Misteri si Kaya dan Pebisnis Biasa Part 2

Cerita sebelumnya misteri si kaya dan pebisnis biasa. Sebelum 30 karyawan pergi dari pabrik abah. Kejadian malam itu mungkin ada hubungannya. Teluh adalah sejenis cahaya misteri yang terkenal untuk menyantet atau mengguna-guna atau merusak sesuatu yang tidak di sukai oleh si pengirim. Padahal malam itu cerah, banyak bintang, abah dan ibu pikir itu hanya bintang jatuh. Tapi setelah di teliti ternyata bukan cahaya biasa.

Itulah yang membuat ibuku ketakutan dan menarik abah untuk segera masuk ke rumah. Selang beberapa hari, minggu, bulan, ada saja masalah yang menimpa pabrik dan seisi rumah. Maklum, pabrik yang lumayan besar dan rumah abah bergandengan menjadi 1. Sehingga huru-hara rumah dan pabrik seakan kompak menyatu. Di tambah lagi abah semakin hari semakin tidak bersemangat mengurus pabrik.

Anak keduanya yang selalu *mengeret hartanya menjadi beban pikiran. Serta semua anak menopang hidup dari hasil jerih payahnya, tanpa ada yang membantunya kecuali suamiku. Sehingga membuat iri adik-adik iparku. Karena aku dan suamiku lebih di sayang sama abah. Akhirnya tiba waktunya, dimana tidak ada seorang karyawan pun yang membantu kami.

Hingga kembali ke nol atau di kerjakan hanya keluarga saja. Hari-hari pun berlalu, rajah demi rajah (sejenis kertas/jimat bertulisan arab) pun di temukan di beberapa titik. Karena tidak tau artinya kami pun pergi ke narasumber 3 (seorang kyai/guru ngajiku) beliau juga pandai namun tertutup. Tulisan itu dalam bahasa arab/tulisan terbaca “Allah bada” kemudian di artikan oleh narasumber artinya “menghancurkan”.

loading...

Siapa yang memendam ini? Dan apa tujuannya? Dan apa salah kami kepadanya? Itulah yang terlintas di pikiran, kemudian terjawab. Tujuannya adalah menghancurkan bisnis abah, karena tidak mau di saingi dan pelakunya adalah tidak salah lagi “si kaya”. Ah antara kesal bercampur sedih, mengapa sahabat abah sendiri yang melakukannya? Kemudian narasumber menyuruh kami untuk membuangnya jauh atau di hanyutkan ke sungai.

Hari pun berlalu, namun masih ada yang menjanggal. Adik iparku akhirnya pergi ke narasumber pertama untuk menerawang dari jauh kondisi pabrik abah. Ternyata apa yang terjadi, masih ada banyak sekali timbunan-tinbunan rajah liar. Dan yang paling susah di ambil adalah yang jenis air. Rajah ini di kirim dari dukun bali di pimpin oleh si ayahnya pengambil dompet tempo lalu.

Segala daya upaya untuk membersihkan tidak ada yang berhasil, terkecuali kami harus sabar dan ikhtiar setiap seminggu 3 kali membaca doa bersama di pabrik belakang rumah. Dan hanya di lakukan hubungan sedarah berjumlah 7, tapi anak abah hanya 3 laki-laki dan 2 perempuan. Mana bisa anak perempuan sanggup berdoa di waktu tengah malam? Akhirnya hanya di laksanakan anak laki-laki saja sambil mengundang kerabat yang masih berhubungan sedarah.

Tiap minggu di jalani tapi makin lama makin membosankan, kata anak-anak abah. Akhirnya berdoa sendiri-sendiri di rumah masing-masing, dan air yang untuk penangkal sihir air di siramkan keesokan paginya. Namun masih tidak berjalan mulus, hingga suatu hari ada 3 burung hantu bersemayam di pabrik selama 5 hari. Tapi abah cuek tak peduli. Bulan ramadhan pun tiba, pabrik masih berjalan tertatih-tatih seperti biasa, seiring abah sakit-sakitan.

Tapi di bulan ramadhan abah masih terbilang segar, karena setiap subuh selalu mengumandangkan adzan dan masih mengikuti tarawih seperti biasa. Tapi malam itu, seminggu di bulan ramadhan selesai menelepon temannya untuk mengambil ikan di kolam pabrik. Dan aku beserta adik-adik ipar dan suamiku baru pulang dari bukber (buka bersama) di PB. Lalu hendak tidur di rumah masing-masing. Jam 10 malam, tiba-tiba pintu di gedor-gedor oleh adik iparku yang masih bujang.

Dia memberi kabar bahwa abah pingsan dan menyuruh kami membawa ke RS. Tapi di tengah perjalanan menuju RS, abah menghembuskan nafas terakhir dan meninggalkan kami selama-lamanya. Saya yang berjaga di rumah karena fadly masih terlelap, saat itu merasa khawatir. Dan telepon berdering, calling dari sepupu iparku bahwa innalillahi wainna illaihi raajiunn. Belum saya menjawab dan menutup telepon, suara ramai dan para warga keluar rumah semua.

Lalu mba sumi tetangga sebelahku mengetuk pintu dan membukanya lalu sembari menangis memelukku, saat itu saya masih syok dalam keadaan berdiri bengong. Tapi pelukannya membuatku tersadar lalu kami pun menangis bersama di ruang gelap, karena belum sempat ku hidupkan. Akhirnya ku bangunkan anakku dan ku gendong untuk keluar dan pergi ke rumah abah, yang tidak jauh dari rumahku.

Di perjalanan sudah ramai warga sambil melihatku setengah berlari. Hingga waktu malam itu berasa pengap dan hening, hingga waktu sahur dan pagi pun mulai. Di saat memandikan jenazah abah, anak-anaknya terheran karena wajahnya biru serta lehernya hitam seperti ada bekas cekikan, bersambung ke misteri si kaya dan pebisnis biasa part 3.

loading...
Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 116 posts