Misteri Makmum di Masjid Tua

Ini kisah diangkat dari kisah teman ayahku yang sudah almarhum. Sewaktu dia masih muda dulu, ya untuk sekedar berbagi cerita, pada teman semua dan untuk mengenangnya. Memang banyak sekali cerita mistik yang sering ayah ceritakan dan ini salah satunya, dengan judul misteri makmum di masjid tua. Sewaktu muda dulu ayahku termasuk orang pekerja keras, selain mengajar, kadang-kadang dia terima pesanan mebel, kayak lemari, kursi, atau meja sebagai tambahan untuk mencukupi keluarga.

Suatu hari ada pelanggan yang mau bikin lemari, tapi dia minta pengerjaan mebel di rumahnya, karena mungkin gak mau bolak-balik mengambil barang, masalahnya kayu dan bahan bakunya ada di rumahnya, tanpa pikir panjang bapakku mengiyakannya.

“Oke pa, besok saya bersama teman-teman ke rumah bapak” ayahku memberi janji.
“Oke pa saya tunggu” si pemesan menjawab.
“Ya sudah saya pamit pulang dulu pa” si pemesan itupun pulang tanpa basa-basi.

Keesokan harinya ayahku menemui kedua temannya, wawan dan agus untuk ngasih tahu ada kerjaan, tapi harus dikerjakan di rumah si pemesan yang kampungnya agak lumayan jauh dipelosok desa. Setelah berbincang-bincang, akhirnya kedua temannya pun menyetujuinya. Setelah sepakat akhirnya mereka pun berangkat, menuju rumah si pemesan itu tadi.

Sesampainya disana ayah dan kedua temannya pun langsung mengerjakan pekerjaan mereka. Waktu dzuhur pun tiba sembari istirahat ayahku shalat, meninggalkan kedua temannya menuju masjid yang lumayan agak jauh dari rumah tempat dia bekerja. Anehnya masjid itu nampak tua dan kotor banget berantakan gak terurus, jendelanya yang lapuk, kacanya pecah, dindingnya kotor bekas air merambat seperti pulau, langit-langit atap pada bolong karena mungkin gentengnya yang bocor, debu-debu menempel seperti tak pernah di sapu.

Karena mungkin merasa agak risih mau shalat pun kayaknya bakalan gak *afdol kalau gak bersih, akhirnya ayahku pun membawa sapu, menyapu dan membersihkannya dulu, setelah bersih baru dia pun shalat, gantian sama temannya pada shalat satu-persatu di masjid tua itu. Setelah selesai shalat, lalu ayahku pun kembali bekerja, selagi kerja tiba-tiba teman ayahku datang.

“Pa masjidnya bagus ya resik, bersih terus orang yang bareng berjamaah tadi sama bapak ramah-ramah”.
“Ah kamu bercanda”.
“Aku shalat sendiri gak berjamaah, lagian mesjidnya *butut, kotor, malahan aku yang bersihkan” ayahku membalas obrolan.
“Wah! Bapa yang bercanda tadi saya lihat sendiri dibelakang bapa banyak yang berjamaah dan bapa imamnya” dengan penuh keyakinan si Wawan pun menjelaskan penglihatannya.

Lalu ayahku pun mengerutkan kedua alisnya dan menggelengkan kepala.

“Gak Wan, sama sekali, aku shalat sendirian”.

Lalu keduanya pun saling bertatapan dan sesekali melihat ke arah masjid tua tadi, sambil menunggu si Agus yang belum selesai shalat. Gak lama kemudian si agus datang.

“Ada apa kok kelihatan pada bingung” si agus merasa aneh melihat ayahku dan si wawan.
“Gak Gus, aku mau tanya apa kamu lihat tadi bapak shalat berjamaah, apa gak?” ayahku bertanya.
“Kok bapa tanya gitu? Kan bapa sendiri juga tahu tadi bapa berjamaah, saya juga lihat bapa jadi imam, malahan saat saya sama si Wawan mau wudhu juga mereka baru pada keluar. Benar gak Wan?” si Agus balik tanya ke si wawan.
“Iya benar begitu pa, aku gak bohong kan pa?” si wawan memutar pertanyaan kepada ayahku.

Ayahku gak menjawab, dia hanya mengerutkan keningnya sambil menoleh ke arah masjid tua itu. Benar-benar gak masuk akal.

“Apa saya yang salah lihat kali ya?” ayahku bergumam.
“Iya mungkin kali pa, mana mungkin siang bolong ada setan, *hehe” kedua temannya tertawa.

Dengan hati yang masih gak yakin, ayahku mencoba untuk percaya dengan teman-temannya, walau dalam pikirannya, bertanya “apa iya tadi ada yang bermakmum dibelakangku? Kalaupun ada, kenapa gak ada yang mengaminin sama sekali atau suara apalah doa, ataupun wujud yang terlihat disaat salam terakhir shalat. Gak mungkin, aku benar-benar gak lihat satupun” begitu terus dalam pikiran ayahku. Gak terasa, akhirnya tiba pada shalat Ashar.

“Gus kamu saja duluan shalat nanti bapa sama si wawan nyusul”.
“Iya pa”.

Si Agus pun beranjak pergi membawa sarung, setibanya di masjid tua, si agus melihat banyak orang didalam masjid. “Duh di masjid banyak orang pasti mau berjamaah” pikir si Agus. Karena gak mau ketinggalan berjamaah si Agus segera ambil wudhu, setelah selesai wudhu si Agus langsung bergegas menuju masjid. Belum juga melangkah masuk masjid, si Agus merasa heran, kok gak ada orang satupun. Oh mungkin berjamaahnya ketinggalan, mereka sudah pada pulang, tapi kalu mereka pulang pasti lewat tempat wudhu, kan gak ada jalan lain lagi, aneh, kemana ya? Dan akhirnya si Agus melaksanakan shalat, sendirian.

Belum juga shalatnya selesai tiba-tiba ada suara yang membuka pintu, *kreet, dug pintu menutup lagi, otak si agus bertanya siapa ya? Tubuhnya gemetaran, keringat dingin membasahi keningnya, begitu selesai shalat si Agus melihat kebelakang, begitu melihat gak ada siapa-siapa si Agus langsung kocar-kacir lari.

“Ada apa gus?” ayahku bertanya.
“Gak, gak ada apa-apa, pengen buru-buru saja, *hehe”.
“Oh, kirain dikejar setan” si wawan ikut nimbrung.

Si Agus diam saja gak menjawab.

“Ya sudah bapa sama si Wawan shalat dulu ya” ayahku pamitan kepada si Agus.
“Iya-iya pa silahkan”.
“Kamu kenapa Gus?”.
“Gak apa-apa pa”.

loading...

Akhirnya ayahku sama si Wawan bergegas shalat. Setelah shalat merekapun kembali bekerja.

“Pa sampai jam berapa kita kerja?” si Agus tanya.
“Habis maghrib saja, tanggung kalau shalat maghrib di rumah kan gak akan keburu” ayahku menjawab.

Ya sudah sebentar lagi maghrib kita beres-beres saja dulu, setelah beres kita ke masjid tua itu dan shalat, lalu pulang. Gak lama setelah beres-beres, waktunya shalat maghrib pun tiba. Mereka bertiga pun bergegas menuju masjid.

“Sepi banget ya gak ada orang” ayahku bergumam.
“Iya pada kemana ya” biasanya banyak, wawan dan Agus pun ikut heran.

Setelah mereka berwudhu mereka pun masuk ke dalam masjid tua tersebut.

“Silahkan pa, bapa saja jadi imam” kata si Wawan.
“Iya pa” si Agus mengiyakan.

Akhirnya ayahku jadi imam, begitu rakaat kedua setelah ayahku membaca Al Fatihah, tiba-tiba dibelakang si Agus dan si Wawan ada yang mengucap “aamiin”. Jelas sekali suara makmum banyak laki-laki, si Wawan dan si Agus merasa ada yang gak beres nih dibelakang. Tubuh mereka gemetaran, apa lagi si Agus yang dari shalat ashar juga merasakan keganjilan masjid tua itu. Ayahku pun juga sempat heran, kenapa makmum dua orang tapi kedengerannya banyak banget. Apa makmumnya bertambah, ayahku jadi gak khusuk shalat, pikirannya terus guncang.

Saat di rakaat akhir, tiba-tiba ada yang membuka pintu, *kreet. 3 orang yang lagi shalat ini benar-benar gak ada yang khusuk shalat, semuanya ingin cepat selesai shalat, begitu salam kanan dan salam kiri mengakhiri shalat, betapa kagetnya mereka, di dalam masjid tua ini gak ada makmum selain mereka bertiga.

“Tenang-tenang gak usah panik, kita gak usah lari, tenang saja” ayahku menenangkan suasana, mereka memang ada dan kita gak usah kaget. Bukannya Allah juga menciptakan makhluk selain kita, ayo kita keluar dari masjid tua ini dan pulang dengan langkah yang tenang dan damai. Mereka gak akan mengejar kita, percayalah kita lebih mulia dari pada mereka. Akhirnya ketiga orang itu, termasuk ayahku pun pulang dengan banyak pertanyaan yang masih menjadi misteri selama shalat di masjid tua tersebut.

Ira Sulistiowati

Ira Sulistiowati

Jalani hidup ini penuh dengan tawakal.

All post by:

Ira Sulistiowati has write 55 posts

Please vote Misteri Makmum di Masjid Tua
Misteri Makmum di Masjid Tua
Rate this post