Nala Sahabatku : The Same Story (2)

Selagi aku mandi, aku bisa mendengar suara TV di kamarku. Tandanya, Nala sedang menonton TV. Tapi aku tidak mendengar suara “SIAL” yang biasanya diteriaki Nala kalau ada adegan seru yang nggak aku tonton. Aku jadi bingung. Jangan jangan Nala marah lagi ke aku? “ada yang aku lewatkan enggak?!” teriakku dari kamar mandi. Tapi Nala tidak menjawab. “enggak kedengeran ya Nal?!” aku melanjuti teriakanku.

Tapi tetap saja, Nala tidak menjawab. Aku takut nanti seperti yang di film film lagi. Tiba tiba, ketika aku buka pintu kamar mandi, Nala sedang memegang pisau seperti siap menusukku. Gawat!. Setelah itu, tiba tiba lampu mati. Bukan, Bukan hanya kamarku. Tapi seluruh ruangan rumah! “paman Mcverry.. lampunya kenapa?” tannyaku dengan suara lembut. Tapi pamanku nggak menjawab. “paman.. paman lagi apa? Lampunya kenapa?” aku melanjuti perkataanku. Oke, aku mulai panik. Ini benar benar seperti film film di TV hanya saja kalau ini beneran.

Lalu aku mendengar suara pintu kamarku yang terbuka. Makin ketakutan saja diriku. “Nal, kamu keluar bukan?” tanyaku. Ah! Aku mulai kesal sekalian ketakutan. Paman dan Nala tidak menjawab kata kataku. Dan sekarang, aku masih di dalam Bathub di dalam kamar mandi kamarku. Suasananya sangat gelap dan aku nyaris tidak melihat apapun. Aku mulai merasakan bahwa ada yang memperhatikan diriku dari tadi. Tapi setelah aku melihat ke kanan dan ke kiri tidak ada.

Kamar mandi aku besar banget! 2X2, 5M persegi semuanya, langsung aku membalut diriku dengan handuk. (ini adalah pemaksaan. Daripada aku mati kedinginan di Bathub). Lalu aku keluar. Aku langsung mengambil baju asal dari lemari pakaianku dan segera memakainya. Karena aku ingin cepat cepat keluar dari rungan ini. Aku sudah sampai di halaman depan.

Uh, hutan ini sangat menyeramkan. Sekarang juga sudah jam 6 malam lagi, suasana mulai gelap. Rumahku istanaku pun ikut ikutan gelap. “I’LL WANNA DIE” teriakku dalam hati. Aku nggak kuat! Hutan ini benar benar menyeramkan. Pamanku nggak tau lagi apa. Nala juga nggak tau lagi apa, tapi nggak lama kemudian lampu menyala. Untunglah, aku pikir bakal kejebak di dalam hutan gelap ini sendirian. Lekas aku masuk. Aku penasaran. Sebenarnya pamanku itu kemana.

“paman! Paman Mcverry!! Kemana aja sih dari tadi? Di cariin sama Vara nggak ketemu temu” teriakku sambil memasuki rumah. Entah mengapa, rumah ini terlihat amat menyeramkan. Lalu aku mendengar suara kecil dari arah dapur. “Paman, paman masak apa? Baunya wangi!” teriakku sambil berlari menuju dapur. Tapi, pemandangan apa yang aku lihat? Seorang ibu yang cantik dengan rambut pirang mode bob. Anak kecil perempuan berambut cokelat panjang yang sedang duduk di bangku meja makan bersama ayahnya yang berambut hitam lebat.

“hore! Ibu masak masakan kesukaanku!” teriak anak itu sambil meloncat bahagia. “iya sayang, ibu masak chocolate tart kesukaanmu!” jawab ibunya sambil berjalan membawa tart itu ke meja makan. “aku sayang ibu! Ibu harus tetap bersamaku seumur hidup ya!” kata anak itu kepada ibunya. “ibu akan selalu ada sayang. Tepat di hatimu” jawab ibunya sambil menyentuh hati anak itu. Lalu ayahnya berkata. “ayo kita makan”.

“iya ayah! Ayah, teman temanku sering menjahiliku sewaktu istirahat! Aku kesal tapi aku tidak bisa apa apa yah. Aku harus bagaimana yah?” tanya anak itu kepada ayahnya. Ayahnya hanya tersenyum lalu menjawab. “kamu harus tetap bertahan ya. Ayah dan ibu akan selalu ada di hatimu jika kamu terus mengingat ayah dan ibu”.

“apakah ada salah satu anak murid yang mau bermain denganmu?” Sela ibunya sambil memotong kue tart dan membagikannya ke seluruh piring kosong di meja makan itu. Anak itu tersenyum sinis ke arahku kemudian menjawab. “ada, tidakkah ibu tau kalau ada yang memperhatikan kita selama ini?” jawab anak itu. Aku langsung gemetar mendengarnya. Itu sudah pasti aku. “ibu dan ayah tau, sayang, kami sudah tau dari awal” jawab ibunya sambil mengasah pisau.

“dialah orangnya..” jawab anak itu sambil memotong kue tart cokelat itu seperti memotong daging. Dan dengan mata mengarah kepadaku. “Artinya dia indigo sayang, diakah temanmu?” tanya kembali ibunya. “menurut ibu, apa?” jawab anak itu sambil memakan kuenya. Ibunya hanya tersenyum dan perhatiannya mengarah kepadaku. Lututku gemetar. Badanku dingin dan sepertinya, aku akan mengompol. “duduklah hai anak gadis, ibu akan menyediakan kue dan es krim blueberry untukmu” kata ibunya kepadaku.

Perasaan takut dan menyeramkan ini sepertinya mulai berkurang. Aku hanya menggangguk pelan dan menelan ludah sambil berjalan pelan ke arah meja makan. Apa aku ini indigo? Selama ini, aku hanya berkenalan dengan 1 hantu dan bukan yang lain. Dan baru kali ini, berapa hantu yang telah aku sapa? “selama kau tidak melukai anakku, aku akan menyayangimu seperti aku menyayangi anakku sendiri” lanjut ayah anak itu.

Aku senang tapi tidak amat senang. Perasaan senang ini tercampur dengan perasaan takut dan penasaran. “terima kasih” responku cepat sambil menarik keluar bangku meja makan yang kosong dan segera mendudukinya. “di dekatku saja” kata anak itu. Ugh, siapa sih, anak ini? Setahuku, aku tidak mengenalnya. Aku langsung beranjak dari bangku yang kududuki itu dan segera menuju ke bangku di sebelah anak itu. “aku tidak mengenalmu” bisikku ke telinga anak itu setelah aku duduk di sampingnya.

“nggak mungkin. Aku Nala. Nala lho…. Nala!!” jawab anak itu. Wah, nyatanya anak cantik itu adalah Nala! Aku tidak menyadarinya! Setahuku, Nala selalu menggunakan dress putih yang kusam dan rambut yang diikat dua berwarna cokelat. Sebentar, bisa saja dia melepaskan ikatannya dan rambutnya jadi terlihat panjang. Tidak mungkin! Rambut ini terlalu panjang untuk dilepas dua ikatan Nala. Lagipula, rambut Nala yang diikat dua lumayan kusut dan tidak terawat.

Tapi kali ini, rambutnya terlihat bersih dan bersinar. Owh, di tambah, kelihatannya rambutnya halus dan lembut. Dress yang ia kenakan saat ini pula warna putihnya lebih cemerlang dibanding Nala yang kutemui kemarin. “hi… hi… hi… kamu bohong ya?” jawabku sambil tertawa kecil. Dia menatapku serius sebelum akhirnya menjawab. “film kesukaan deadly. Film kesukaan kamu hapily ever after dan nama panjang kamu adalah Vara Ravsoridky” gila! Benar semua apa yang dikatakan anak ini! Tapi kok, perubahannya drastis sih? “wow!!” jawabku sambil menepuk tangan kecil dan melanjutkan kata kataku.

“drastis amat perubahannya Nal!” kataku sambil memegang pundaknya. Dia hanya tersenyum lebar lalu berkata. “ini keluargaku, kamu lihat aku berbeda karena aku diurus sama ibu dan ayahku. Mereka sayang padaku. Buktinya, mereka tidak pernah bertengkar. Mereka selalu membelikan apa yang kumau jika mereka lagi punya banyak rezeki. Dan, mereka selalu menyediakan yang terbaik untukku. Sampai akhirnya aku kehilangan mereka, itu menyakitkan bagiku” jawab Nala menahan tangis.

Aku tau posisi Nala sekarang. Jika aku menjadi Nala, mungkin aku akan tenggelam dalam lautan kesepian. Tapi, Nala cukup hebat. Ia bisa bertahan di posisi yang benar benar di ujung tanduk seperti ini. “lihat mereka…” Nala menunjuk kedua orang tuanya yang sedang tertawa tawa sambil membersihkan coretan cokelat di pipi mereka. “aku hanya bisa menemui kedua orangtuaku di tanggal tanggal seperti ini. Aku juga bisa terlihat bersih seperti ini di tanggal tanggal seperti ini” kata Nala yang kali ini mengeluarkan air mata sejadi jadinya.

“aku juga mau sepertimu, walaupun berpisah, dapat bersatu kembali suatu saat. Aku? Aku sudah tidak punya orangtua. Aku diurus oleh pamanku yang nyawanya juga berada di ujung tanduk. Aku hanya punya kamu dan paman. Aku cukup dibenci di sekolah. Karena aku disangka aneh. Seorang anak yang tinggal di pedalaman hutan. Guru guru juga percaya saja.

loading...

Aku jadi dicuekin sama seluruh warga sekolah. Orang tua murid muridpun melarang anak mereka untuk bermain kepadaku” jelasku yang cukup mengambil semua simpati Nala. “kamu yang sepertinya lebih menderita dibanding aku” katanya terlihat menyesal. “tapi kalau ada kamu, semuanya berwarna” jawabku. Ia langsung tersenyum lalu menyuguhkan kue.

Share This: