Misteri Nama Fradah Part 4 (The End)

Cerita sebelumnya misteri nama Fradah part 3. Hai sobat KCH, langsung aku sambung ya. Pada saat tibalah Fadlan (anak ke dua buyutku) menikahi salah satu gadis desa. Dan sebelum mereka menikah, alm kakekku sudah berpesan tetap berikan nama Fradah kepada anaknya kelak. Beberapa bulan kemudian, istri si Fadlan hamil dan sembilan bulan kemudian ia pun bakal melahirkan.

Setelah melahirkan,anak mereka kasih nama X Fradah. Dan anak itu tumbuh dengan sehat dan bijak. Singkat cerita Fahmi dan Fajar (adik kakekku) juga akan menikah, sedangkan kakekku masih betah menjomblo karena ia masih mengurus lahan perkebunan yang di berikan oleh alm sang ayah. Setelah kedua saudaranya menikah, beberapa bulan kemudian istri Fajar hamil dan sembilan bulan berlalu mereka pun melahirkan.

Fajar ini memiliki istri orang batak bermarga Siregar. Jadi istrinya mau kalau sang anak di beri marga juga oleh orang tuanya (istri) tanpa ada nama Fradah di belakang. Karena sebelumnya, keluarga (istri Fajar) telah memberikan marga kepada Fajar sebelum menikah, nama marganya Sianturi, tapi tetap menggunakan nama Fradah. Karena sang istri (Fajar) merasa nama Fradah sedikit mengganggu, akhirnya ia putuskan untuk menghapus nama Fradah di anak pertama mereka.

Padahal Fajar sudah memberi tahu, tapi istrinya tetap *kekeh. Jadilah nama anak mereka Xy bla bla Sianturi. Setelah memberikan nama anak tersebut, sebulan kemudian anak mereka meninggal dunia. Tanpa penyakit, tanpa di bunuh atau apapun. Alias meninggal mendadak. Tak berapa lama kemudian, istri Fajar hamil lagi dan memiliki seorang anak, walau sudah di peringatkan Fajar tetap harus mencantum nama Fradah, tapi istrinya tetap tidak mau dan mengganggap kematian anak pertama mereka karena sudah ajal.

Setelah anak keduanya lahir, kemudian di beri nama Hj Kl Sianturi. Hj Kl memang hidup sampai umur 8 tahun, tapi semasa hidupnya, si Hj Kl mengalami gangguan mental. Kemudian di anak ketiga mereka, di kasih nama Zx Fradah Sianturi, dan anak mereka pun hidup sampai dewasa, tanpa gangguan mental, sehat dan tidak cacat.

Kemudian Fahmi, kisah Fahmi hampir sama dengan Fajar. Tapi kalau di kehidupan Fahmi yang tidak percaya bukan sang istri melainkan dirinya sendiri. Saat istrinya Fahmi hamil anak pertama, ia sudah berniat tidak memberikan nama Fradah di nama anaknya kelak. Tak selang berapa lama, istri Fahmi terpeleset dari kamar mandi dan menyebabkan bayi mereka keguguran.

Di hamil yang kedua, anaknya memang hidup tapi hanya sampai 3 tahun. Anaknya meninggal karena loncat dari gedung saat mau mengambil mainannya yang jatuh. (Di anaknya yang kedua juga tidak ada nama Fradah) dan di anak yang ketiga, Fahmi mau buat di nama anaknya itu ada nama Fradahnya, tapi ia masih tidak percaya dengan semua ini. Akhirnya setelah anak yang ketiga lahir dan di beri nama Xw tanpa ada Fradahnya dan setahun kemudian anaknya meninggal tanpa ada penyakit, tanpa ada apapun.

Dari situ kemudian Fahmi sadar, kalaulah nama keluarganya itu harus ada. Sedangkan kakekku, sebelum menikah beliau sudah belajar banyak dari ketiga saudaranya itu. Sehingga ketika nenekku melahirkan anak, kakek langsung memberikan nama anak-anaknya yang di depan dengan menggunakan huruf F sebagai simbol Fander (nama ayah) dan Fuji (namanya sendiri) kemudian di belakang di letakkan nama Fradah (nama leluhur)/nama yang di syaratkan.

Setelah anak kakek pada dewasa semua dan pada mau menikah, kakek selalu titip pesan agar tetap mencantumkan nama Fradah di belakang nama anak-anak mereka kelak. Kemudian satu persatu anak kakek termaksud papaku menikah dan saat mereka semua mempunyai anak pertama, tidak ada yang bermasalah karena nama anak mereka di cantumkan kata Fradah, tapi saat pak Felix ingin punya anak kedua dan tidak mencantumkan nama Fradah entah apa sebabnya, anaknya kemudian hidup dalam keadaan cacat dan akhirnya meninggal.

Begitulah seterusnya dengan saudara-saudara papa yang masih gak percaya dengan nama Fradah. Anak-anak mereka selain cacat fisik dan cacat mental, anak mereka juga meninggal akibat tidak menggunakan nama Fradah. Papaku juga pernah mengalaminya. Sebelum aku lahir, papa punya seorang anak laki-laki sesudah kak Al yang bernama Muhammad Daylan Firlana tanpa menggunakan kata Fradah dan alhasil alm kakakku Daylan meninggal dunia saat umur setahun.

Sekarang mereka semua baru percaya 100 persen bahwa apabila tidak menggunakan nama Fradah, bisa membuat anak mereka lain bahkan meninggal dunia. Mendengar cerita dari kek To’i, aku bergidik ngeri dan aku juga masih di hantui rasa bingung. Tapi aku tak terlalu ambil pusing dan aku dapat mengambil kesimpulan dari sejarah nama Fradah dan kenapa nama Fradah bisa memakan korban yaitu karena leluhurku ingin namanya selalu di ingat, di kenang dan agar ia selalu dekat dengan anak, cucu, cicit dan seterusnya sampai kiamat nanti. Entah sudah ke generasi yang keberapa.

loading...

Dan leluhurku akan marah besar bila ada yang tidak menggunakan namanya dan mengajak orang (yang tidak menggunakan namanya) untuk ikut bersamanya. Leluhurku hanya ingin mengatakan kalau dia ada selalu bersama kita, disini, di hati. Nama keluarga di buat agar kita sebagai keluarganya mengingat dan terus meneruskan nama tersebut. Karena pasti ada sebab kenapa sebuah nama dari generasi ke generasi harus di turunkan. Sekian ceritaku. Dan bagi kalian yang masih gak percaya tentang nama keluarga ini, itu ada pada diri masing-masing dan aku sangat menghargainya. Terima kasih.

Fiolin Fradah

Sezgina Fradah

Thank you for reading my stories. Thank you for liking my stories Thank you so much... Terimakasih,Thank you,Arigato gozaimasu, kamsahamnida,Xie-xie,Merci bien,Dankejewel,Matur nuwun,Tarimo kasih,Hatur nuhun,Bujur...

All post by:

Sezgina Fradah has write 94 posts