Misteri Kolam Lily

Kolam Lily (Lily Pond) merupakan urban legend yang menyeramkan dari Singapura. Menceritakan kejadian misterius yang menimpa sebuah keluarga terkait suatu kolam, yang berada di suatu perkampungan di Singapura. Pada tahun 1979, 2 orang anak hilang di sekitar kolam bunga lily atau biasa di sebut Kolam Lily. Mereka terakhir kali terlihat berjalan di depan kolam itu oleh teman sekelasnya. Sejak itu mereka hilang entah kemana. Lokasi kolam itu sendiri berada 300 meter dari Woody Lodge di Kampong Lorong Buang kok.

Adalah Nyonya Teng seorang janda dan merupakan ibu dari kedua anak yang hilang itu. Setelah mendengar kabar kehilangan 2 orang anaknya, dia sangat sedih dan pada sore di hari yang sama pula Nyonya Teng pergi mencari di dekat kolam lily itu dengan raut wajah yang putus asa. Berharap mendapati kembali kedua anaknya yang hilang. Tetapi seperti nasib kedua anak itu, Nyonya Teng juga tak pernah kembali ke rumahnya sejak itu.

loading...

Esoknya pada pagi hari seorang tetangga lalu menemukan gaun putih di dalam kolam tersebut, tapi tak menemukan satu pun sosok pemiliknya. Kabar ini dengan cepat menyebar di seluruh kampung, lalu semua warga menjadi ketakutan dengan insiden aneh yang terjadi belakangan ini. Sekarang, tak satu pun orang berani lewat di sekitar kolam lily itu.

Suatu hari, ada 3 orang siswa politeknik berjalan-jalan dan melihat-lihat ke tempat dimana Kolam Lily berada. Mereka bermain dan bercanda disana hingga larut malam, salah satu dari mereka mencoba bersantai dengan memasukkan kakinya ke kolam tersebut. Tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang menarik turun kakinya dari dalam air. Kedua temannya terkejut dan lalu berusaha keras menariknya keluar secepatnya dari kolam itu.

Beberapa saat mereka berusaha sekuat tenaga sebelum akhirnya dapat menyelamatkan temannya itu. Di kakinya, dia melihat ada bekas cakaran panjang seperti 5 jari yang membuat kakinya berdarah. Yang lebih mengerikan, siswa yang jatuh ke dalam kolam itu menceritakan bahwa ada seorang wanita paruh baya yang berpakaian putih bersama-sama dengan temannya membantu menariknya keluar dari kolam. Mendengar itu, kedua temannya cuma dapat saling bertatapan dan tak berkata apa-apa namun wajah mereka menyiratkan ketakutan.

Kejadian aneh yang menimpa ketiga siswa Politeknik itu kemudian diketahui oleh warga kampung disana. Warga kampung lalu beranggapan bahwa mungkin wanita berpakaian putih itu adalah Nyonya Teng yang hilang tempo hari, mereka pun percaya ada ‘sesuatu yang jahat’ di dalam kolam itu. Mereka akhirnya menutup jalan dan menyegel kolam itu.

Walau begitu, kejadian-kejadian aneh tidak berhenti terjadi meski kolam tersebut telah disegel. Beberapa warga disana bersaksi melihat roh Nyonya Teng muncul di dalam hutan di dekat sana, sesaat setelah matahari terbenam. Mereka mengatakan Nyonya Teng kelihatan bingung dan rambutnya selalu basah, begitu menurut warga yang pernah melihat penampakannya. Kampung itu memang masih dikelilingi dengan hutan-hutan yang lebat.

Sejak cerita itu menyebar, tak seorang pun berani keluar ketika malam hari tiba. Namun cerita hantu Nyonya Teng kian banyak dan makin bertambah, anak-anak kecil menangis tiba-tiba tanpa sebab. Beberapa anak yang cukup dewasa mengatakan melihat wanita berpakaian putih dengan rambut yang basah mendadak muncul disamping mereka dan menanyakan dimana rumahnya, beberapa anak yang lain yang tak melihat penampakan itu justru merasa seperti ada yang bernafas lembut dilehernya dan mendengar bisikan-bisikan “Dimana saya? Dimana rumahku?”.

Penampakan demi penampakan beserta kabar menakutkan ini kian di percaya warga di kampung tersebut. Sehingga suatu malam mereka memutuskan untuk berkumpul membahas masalah ini. Mereka akhirnya sepakat memanggil seorang paranormal dari Ipoh. Paranormal ini lalu menyelidiki tiap daerah di kampung itu. Setelah berkeliling, dia mengatakan bahwa satu dari tiga bagian roh Nyonya Teng telah hilang. Nyonya Teng mungkin kehilangan bagian itu ketika mengalami sesuatu yang mengerikan, tapi tak seorang pun tahu apa yang dihadapi Nyonya Teng ketika itu dan bagaimana dia kehilangan bagian rohnya tersebut.

Paranormal tadi menambahkan bahwa tanpa roh yang lengkap, Nyonya Teng tak dapat pergi ke alam setelah kematian atau biasa di sebut alam baka. Dan karena rohnya tidak lengkap, roh itu tak mungkin bisa pulang dan akan bingung menentukan arah pulang ke rumahnya. Dengan kata lain, roh yang tidak lengkap akan menjadi penghuni suatu tempat, biasanya tempat itu adalah tempat dimana dia meninggal. Warga lalu merasa mungkin telah melakukan kesalahan dengan menutup jalan menuju ke kolam lily itu dan menyegelnya terlalu cepat, tapi semua itu sudah terlambat.

Warga lalu menjadi khawatir karena mungkin arwah Nyonya Teng sudah tak mengenali siapa-siapa dan dengan membabi-buta bergerak menakuti-nakuti warga sekitar. Warga kampung lalu meminta paranormal itu untuk berbuat sesuatu. Setelah berpikir beberapa lama, paranormal itu mendapatkan ide. Dia lalu melakukan ritual di depan rumah Nyonya Teng 7 hari berturut-turut dan menyarankan seorang anak gadis yang masih perawan yang lahir di tahun Ular atau Kuda untuk melukis wajah Nyonya Teng di depan pintu rumahnya.

Hal itu dilakukan agar jika ketika roh Nyonya Teng melihat lukisan itu, dia dapat mengingat rumahnya. Sementara warga yang lain bahkan memperbaiki ulang dan merias kembali rumah Nyonya Teng serapi mungkin. Sejatinya Nyonya Teng berencana memiliki sesuatu dengan suaminya dan keluar dari kampungnya itu. Hal itu hampir saja terwujud, ketika suaminya pulang dari Taiwan. Tragisnya, suaminya lalu meninggal dalam kecelakaan mobil. Impian dan rencana Nyonya Teng akhirnya tak terwujud sampai sekarang.

Setelah ritual demi ritual selesai dan lukisannya telah digambar di pintu rumah Nyonya Teng, sejak itu tak ada lagi kabar penampakan roh Nyonya Teng yang dilaporkan. Warga Kampong Lorong Buang Kok kembali hidup sedia kala. Sekarang, saat ini, sebuah sofa yang disumbangkan oleh warga kampung ketika itu masih tersimpan di depan rumah Nyonya Teng. Mereka berpikir agar Nyonya Teng dapat beristirahat disana ketika dia menemukan rumahnya. Warga yang baik hati ini bahkan menyediakan semangkuk nasi dengan beberapa lauk pauk diatasnya dan diletakkan di depan rumah tersebut. Di jalan masuk kampung itu, beberapa pengemudi yang kebetulan melewati daerah tersebut masih biasa berdoa di altar yang disediakan di samping jalannya.

Hari ini, misteri itu sudah hampir terlupakan. Hanya beberapa orang tua warga di sana yang masih mengingatnya. Rumah, lukisan Nyonya Teng, dan sofa pemberian warga pun sudah ditinggalkan usang begitu saja. Kolam Lily sudah lama tersegel dan cuma segelintir orang yang mengetahui keberadaan kolam itu, bahwa pernah terjadi peristiwa yang tak dapat diterima oleh akal sehat disana sebelumnya.

Share This: