Nenek Marah Karena Dendam

Assalamualaikum wr, wb. Hi! Baca lagi kisahku ini ya. Sebenarnya ini bukan pengalamanku, tapi ini pengalamannya istri om-ku. Jadi, nenekku (nenek dari papa) itu sedang sakit keras. Nenekku sudah agak tidak bisa merawat dirinya sendiri. Sebenarnya nenekku punya rumah sendiri, tapi karena tidak ada yang mengurus, jadi nenekku berniat tinggal dirumah anak laki-lakinya (om-ku/adik papaku) yang sudah menikah dan punya 2 anak.

Nenekku sudah menyuruh istri om-ku untuk mengurusnya, tapi istri (namanya Dini) om-ku malah mengurung nenekku sendirian dikamar kosong dan Dini malah pergi belanja ke mall. Itu pun hampir setiap hari. Saat nenekku dikurung sendiri, dia selalu menelepon uwaku (wa Ana namanya, dia kakaknya om-ku). Nenekku menelepon uwa Ana sambil menangis karena dikurung. Nenekku pun sangat tidak betah tinggal dirumah bu Dini dan Om-ku. Hingga akhirnya nenek tinggal dirumahku.

Nenekku betah tinggal dirumahku karena keluargaku penuh perhatian. Hingga suatu malam, nenekku dibawa kerumah sakit (karena penyakitnya) oleh papaku. Suatu pagi, hari minggu, aku terbangun karena mendengar mamaku sedang berbicara sambil menangis-nangis. Aku hampiri mamaku dan menanyakan apa yang terjadi? Ternyata nenekku meninggal dirumah sakit.

Aku dan mama pun pergi menengok nenek kerumah sakit naik angkot. Saat sampai, ternyata benar, nenekku meninggal. Singkat cerita, setelah pulang dari pemakaman nenekku. Tangisanku meledak dirumahku. Begitu juga dengan keluargaku. Suatu hari, uwa Ana datang kerumahku untuk menyampaikan surat dari nenek untuk mamaku. Aku dan mama membacanya bareng. Begini isi suratnya.

“Terima kasih banyak ya sudah ngurusin nenek sampai akhir hidup. Nenek sangat berterima kasih untuk keluarga ini. Kalian semua perhatian sama nenek. Nenek punya dendam sama Dini. Nenek belum tenang. Sekali lagi terima kasih sudah ngurusin dan perhatian banget kenenek. Terima kasih.”

Aku agak kaget kalau nenek punya dendam kepada tante Dini. 2 hari kemudian, tante Dini mampir kerumahku dan berbincang dengan mamaku.

Mama: iya ada apa tan?
Tante Dini: teh In, ini, saya sering ngelihat hantu nenek.
Mama: hah? *Hmm, mungkin nenek punya dendam. Soalnya nenek bikin surat buat saya, katanya nenek benci tante Dini karena suka dikurung.

Tante Dini: iya, saya sudah menyesal mengurung nenek.
Mama: ya sudah, sekarang tante minta maaf saja kepada nenek. Kalau mau teteh antar kekuburan nenek.
Tante Dini: oh bisa? Ya sudah sekarang saja. Sudah gak tahan lihat hantu. Maaf mengganggu ya teh.
Mama: iya gak apa-apa.
Aku: aku ikut.

Singkat cerita, saat sampai dikuburan nenek, tante Dini minta maaf kepada nenek.

Tante Dini: nek, maafin Dini saat dulu ya! Dini sudah mengurung nenek. Dini juga sudah gak perhatian sama nenek. Maafin Dini nek.
Nenek: (muncul dengan asap) nenek maafin Din.
Tante Dini: terima kasih.

Seterusnya, tante Dini sudah tidak pernah dihantui lagi. Mungkin arwah nenekku sudah tenang berada dialam sana.

loading...
KCH

Salma Siti Fatimah

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Salma Siti Fatimah has write 2,694 posts