Neng Asih Penunggu Jembatan Cincin

Hujan deras hampir seharian dan sinar matahari tidak muncul sekalipun, mendung dan kelabu. Langit Jatinangor masih gelap. Aku berjalan di aspal kampus yang basah. Kakiku terus berjalan menyusuri lorong beratap yang penuh daun basah yang mulai menguning. Badan ini sudah lelah, pundak terasa pegal karena memikul tas yang penuh berisi buku tebal Manajemen Komunikasi.

Walaupun lelah setelah seharian beraktivitas di kampus, aku selalu memilih jalan kaki untuk pulang ke kosan. Bukan karena aku tidak punya uang, tapi karena tidak ada kendaraan menuju kostan. Setidaknya membutuhkan lima belas menit untuk sampai ke kosan dengan berjalan kaki. Letaknya memang tidak begitu jauh dari kampus. Nama daerahnya Desa Cikuda. Sebenarnya, tidak ada yang seram dengan kostan ku atau dengan desa yang kusebutkan tadi.

Tapi, ada satu hal yang kuingat sampai sekarang, tentang pengalamanku ketika menyusuri jalan menuju kost. Kamu tahu sebuah jembatan yang menghubungkan Desa Cikuda dengan kampusku. Sebuah jembatan yang dibangun tahun 1918 yang diberi nama jembatan cincin, saat kita masih dijajah Belanda. Jembatan cincin tersebut dulunya adalah jalan penunjang untuk urusan perkebunan. Namun, sekarang jembatan itu adalah jalan sehari-hari yang harus aku lewati.

Walaupun kata orang angker, tapi aku merasa biasa-biasa saja. Walaupun, sebenarnya pemandangan di sekitar jembatan itu seperti mengiyakan pendapat orang-orang tentang keangkerannya. Ya mau bagaimana lagi, itu memang jalan yang harus aku lewati. Suatu hari, ketika aku hendak pulang menuju kostan ku, aku bertemu dengan seorang teman perempuan. Kami terlibat sebuah perbincangan.

“Kamu masih lewat jembatan cincin itu kalo pulang maghrib? Emang kamu nggak takut, kan jembatan itu serem?” tanyanya.
“Halah, kamu nih percaya hal begituan. Yah, gimana lagi, males kalo pulang naik angkot, muternya jauh. Mending jalan kaki aja, lagian aku udah biasa lewat situ. Hantunya juga paling males ngejahilin aku”, jelasku.
“Hush!! Ngawur kamu! Hati-hati loh, nanti diikutin baru tau rasa”.
“Hahaha, udah yah aku duluan. Udah sore nih, mau nemuin hantu jembatan cincin itu! Hahaha”.

loading...

Aku sebenarnya kaget dengan apa yang aku katakan. Sungguh sangat sembarangan. Selama perjalanan, aku merenungi apa yang aku katakan. aku nggak mikirin omonganku tadi ya. Aku menghentikan langkah, menatap lurus ke depan. Denyut jantungku semakin cepat. Kakiku tiba-tiba saja kaku, di depanku tampak sebuah jalan panjang yang kanan kirinya jurang, dan di bawahnya terdapat sawah sawah kecil. Juga pekuburan warga.

“Kenapa jadi tiba-tiba tegang gini, yah? Biasanya juga nggak ada apa-apa setiap aku lewat jembatan cincin ini?” lni pasti cuma sugesti yang berlebihan. Aku kembali berjalan, Kaki kiriku mulai menapaki sisi jembatan, dan kaki kananku melanjutkan untuk langkah berikutnya. Aku mulai berjalan menyusuri jembatan cincin itu. Langit sore yang berwana abu-abu kelam, seolah-olah ingin menakut-nakuti. Aku terus melangkah namun sambil menunduk.

Aku merasa tengkuk seperti ada yang menahan. Jujur, aku mulai sedikit ketakutan. Terlebih lagi detak jantungku yang sejak awal menapaki jembatan ini, bergemuruh. Membuat napasku tak lagi normal, seperti memberikan sinyal akan terjadi sesuatu di jembatan ini. Tepat di tengah-tengah jembatan cincin, aku berhenti lagi. Kali ini bukan sengaja, tapi karena kaget, sehingga badanku refleks membeku. Angin dingin di tengah jembatan itu terasa seperti es yang meluncur di kulitku. Tiba tiba pandanganku pun tertuju pada sesuatu.

Seorang perempuan yang sedang berjongkok tepat di depanku, menghalangi kedua kakiku untuk melanjutkan ritme langkah. Perempuan itu menelungkupkan mukanya di atas lutut yang dilingkari oleh tangan. Rambutnya yang panjang hampir menutupi punggungnya yang terbalut daster berwarna putih kecokelatan karena kotor. Aku masih tertegun dengan sosok yang tiba-tiba berada di depanku. Perempuan itu menangis sesenggukan, semakin lama semakin kencang.

“Mbak, permisi saya numpang lewat” ucapku. Perempuan itu tetap menangis. Badan ku mulai kaku, perasaan diliputi ketakutan. lni sugesti akibat perkataan yang sembarangan tadi. “Mbak…” Tiba-tiba perempuan itu mengangkat mukanya ke arahku, dengan tatapan mata yang merah dan emosi yang memuncak. “Mana Kang Darman, Mana Kang Darman” Suaranya parau penuh dengan amarah.

Tangan perempuan gila itu tak henti mengoyak rok panjangku, sambil menanyakan orang yang sama sekali tidak aku kenal. Dia terus bertanya, kali ini lebih brutal, dia menarik tanganku. Aku pun tidak tinggal diam. Aku berusaha untuk melepaskan cengkeramannya. Namun, tenaganya lebih kuat, dan dia terus menarik tanganku.

“Lepasin, Tolong lepasin. Saya nggak kenal Kang Darman”. Aku berusaha meminta tolong, tapi tidak ada satu orang pun yang lewat jalan itu. Tampaknya jadi percuma aku berteriak keras. Perempuan itu yang tadinya duduk, sesaat sudah berdiri. Tarikan tangannya semakin kuat, membuat pergelangan tanganku sakit. Dan dia terus-menerus menyebutkan nama lelaki itu.

“Mana Kang Darman, Mana… Kang Darman”. Tanganku terasa sakit sekali. Aku mengumpulkan tenaga, dan berusaha melepaskan cengkeraman perempuan gila itu. “Ugh, lepaskan”. Tangan perempuan itu akhirnya terlepas. Aku melihat mukanya pucat dan bibirnya kering. Dia memegangi tangan sambil menjerit-jerit. Di pergelangan tangannya terdapat luka merah melingkar seperti luka ikatan tali. kaki perempuan ini Astaga Kakiknya tidak menyentuh tanah, Pasti aku salah lihat.

Aku mengedipkan mataku berkali-kali, tapi tetap saja pemandangan yang ada di depanku nyata, kaki perempuan itu tidak menyentuh tanah, dan lebih mengejutkan lagi dia menjerit jerit tidak jelas sambil berlari menjauhiku dan Dia Menjatuhkan diri kebawah jembatan. Aku melihat badannya, jatuh dan menghilang sebelum menyentuh dasar. Badanku lemas, mataku berkunang-kunang, dan semuanya hitam.

Ternyata aku ditemukan pingsan oleh seorang ibu yang melintas di jembatan cincin itu malam harinya. Ibu itu khawatir dengan keselamatanku, dia pun memanggil polisi dan membawaku ke rumah sakit. Aku tak sadar diri selama satu hari. Wajah perempuan itu terus berkeliaran di pikiran dan mimpiku. Bahkan, ketika aku sadar pun, aku masih dihantui oleh bayangan perempuan itu. Aku sampai harus disuntikkan obat penenang dua kali dalam sehari untuk mengendalikanku.

Setelah kejadian itu, aku coba untuk mencari informasi tentang cerita seram di jembatan cincin itu. Di antara semua cerita seram yang aku dapat, terselip sebuah cerita tentang seorang wanita bernama Neng Asih. Hanya segelintir orang yang tahu cerita itu. Menurut cerita yang aku dapat, Neng Asih mati bunuh diri di jembatan cincin itu puluhan tahun yang lalu.

Neng Asih putus asa karena ditinggalkan oleh Kang Darman, seorang mandor perkebunan yang mempunyai lima istri. Kang Darman berjanji akan menjadikan Neng Asih sebagai istri ke-6. Namun, ternyata janjinya Kang Darman kosong belaka. Setelah Neng Asih mengandung anak Kang Darman, dia malah ditinggal pergi begitu saja. Neng Asih pun memutuskan bunuh diri dengan melompat dari jembatan cincin itu.

Share This: