Mitos Legenda Pantai Parangtritis

Parangtritis merupakan sebuah tempat pariwisata yang berupa pantai pesisir Samudra Hindia yang terletak kurang lebih 25 kilometer ke sebelah selatan kota Yogyakarta. Parangtritis merupakan objek wisata yang cukup terkenal di yogyakarta, mempunyai keunikan pemandangan ombak yang besar dan adanya gunung-gunung pasir di sekitar pantai. Parangtritis merupakan pantai yang landai, dengan bukit berbatu, pesisir dan berpasir putih serta pemandangan bukit kapur di sebelah utara pantai.

Kepercayaan masyarakat setempat tentang legenda Nyi Roro Kidul juga dengan sendirinya melahirkan pesona tersendiri. Hampir setiap malam jumat kliwon dan selasa kliwon, para pengunjung maupun nelayan setempat melakukan upacara ritual di pantai tersebut. Acara ritual diwarnai pelarungan sesajen dan kembang warna-warni ke laut. Puncak acara ritual biasanya terjadi pada malam 1 Suro, diamna para nelayan meminta keselamatan dan kemurahan rezeki dari penguasa bumi dan langit.

Penamaan Parangtritis memiliki sebuah cerita sejarah tersendiri. Konon, seseorang bernama Dipokusumo yang merupakan pelarian dari Kerajaan Majapahit datang ke daerah ini beratus-ratus tahun lalu untuk melakukan semedi. Ketika melihat tetesan-tetesan air yang mengalir dari celah batu karang, ia pun menamai daerah ini menjadi parangtritis, dari kata parang (batu) dan tumaritis (tetesan air). Sehingga, pantai tersebut diberi nama dengan sebutan Parangtritis.

loading...

Pantai Parangtritis merupakan pantai yang penuh mitos, diyakini merupakan perwujudan dari kesatuan trimurti yang terdiri dari Gunung Merapi, Kraton Yogyakarta dan Parangtritis. Pantai ini juga diyakini sebagai tempat bertemunya Panembahan Senopati dengan Sunan Kalijaga sesaat setelah selesai menjalani pertapaan.

Dalam pertemuan itu, Senopati diingatkan agar tetap rendah hati sebagai penguasa meskipun memiliki kesaktian. Labuhan yang merupakan tradisi tahunan Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat digelar dalam waktu setahun sekali. Surakso yang juga merupakan juru kunci atau sesepuh di wilayah Parangtritis mengatakan, labuhan merupakan tradisi yang digelar tiap tahun dan delapan tahunan (sewindu) dalam penanggalan Jawa.

Labuhan delapan tahunan digelar dengan melabuh sejumlah pakaian milik Sri Sultan Hamengku Buwono, berupa jarik dan kemben yang ditaruh di atas empat ancak (tempat sesaji terbuat dari bambu ukuran satu meter persegi).

Share This: