Nenek Misterius

Banyak orang yang mengaku pernah bertemu dengan sosok wanita tua penghuni areal makam tersebut. Konon, dari kawasan Bong ini juga kerap terdengar suara-suara aneh yang tak tentu dari mana sumbernya. Terkadang sering ada kemunculan sosok wanita tua keturunan dengan pakaian khas kerajaan China kuno. Bila malam telah larut, terlebih dibarengi dengan hujan, hampir dapat dipastikan, orang yang melintas di sana akan bertemu dengan sosok nenek misterius itu.

Terutama pada malam yang dikeramatkan menurut kepercayaan, seperti jum’at Kliwon dan selasa legi. Kisah menyeramkan berkaitan dengan Bong ini pernah dialami Armat (Nama Samaran), yang kini berusia 58 tahun. Ketika itu dia menjalankan profesi sebagai tukang becak. Suatu malam, dia pernah diminta oleh seorang nenek untuk mengantarkannya ke sebuah rumah besar dan megah yang belakangan diketahui adalah Bong China di wilayah kota pendidikan ini.

loading...

Menurut cerita Armat, sosok nenek itu membawa dua peti besi yang berisikan perhiasan emas. Karena mendapat order untuk mengantar ke rumah, maka, tanpa curiga dia pun bersedia memenuhi keinginan sang nenek. Setibanya di rumah, Armat menyaksikan 6 anggota keluarga si nenek yang misterius juga berada di dalam rumah besar itu.

mereka sedang mengobrol di ruang tamu. Salah seorang pemuda yang diduga anggota keluarga nenek itu, mengangkat 2 peti emas, lalu dibawanya masuk kedalam rumah. Armat sempat beristirahat sejenak, sambil mengusap keringat di wajahnya dengan handuk kecil yang selalu menemaninya saat mencari nafkah untuk anak dan istri tercintanya. Dia disuguhi kopi dan kue oleh salah seorang pembantu nenek aneh itu.

Tanpa ada perasaan curiga, dia pun menikmati kopi pahit dan kue yang telah dihidangkan di hadapannya. Armat memang sama sekali tak mengerti dengan bahasa Mandarin yang keluar dari mulut mereka dalam percakapan saat itu. Setelah menghabiskan kopinya, dia pun berpamitan pulang kepada nenek misterius itu.

Karena si nenek tak memiliki sejumlah uang sesuai tarif becaknya, maka dia kemudian memberikan perhiasan emas berupa berupa cincin seberat 500 gram dan batangan emas bergambar naga seberat 2 kg. Armat pada awalnya memang tidak mengetahui barang-barang berharga ini, sebab masih terbungkus kain. Nenek misterius itu mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan Armat, seraya berpesan agar pemberiannya yang dibungkus dengan kain itu baru boleh dibuka setiba di rumah nanti. “Ingat, gunakan untuk mendirikan toko atau usaha!” Pesan si nenek pula.

Dengan senang hati, Armat menerima pemberian sang nenek. dia lalu meninggalkan rumah besar itu dengan becaknya menembus kegelapan malam yang berhawa dingin. Armat memang menuruti pesan yang disampaikan oleh sang nenek. benar, setibanya dirumah, dengan rasa penasaran dan sangat berhati-hati, perlahan-lahan dia membuka bungkusan kain putih itu.

Alangkah terkejutnya pengayun becak ini, manakala dia menyaksikan kalau bungkusan itu berisi perhiasan emas dan juga emas batangan yang cukup lumayan beratnya. Tentu mahal nilai jualnya. Malam itu, Armat sangat tak sabar menanti datangnya siang. Seolah, malam itu, terasa amat panjang. Tanpa pikir panjang, keesokan harinya, Armat pun mendatangi penjual emas untuk menjualnya emas pemberian si nenek misterius.

Setelah diperiksa secara bersama, ternyata adalah emas murni. Dengan demikian, Armat mendapatkan uang yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Suatu jumlah yang sangat besar untuk ukuran tukang becak seperti dirinya. Dalam keriangannya. Armat meninggalkan toko emas itu sambil berlari pulang dan berteriak sekeras-kerasnya. “Aku akan jadi kaya raya!” Bahkan dia tak menghiraukan becaknya lagi, hal ini membuat teman-temannya sesama tukang becak, yang sedang mangkal merasa keheranan atas kejadian itu.

Mereka berpikir, kalau Armat stress berat dan gila karena beban penderitaan hidupnya yang sangat miskin. Istri dan anak-anaknya sama sekali tak mengetahui kejadian ganjil ini, karena Armat memang merahasiakannya. Bahkan keluarga besar dari pihak istrinya, sempat curiga dengan tingkah laku Armat. Mereka berpendapat, jangan-jangan Armat telah melakukan perampokan di suatu kawasan perumahan elit milik warga Tionghua.

Setelah mendapat penjelasan sejujur-jujurnya, akhirnya mereka dapat menerima alasan yang dibeberkan oleh Armat atas peristiwa mistis yang dialaminya. Sesuai dengan pesan nenek tua itu, uang dari hasil penjualan emas itu, dia pergunakan untuk mendirikan toko sebagai usaha untuk menopang kehidupannya. Toko yang dibangun oleh Armat sangat ramai dipadati oleh para pembeli.

Hingga akhirnya dia menjadi kaya raya mendadak, Alhasil, dia mampu membangun rumah megah di kawasan Langkapura, Bandar Lampung. Demikianlah kisah nyata yang dialami oleh Armat. Kisah tersebut terjadi pada sekitar 1990-an. Tentu sudah lama sekali. Namun, masih mengenang peristiwa itu dengan jernih. Sebab dari sanalah kehidupannya berubah. Menurut cerita yang beredar, baru bisa diketahui, sosok misterius itu adalah arwah yang bernama Yuan Hwa. Semasa hidupnya nenek yang bernama Yuan Hwa dan keluarganya adalah warga Tionghua yang sangat miskin itu hidup di kota Timah Muntok, Pulang Bangka.

Karena dibantu keuangan oleh tetangganya yang sama-sama warga keturunan, akhirnya mereka mampu merubah hidupnya menjadi saudagar sukses. Setelah beberapa tahun berselang, mereka hijrah ke Tanjung Karang, Bandar Lampung. Dan terakhir membuka toko emas dan tinggal di Kota Metro. Namun, kemalangan tak dapat ditolak, saat kendaraan yang mereka tumpangi menuju Tanjung Karang terbalik dan masuk ke sungai di bawah jembatan penyeberangan Tegineneng, Lampung Selatan. Kecelakaan itu menewaskan Yuan Hwa sekeluarganya.

Peristiwa itu terjadi pada Desember 1973 silam. Jasad mereka dimakamkan di areal pemakaman Bong China, yang terletak di kawasan Tejosari 24, Metro Timur, Lampung. Semenjak peristiwa tersebut, penampakan sosok nenek misterius sering terjadi di sekitar makam itu. Konon, karena semasa hidupnya pernah ditolong oleh sahabat Tionghua tetangganya, maka, meskipun kini sudah menjadi arwah sosok nenek ini masih tetap sering membantu kepada seseorang yang sangat membutuhkan bantuan. Terutama mereka yang kurang mampu.

Share This: