke kampung yang jauh dari kota. Dengan rasa tidak sabar untuk menikmati pemandangan-pemandangan indah yang ada di kampung Yusuf.
“Yusuf, di kampung kamu ada setan nggak?” tanya Samsul.
“Woi! Kamu ini ada-ada saja Sam, zaman sekarang mana ada setan. Hehe” jawab Andi sambil mentertawakan Samsul.

“Ada” jawab Yusuf dengan suara yang agak keras.
“Apa?” tanya Samsul dan Andi serentak.
“iya, macam-macam setan ada” tambah si Yusuf.
“ih, yang benar! kamu ini Yusuf bikin takut aja deh” Suara Andi dengan agak tipis dengan wajah ketakutan.
“iya ada itu hantunya, arhh lari” Yusuf menakut-nakuti sahabatnya.
“arhh..” teriak Andi dan Samsul.
“sudah-sudah, aku hanya iseng aja kok, hehe” Yusuf ketawa terbahak-bahak.

Mereka berjalan agak cepat karena Yusuf merasa agak seram, hanya suara hentakan kaki mereka yang kedengaran. Tiba-tiba Yusuf berhenti, Samsul dan Andi pun ikut berhenti.

“Ada apa Yusuf kok berhenti? Kamu ini ada-ada saja deh” tanya Samsul .
“Iya Yusuf ada apa sih? Kok bengong?”, sapa Andi.
“hushh diam, kamu dengar nggak apa yang aku dengar” tambah Yusuf.
“Memangnya kamu dengar apa sih? Dari tadi aku nggak dengar apa-apa” ujar Andi.
“Iya, aku tau kamu hanya mau nakut-nakuti kami kan?” tanya Samsul yang merasa Yusuf hanya menakut-nakuti saja.

“nggak! kali ini aku tidak main-main, aku mendengar sesuatu” kata Yusuf.
“ih Yusuf kamu dengar apa-an sih? Jangan main-main loh kita hanya bertiga di sini” Andi tambah merasa ketakutan.
“Aku mendengar suara bayi menangis” bulu kuduk Yusuf semakin merinding .
“Bayi menangis, kata ibuku, kalau ada suara bayi menangis yang terdengar, berarti” Samsul tambah mengharukan suasana.
“Berarti, PONTIANAK.. ARHH”.

Mereka bertiga berlari secepat mungkin, tanpa menoleh kebelakang. Setelah selesai berlari akhirnya kampung Yusuf kelihatan dari jauh. Lampu-lampu rumah sudah terlihat dengan jelas, Yusuf merasa gembira karena sudah dua tahun Yusuf tidak pulang ke kampung. Sambil berjalan Andi memuji –muji kampung Yusuf dan dia merasa liburan nya kali ini paling bermakna dalam hidupnya. Selalunya kalau libur semester Andi pergi ke luar negri seperti Korea, Jepang, China, Amerika dan banyak lagi. Sambil berjalan Samsul melihat ke kiri dan ke kanan, tiba-tiba Samsul melihat ada sesuatu, lalu bertanya kepada Yusuf.

“Yusuf kok ada kuburan di kawasan sini?” tanya Samsul.
“aku jugak nggak tau, dua tahun yang lalu di kawasan ini hanya ada pohon pisang dan rumput ilalang” jawab Yusuf dengan rasa penasaran.
“Yusuf rumah kamu di mana sih? Aku sudah capek nih” tanya Andi yang sedang lelah karena lari.
“Nah, itu dia rumahku! Alhamdulillah akhirnya sampai juga”.

Sesampainya Yusuf dan sahabatnya di rumah, Yusuf mengajak sahabatnya mandi dan kemudian baru makan. Ibu dan Ayah Yusuf sangat senang karena anak sulungnya pulang liburan di kampungnya tahun ini. Karena tentu saja ayah Yusuf tidak bisa melawat Yusuf ke kota karena ayah Yusuf harus menjaga ibu Yusuf yang sedang hamil anak kedua dan diperkirakan adik Yusuf adalah perempuan. Yusuf sangat senang mendengar berita tersebut karena Yusuf sudah lama ingin mempunyai adik perempuan.

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, sudah dua minggu mereka berada di kampung Yusuf. Yusuf membawa sahabat-sahabatnya berjalan-jalan keliling sawah, mandi di air terjun, memancing dan membantu ayahnya menanam padi di sawah. Samsul dan Andi merasa sangat senang dan merasa bahwa liburan kali ini merupakan libur yang paling seru yang pernah mereka alami. Yusuf masih bertanya-tanya tentang kuburan yang ada di pinggir jalan. Lalu ia pun menanyakan hal ini kepada Ibunya.

“Ibu, seingat Yusuf dua tahun yang lalu di pinggir jalan di sebelah kiri sana hanya ada pohon-pohon pisang dan rumput ilalang. Kok, sekarang ada banyak kuburan? Ada kuburan anak-anak dan juga orang tua”.
“Oh iya, Ibu lupa memberitahu kamu, dua tahun yang lalu kematian di kampung kita meningkat, termasuk bibi kamu yang sedang hamil, Bibi kamu meninggal karena di makan parakang. Saat bibi kamu mau melahirkan, paman kamu pergi mencari dukun. Dan ketika dukun tersebut sampai di rumah, dukun tersebut langsung menutup pintu kamar selama berjam-jam. Paman mu menjadi curiga, lalu paman mu mendobrak pintu kamar, dan apa yang paling menyedihkan lagi bibi kamu meninggal dalam berlumur darah, dan bayi bibi kamu berada di tangan dukun itu. Bayi itu sudah tidak bernyawa lagi. Dan kematian bibi kamu pun menjadi buah bibir orang kampung di sini. Anak-anak yang masih balita pun banyak yang menjadi mangsa parakang” jelas Ibu Yusuf tentang peristiwa yang terjadi selama dua tahun yang lalu.

“jadi Bu, siapa nama Dukun itu” tanya Yusuf.
“Nenek Ida” Ibu menjawab sejelas-jelasnya.
“Apa?” Yusuf kaget mendengar nama Nenek Ida.
“Iya, Nenek Ida! Memangnya kamu kenal?” tanya Ibu Yusuf dengan rasa penasaran.
“Tidak Bu, hanya bertanya saja” Yusuf sengaja tidak memberitahu Ibunya karena Yusuf takut kalau-kalau Ibunya khawatir tentang hantu parakang.

Mulai saat itu Yusuf lebih berhati-hati karena yang tahu nenek Ida itu parakang hanya Yusuf. Yusuf banyak tau tentang nenek Ida melalui paman Saiful. Tapi kata Paman Saiful bisa percaya bisa tidak. Tapi Yusuf percaya bahwa nenek Ida itu Parakang. Pada suatu hari saat Yusuf dan sahabat-sahabatnya berjalan-jalan keliling kampung, Yusuf bertemu dengan nenek Ida yang sedang berjalan sendiri. Yusuf pun memberanikan diri untuk menyapanya.

“Woi, perakang mengapa kau tidak henti-hentinya mengganggu kampungku. Gara-gara kau penduduk di kampung ini jadi tidak aman” Ujar Yusuf. Tapi nenek Ida tidak perduli dengan apa yang di katakan oleh Yusuf, ia terus saja berjalan tanpa menghiraukan keberadaan Yusuf dan sahabatnya. Sahabat-sahabat Yusuf tidak menggetahui apa pun tentang parakang, Yusuf sengaja tidak ingin memberitahukan pada mereka karena Yusuf tidak ingin sahabatnya merasa takut tinggal dikampungnya.

Tiga hari sebelum Yusuf kembali ke kota, pada malam hari ayah Yusuf ingin pergi ke kedai yang agak jauh dari rumahnya. kira-kira kalau berjalan mengambil waktu 20 menit. Ayah Yusuf membawa Samsul dan Andi yang masih ingin merasakan suasana kampung di waktu malam jadi hanya Yusuf dan ibu yang berada di rumah. Tiba-tiba ibunya menjerit “tolong” Yusuf terus berlari ke arah si ibu, dan ternyata si ibu mau melahirkan. Yusuf mulai panik dan tak tau mau berbuat apa-apa?

“Apa pun yang terjadi, Yusuf tidak akan tinggalkan ibu” Yusuf mulai berteriak. “tolong.. tolong.. tolong.. tolong”. Tiba-tiba ada suara datang dari depan

“Assalamualaikum”.

Yusuf sangat terkejut melihat siapa yang datang. Rupa-rupanya nenek ida.

“cucu.. ibu kamu mau melahirkan biar nenek yang tolong” ujar nenek Ida sambil mendekat. “jangan, kalau nenek mendekat aku akan berteriak” Yusuf sangat marah sambil memegang ibunya. Nenek ida langsung menolak Yusuf dan menarik ibunya ke dalam kamar. Yusuf pun lari ke dapur mengambil parang dan terus menuju ke kamar, tetapi kamar terkunci, Yusuf berusaha membukanya, tiba-tiba Samsul, Andi dan ayah Yusuf datang lalu Yusuf memberitau ayahnya di dalam ada nenek ida dan ibunya.

Yusuf, Samsul, Andi dan ayahnya mendobrak pintu sampai terbuka, tapi sudah terlambat ibu Yusuf sudah tidak tertolong dan nenek ida masih di tempat kejadian dan menganggap semua ini adalah musibah. parang yang Yusuf pegang langsung dilemparkan ke arah nenek ida dan terkena perut nenek Ida dan akhirnya nenek Ida pun mati. Apa yang Yusuf takutkan terjadi dan masa depan Yusuf hancur karena Yusuf kena hukuman gantung sampai mati karena telah membunuh nenek Ida.

Share This: