Nala Sahabatku : The Beginning (1)

Halo namaku Vara Ravsoridky. Aku lahir di spanyol dan sampai saat ini aku tinggal di Russia. Kalian bisa panggil aku Vara. Aku sangat benci di sini. Aku tidak punya orang tua. Orang tuaku sudah meninggal. Dan sekarang, aku diasuh oleh pamanku yang usianya menginjak 42 tahun dan tinggalnya di pedalaman hutan Harjaforza.

hutan itu dianggap hutan angker, tapi aku tidak takut. Toh selama 7 tahun ini aku tinggal disitu dan tidak terjadi apa apa. Untuk apa takut? Aku tidak punya teman sama sekali, di sekolah pun, aku dianggap aneh karena aku tinggal di pedalaman hutan. Temanku hanya satu yaitu Nala. Dia adalah gadis seumurku dan tinggal di rumah yang kudiami itu. Dia pernah berkata “aku sama denganmu, jadilah temanku. Kita dapat bertukar cerita”.

Lalu aku menerimanya menjadi temanku. Ia suka membantuku seperti mencabutkan buah mangga yang matang dan segar untukku. Kami sudah menjallin hubungan persahabatan ini selama 4 tahun dari aku kelas 4 SD. Karena ini hari libur, aku bebas bermain dengan Nala. “pagi Nala!” sahutku sambil berlari keluar rumah. “pagi.. tidur kamu nyenyak?” tanya Nala. “banget.. aku mimpi, kamu sama aku ke taman surga dan kita memetik buah mangga yang banyak dan matang di sana” kataku.

“mau nggak, kita ke sana?” tanyanya. “ah, kamu mah sukanya ngada ngada…” jawabku. “ya sudah… kita petik mangga aja yuk!” ajaknya. “ok” jawabku. Lalu kami pergi ke bagian selatan hutan. Tempat di mana mangga mangga beserta buah lainnya tumbuh subur. “kamu baik ya sama aku, boleh aku ajakin teman aku berkenalan sama kamu?” tanyaku. “nggak… cukup kamu seorang aja yang jadi sahabat aku” jawabnya.

“emang kenapa?” tanyaku lagi. Mendadak dia mengambil 3 buah daun kering dan meremuknya hingga menjadi serpih. “kalau ada beberapa banyak dalam suatu ikatan, mereka akan terjalin. Aku nggak mau ada orang lain yang masuk dalam ikatan kita. Cukup kamu aja” jelasnya. Sekarang aku mengerti. Karena jam menunjukan pukul 09:00, kami pulang lalu menonton tv bersama. “channel kesukaan kamu apa?” tanyaku pada nala.

“deadly” jawabnya simpel. Aku sama sekali tidak terkejut. Mungkin, jika ada orang lain yang mendengarnya akan berkata “HAH?!”. Setiap kali aku menonton tv bersama Nala, aku selalu bertanya tentang channel kesukaannya. Nala selalu menjawab itu dan tidak pernah berubah. “nggak ada yang lain? Happily ever after?” tanyaku lagi. “aku kurang suka…” jawabnya. “aku benci! Besok aku kan sekolah, jadi nggak bisa main main lagi sama kamu, aku bakal di siram air sama mereka. Nanti kasihan pamanku, bajuku jadi kotor” kataku.

“masa masa sekolahku kan sudah habis, mau nggak besok aku temenin?” tanyanya. “serius? Aku mau, dong!!!” jawabku bahagia. “nanti, kasih tau aku kalau ada teman yang sering jahilin kamu, ya?” tanyanya. “iya, mau kamu apain emang?” tanyaku lagi. Ia hanya tersenyum kecil, lalu berkata. “balas dendam dengan apa yang sudah mereka lakukan sama aku” jawabnya dengan senyum sinis. “mereka juga jahatin kamu?” tanyaku.

“.. ya” jawabnya. Aku langsung mengganti channel yang kutonton ini dengan channel deadly. Karena, jika aku merasa bahagia dengannya, aku langsung memberikan apa yang dia suka. Channel deadly itu sangat lama. Membutuhkan waktu 5 jam untuk menghabiskannya. Menurutku, film deadly itu nggak terlalu seru. Itu Cuma film pembunuhan, penuh dengan misteri. Lebih tepatnya, detektif. Kenapa nggak judulnya detektif pembunuhan aja? Lebih seru, kan?. Oke, karena ini sudah jam 02:00 siang, waktunya makan.

“La, makan dulu, yuk!” ajakku. “menu apa hari ini Var?” tanya balik dia. “aku maunya sih, bakso. Aku masih ada kok” jawabku. “aku makan daging segar aja deh, tapi aku keluar dulu, ya? Biasanya kan, ada rusa. Daging rusa masih segar itu enak. Kita makan di kursi waktu itu, yuk!” ajaknya. Dengan senang hati aku menjawab iya. Setelah aku mengambil bakso dan duduk di kursi, nala datang. “boleh mulai!” katanya.

loading...

Lalu kami memakan makanan kami dengan lahap. “kenapa kamu masih ada di sini?” tanyaku. Yang sepertinya sangat menyinggung bagi Nala. “aku cuma mau temenin kamu aja, boleh?” jawabnya. “boleh tapi, aku mau tau satu, apa yang membuat kamu betah sama aku?” lanjutku. Lalu ia menceritakan sebuah cerita lama yang nyata tapi tidak terkenal. Dahulu, sebelum rumahmu ada, itu adalah sebuah danau besar. Airnya berwarna merah dan tidak pernah beku walaupun musim es melanda. Lalu, ada seorang anak kecil. Anak itu sangat aktif, pintar dan cantik.

Ia tidak memiliki satupun teman. Temanya hanya satu, Boneka Zahn. Itu adalah boneka beruang berwarna pink peninggalan ayah ibunya yang meninggal. Ia membawa boneka itu ke sekolahnya. Ia dikucilkan teman temannya. Ia disiram air, kuah bakso, dan yang lain lain. Ia sangat kesepian. Lalu bonekanya dibakar oleh mereka. Setelah sampai dirumah, Ia merasa hampa dan tidak diperlukan, lalu ia menenggelamkan dirinya dalam danau merah itu.

Tidak ada yang mengetahuinya. Lalu rumahpun dibangun. Itu adalah rumah Vara. “aku dihantui dong?” tanyaku. “tapi hantunya baik kok..” jawabnya. “hantunya masih ada karena jasadnya masih ada. Hantu itu ingin balas dendam dengan cara, ia menemukan sahabat yang tidak memiliki orangtua sepertinya. Lalu membalas segala kelakuan jahat yang dilakukan teman teman sahabatnya itu” lanjutnya. Aku bingung. Bagaimana Nala tau sebanyak ini? “kok kamu bisa tau sebanyak ini?” tanyaku.

“karena aku hantunya” jawabnya. Mataku terbelalak mendengarnya. Dan jantungku berdetak sekencang kencangnya. “hah..??” yah, baru kali ini aku manjawab “hah” karena, dari sekian banyak jam yang aku lewati bersama Nala, tidak pernah setegang ini. “buat apa kamu masih ada disini?” tanyaku lagi. Tapi Nala tidak menjawab. Lalu ia menuju rumahku. Yah, hari ini juga sudah sore, buat apa masih diluar? “mau tidur aja?” tanyaku ketika sampai di rumah.

Alias kamarku. “nggak…. main areca-click yuk! (permainan buatan Nala dan Vara) jawab Nala. “nggak ah, sorry. Tapi kayaknya aku mau langsung mandi” jawabku. Oh, aku deg degan banget!! Aku pikir, Nala bakal marah kalau aku bilang “nggak” tapi syukur, dia nggak ada ekspresi apa-apa. Kecewa juga enggak.

Share This: