Nala Sahabatku : Indigo (3)

Well, kayaknya awal pagi ini nggak buruk buruk amat. Nala udah janji kalau hari ini bakal nemenin aku sekolah. Seperti biasa, aku mulai pagiku dengan biasa saja. Sarapan dengan beberapa potong roti isi sosis dan sawi, cokelat dan madu dan susu juga meisis. Sebelum berangkat, aku suka minum susu hangat. Supaya menambah energi. Ok. I’m ready to go to school now!. “paman!! Vara berangkat dulu ke sekolah! Susu paman ada di samping TV!” teriakku sambil berlari menuju halaman depan karena aku tau ini bakal telat.

“Nala! Ayo dong! Aku nyaris telat, nih!!” teriakku kembali sambil berlari menuju keluar hutan. “ya” balasnya dan langsung ke depan hutan. Karena aku telah menunggunya disitu. Wah, betapa bedanya anak ini! Walaupun tadi malam amat berbeda, tapi sekarang ini dia seperti anak anak gaul jaman sekarang! Rambutnya di kepang kedepan dengan bibir menggunakan lib-gloss, dia juga memakai dress berwarna merah muda polkadot, Dan high-heels berwarna putih cemerlang.

“wow! Darimana kamu dapat semua ini?” tanyaku kagum. “kamu nggak tau, jam 10 kamu udah tidur tapi aku, ayah dan ibuku masih berbincang bincang. Ibu dan ayahku menghadiahkanku semua ini” jawabnya bahagia. Tanpa basa basi lagi, aku langsung mengeluarkan hp dan segera menelpon taksi untuk menjemputku. Jika aku telat 1 menit saja, pelajaran pertamaku adalah ‘omelan’ dari guru BP yang terkenal kejam di sekolahku.

“kemana saja kamu?” tanya guruku ketika aku memasuki kelas telat 10 menit. “nng, agak telat bu, saya lupa menyetel alarm” jawabku. “baiklah. Tempat dudukmu ibu ganti sebagai hukuman kamu telat” jawab ibu guru. Kali ini, aku bisa melihat wajah murid murid yang bahagia karena tempat dudukku dipindahkan. Terutama Dissy. Teman sebangkuku yang kelihatannya amat senang kepergianku darinya.

Mereka tau aku akan dipindahkan ke bangku kosong yang terletak paling belakang. “silakan kamu duduk di sebelah bangku Iva” owh, nyatanya aku salah. Aku beruntung sekali duduk dengannya. Ia terkenal pendiam tapi pintar. Langsung aku duduk di sebelahnya. “hai” sapaku kepadanya. Kelihatannya dia ketakutan duduk denganku.

“… hai juga” jawabnya tanpa menengok kepadaku. Aku langsung berbisik pada Nala. “Nal, kamu berasa ada yang aneh?” tanyaku pada Nala yang duduk di atas mejaku. “Iva juga indigo seperti kamu, kayaknya dia takut karena ada aku” jawabnya. Aku langsung tergagap. Bingung. Kan, Nala sudah dandan cantik gini? Kok, ditakutin sih? “mmm, aneh. Kan kamu sudah cantik…” tanyaku pada Nala.

“karena kamu memang indigo dari kecil. Jadi wujudku seperti ini ya kamu nggak takut. Di matanya, aku adalah jasad hidup yang hanya kelihatan tengkoraknya karena lama di dalam air. Iva baru pemula indigo. Kalau kamu, memang indigo dari kecil. Jadi, mudah bagi kamu berkenalan dengan hantu hantu lain. Tidak seperti Iva. Ia hanya bisa melihat hantu atas jasadnya yang mati” jawab Nala.

Sekarang aku mengerti. Artinya, dalam darahku mengalir darah indigo asli. Padahal selama ini aku tidak pernah mengetahuinya. Terima kasih, Nala.

loading...

Share This: