Nala Sahabatku : Via (4)

“Selamat istirahat, Nala dan Vara!!!” teriakku pada Nala. “kamu mau aku ajak keliling-keliling?” tanyaku. “iya! Aku mau” jawabnya. Kami berjalan menuju bangku biru yang ada di bawah pohon besar. Kami akan mengobrol. “Nal, kalau memang aku indigo asli, mengapa aku hanya berkenalan dengan 1 hantu?” tanyaku. “karena dulu kamu tidak tau kamu indigo, bahkan ketika kamu kenalan sama aku, kamu nggak sadar kalau aku ini hantu” jawabnya.

“Sekarang, aku tau kenapa Iva amat pendiam…” kataku. “aku juga baru tau, baguslah kalau kamu tau…” jawabnya. Tiba tiba aku melihat anak kecil berpakaian putih dengan rok merah dan sepertinya, bajunya itu terkena percikan darah. Duduk di sebelahku. “kamu siapa?” tanyaku gagap. “PERGI KAMU DARI SINI” teriak Nala yang sontak membuatku kaget. Tapi hantu itu memegang tanganku dan menangis. Alias tidak mau pergi.

Nala langsung berdiri dan berteriak. “VIA!! CEPAT PERGI DARI SINI!! INI BUKAN TEMPAT UNTUKMU LAGI” kemudian aku bertanya pada hantu itu. “namamu Via?” ia hanya menggangguk pelan lalu menangis sambil berkata pelan. “temui aku disekolah ini besok, atau nanti sepulang sekolah, tapi harus kamu sendiri” katanya. Aku langsung menggangguk tandanya aku siap. Tapi sepertinya, Nala amat tidak senang. Hantu itu langsung menghilang. “namanya Viaaspite de lauca X-marty Q. Umurnya ketika meninggal itu 11 tahun meninggal karna dibunuh” jelas Nala.

“oh…” responku cepat. Rasanya aku deg degan setengah mati bertatapan dengan Nala yang sedang berapi api. “aku mau ke rumah dulu sebentar. Akan aku bawain cokelat putih yang ada di kulkas” kata Nala. “i, iya” setelah aku menjawab, dia langsung menghilang. Tapi hantu Via langsung muncul di sampingku. “boleh kenalan denganmu?” tanya Via. “ya” jawabku. “namaku Vara Ravsoridky umur 14 tahun. Kamu?” lanjutku. “Viaaspite de lauca X-marty Q umur 11 tahun” jawabnya. “bisa ceritakan sedikit masa lalumu?” tanyaku.

“Aku dulunya sahabat Nala. Dia memang sering dijahili oleh teman temannya. Nala punya darah seorang pembunuh. Setelah boneka miliknya dibakar, satu persatu orang orang yang di bencinya dibunuhnya. Yang pertama adalah Wissy. Anak itu meninggal dengan luka cekik di lehernya. Yang kedua, Mayla. Ia meninggal oleh Nala juga dengan cara dibakar hidup hidup saat kerja kelompok di rumahnya. Aku melihatnya. Karena aku sekelompok dengan nya. Lalu aku dibunuhnya dengan cara ia menusukkan beberapa pisau di tubuhku. Aku tidak pernah menjahilinya. Karena aku sahabatnya. Tapi ia membunuhku karena aku melihat perbuatan hitamnya” aku terkejut mendengar semua itu. Tanpa aku sadari, air mataku telah menetes ke tanah.

Tapi Via terus melanjutkan kisah masa lalunya. “ia tidak punya teman lagi setelah itu. Aku masih setengah hidup. Rasanya sakit sekali. Menahan rasa tusukan yang amat banyak. Aku langsung berdiri sempoyongan lalu berteriak ‘TUHAN TIDAK AKAN PERNAH MEMASUKANMU KE DALAM ALAM KE 2’ lalu aku mencabut pisau di tubuhku dan membalas membunuhnya dan langsung memasukannya ke danau merah di sebelah rumahnya. Tapi tanganku tertarik olehnya dan akhirnya aku ikut tenggelam. Karena rumahnya berada di tengah tengah hutan Harjaforza, yang terkenal angker, kepolisian tidak mau memeriksa hutan itu. Akhirnya jasad kami tertimbun pasir tapi tidak ada nisan. Rumah yang kamu tempati itu sama sekali belum di renovasi. Jadi sangat mudah menemukan jasad Mayla. Kutukanku yang aku sebutkan ke Nala, nyatanya itu terkutuk juga untukku. Kamu sebaiknya berhati hati juga dengan dia. Dia tidak akan segan segan membunuh siapapun jika itu tidak sesuai dengan hatinya. Energi di kedua alam berbeda. Sekarang energi diapun mungkin amat besar. Jadi mudah untuknya membunuh siapa saja. Aku harap kamu berhati hati” benar, aku tidak kuat menahan rasa tangisku.

Aku menangis sejadi jadinya. Via langsung memelukku sambil berkata. “aku akan memperhatikanmu dan melindungimu. Karena kamu sama dengan Nala ketika ia sekolah disini, kuharap kamu jangan mengikuti dia, jangan pernah ada dendam di hatimu karena semuanya memiliki solusi” katanya. Ia pun juga ikut menangis. “KAMU SEDANG APA MENANGIS SENDIRI?” teriak guru Tata. Guru komputer kelasku. “oh, enggak bu, lagi bernostalgia, biasalah..” jawabku. Tuhan maaf kan aku telah berbohong pada guru sendiri.

Habis, aku mau jawab apa? “iya.. tapi sedikit lagi bell, sebaiknya makan dulu” lanjut bu guru lalu akhirnya pergi. Kemudian Iva duduk di sebelahku. “kamu indigo juga, Ya?” tanya Iva. “iya dari kecil aku indigo asli” jawabku sambil mengelap air mata. “oh, aku pakai cara yang ada di google. Makanya kelihatan wujud saat matinya” jawab Iva lalu beralih pandangan ke Via.

“nama kamu siapa?”, “Via. Viaaspite de lauca X-marty Q” jawab Via. “nama kamu keren, nama panjang aku mah, Shyfita Kasha Rainita”. “ada ‘shy’ sama ‘rain’ nya. Kenapa di panggil Iva? Jelas jelas nggak ada ‘v’ nya”. “aku juga nggak tau, asalnya mah Ita. Lama lama jadi Iva” jawab Iva. “hi.. hi.. hi.. kalian jadi kayak saudara kembar” selaku. Mereka langsung tertawa. *KRINGG, sepertinya, bell sudah berbunyi, kami langsung memasuki kelas kecuali Via. Ia tetap diam di bangku biru dan menunggu saat pulang. Supaya kami dapat berbincang lagi.

loading...

Share This: