Nala Sahabatku : Penyesalan Terakhir (5)

Karena Iva tinggal di rumah sendiri, ku ajak dia ke rumahku untuk menginap beberapa hari. Via pun aku ajak. Tidak peduli semarah apa Nala nanti. Pokoknya, semua ini harus tuntas!!! Dendam itu tidak menyelesaikan masalah!. “welcome to my home sweet home!” teriakku pada Via dan Iva. “orang tua kamu yang meninggal, namanya siapa aja? Hellen Karne Ravzokaidry dan Mcverrt Boihanda Marley bukan?” aku langsung tergagap mendengar kata kata Via.

loading...

Karena itu semua benar. “iya, nggak ada satu katapun yang salah” jawabku. “aku kenal mereka, mereka pernah membelikan aku jaket hijau” jawab Via. Bagaimana caranya? Kan, Via udah mati? “hah!? Bagaimana caranya? Kan, kamu sudah mati?”. “seperti yang di ceritain Nala, di keluarga kamu mengalir darah seorang indigo” jawab Via. “kamu pasti kenalan sama Nala saat kamu kelas 4 dan saat kamu mau naik kelas 5 orang tua kamu mati?” tanya Via dengan tatapan serius.

“kok tau?” tanyaku balik. “Nala yang membunuh orang tua kamu. Ia sangat suka darah. Jika ia sedang bosan, ia akan mencari korban. Darahnya itu akan disimpan” aku langsung menangis mendengarnya. Makhluk yang selama ini aku amat sayangi nyatanya adalah mahkluk kejam seperti monster yang keluar dari dalam dongeng. “SIAL!!” teriakku yang sontak membuat Iva dan Via kaget.

“TUHAN!! KAU UJI HAMBAMU DENGAN COBAAN YANG BERAT!! APAKAH DOSA YANG TELAH HAMBA BUAT TUHAN!!” aku teriak amat keras hingga membuat sebagian hutan harjaforza bergema. Lalu aku bersujud sambil menjedotkan kening ke tanah di hutan sambil menangis. “A, AKU MAU MATI TUHAN!! SILAHKAN CABUT NYAWAKU!!” aku melanjuti teriakanku. Tapi Via langsung berkata. “jangan Vara! Jika kamu mati dengan perasaan dendam dan tidak tenang seperti ini, rohmu akan selalu menetap di dunia ini dan tidak akan pernah bisa mencapai dunia ke 2”.

“kamu kan masih memiliki pamanmu?” lanjut Iva. “APA GUNA RUMAH INI SEPERTI HOME SWEET HOME JIKA DI DALAMNYA TERDAPAT MONSTER?” teriakku lagi. Aku langsung terbangun dan berlari memasuki rumah untuk melihat pamanku. Tapi, is too late, aku hanya bisa melihat luka beberapa tusukan di tubuh pamanku yang sedang tersenyum, berbaring di kamar tidur. “pa, paman? Pa… paman… PAMAN!!” aku langsung memeluk jasad pamanku yang bersimbah berdarah.

Aku dapat melihat susu yang tercampur darah di samping TV. Pikiranku kacau balau. Aku langsung mengambil gelas susu di samping TV dan melemparkannya ke jendela kamar. Terdengar bunyi kaca pecah yang keras. Tapi Via langsung memelukku dan berkata. “ini awal Nala, sebaiknya kamu jaga jaga diri. Lama lama kalau kamu tidak bisa tahan, kau akan ikut ikutan jadi pembunuh” katanya. Tangan, kaki, seluruh tubuhku bergetar. Air mataku keluar hingga mengosongkan tempatnya.

Mulut ini bergetar seperti ingin mengeluarkan banyak kata tapi tak satu hurufpun keluar. Nala.. Nala.. kenapa kamu sangat ingin membunuh? Apa bagusnya darah untukmu? Ia hanya cairan kental berwarna merah pekat dan berbau anyir yang menyengat. “selesai tugasku” kata kata itu aku kenal. Nala. “MAU KAMU APA HAI HANTU IBLIS PENYUKA DARAH??” teriakku seraya melempar apapun yang ada di dekatku.

“kalau kamu sudah tau, kenapa bertanya hai ANAK MANUSIA penyuka apapun?” balas dia sambil meenjilat telapak tangannya yang masih berlumuran darah. Tuhan, berikan aku kesabaran menghadapi wanita stres ini tuhan. “nama aslinya Qizalla. Panggil dia dengan nama itu, ia pasti akan marah. Di kesempatan ini, ingatkan dia atas masa lalunya” bisik Via ke telingaku. Aku langsung melakukannya. “untuk apa kamu lakukan semua ini Qizalla? Ini tidak akan pernah ada ujungnya Qizalla. Ini hanya akan menyebabkan hubungan antar sesuatu dan sesuatu menjadi hancur, apa tidak rugi? Hasilnya, tetap saja, kamu tidak akan pernah menemui orang tuamu” kataku pada Nala.

Sesaat, raut wajah Nala yang tadinya merasa menang, kini merasa kesedihan, kekecewaan, kerugian serta kebodohan. “berhenti memanggilku seperti itu! Hanya orang orang spesial yang aku pikir spesial yang dapat menyebutku dengan nama cantik seperti itu!” teriak Nala yang amat keras hingga membuat aku nyaris pingsan dan kaca kaca di ruangan ini retak. “ITU MEMANG BENAR! Tidak ada gunanya kamu melawan” balas Via. Aku terpikir, jadi, selama ini, aku berkenalan dengan Nala karena ia hanya mau darah keluargaku? Bukan sebagai ‘teman?’ buktinya, kenapa ia tidak memberitahuku misalnya, “panggil saja aku Qizalla?”.

“kamu adalah wanita yang hanya memetingkan urusan kamu sendiri. Mementingkan ego sendiri. Memperhatikan diri sendiri. Dan tidak pernah memikirkan perasaan orang lain” kataku dengan menangis. Ia langsung menjawab dengan membentak. “aku tidak seperti itu!! Manusia atau apa?”. “kalau memang tidak seperti itu, mengapa kamu masih disini? Mengapa kamu tidak berkumpul dengan keluarga tercintamu di surga sana? Dan, mangapa juga Via masih disini? Semua jawaban itu terkumpul oleh satu garis, kamu hanya peduli oleh dirimu sendiri! Mengapa? Jika tidak, kamu pasti tidak akan membunuh Wissy, Mayla dan Via. Merekapun juga manusia. Mereka melakukan hal itupun pasti akan menyesal. Jika masih ada ayah dan ibumu, ia pasti akan menyesal telah melahirkanmu! Karena kamu orang yang tidak peduli oh, AMAT SANGAT tidak peduli pada orang lain! Kamu juga membunuh kedua orang tuaku, dan kali ini pamanku! Hanya untuk memenuhi ego sendiri! Jika memang benar kamu memperhatikan orang lain, kamu pasti tidak akan membunuh orang tuaku. Karena kamu juga merasakan, bagaimana rasanya ditinggal oleh orang tua dan tidak pernah bisa kembali” kataku.

Share This: