Nepak Bagian 2

Hay penggemar KCH, ketemu lagi dengan dwy dwi dandwi. Cerita ke-92 masih meneruskan cerita dari “nepak” dan ini tidak begitu seram, cause sedikit lucu menurutku dan para pelakonnya. Iya, kisah ini dwi ambil dari narasumber suamiku dan teman-temannya. Kebetulan sewaktu dwi masih di kota Karang (karena duka).

Jadi sambil mengisi waktu menyiapkan acara tahlil ke-3 hari mendiang mertua, dwi dan kerabat dari suami, beserta deris (teman dari suami yang sudah dianggap keluarga sendiri). Sedang asyik berbincang atau sekedar berbual. Tiba-tiba saya berceletuk.

Dwi: eh, saya tuh suka cerita dari mas edy (nama suamiku) yang tentang “nepak” itu lho (sambil bercanda).
Deris: oh iya mba, dulu pernah, kita orang suka iseng, waktu itu aku, mas edy, cici, dan bang jack (samaran), mau nepak ramai-ramai, *haha.
lainnya: …..? (hanya menjadi pendengar setia).
Dwi: terus dapat gak?
Deris: *zonk mba, alias nol, *haha.

(Karena cerita dari deris kurang jelas, alias memakai bahasa lampung, *hehe). Jadi saya akan bercerita dari narasumber suamiku saja ya. Tapi cerita ini saya dengar sudah lama, hanya saja baru aku post. Karena sebelumnya ada cerita “nepak” juga dariku, *hehe. Ok kita kecerita “nepak 2”.

Aku (sebagai edoy/edy suamiku). Malam itu kami berempat, aku, deris, cici dan bang jack akan nepak ditempat yang terkenal angker didaerah kami. Tidak lupa semua aneka sesaji/sajen disiapkan. Sudah lengkap semua dan kamipun berangkat kelokasi tepat jam 11 malam. Semedipun dimulai, hingga beberapa detik menit pun berlalu. Tiba-tiba “*wish gubrak bruk” suara angin menghempaskan sebuah seng. Dan jatuh tepat dihadapan kami.

loading...

Sontak kami semua berlarian tanpa menoleh kebelakang. Tiba-tiba terdengar suara cewek minta tolong. “*Woy, tungguin aku *donk, tolongin aku” kata suara itu. Saat aku menoleh kebelakang, aku melihat cewek bertubuh gemuk sedang duduk *nyungsep gan. Tapi karena yang lain sudah didepan, jadi aku melanjutkan lari mengejar deris dan bang jack yang sudah kabur duluan. Tidak aku pedulikan suara cewek tadi.

Saat sudah sampai ditempat yang aman. Tiba-tiba si cici datang sambil marah-marah dengan bahasa lampung. (Tapi saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia saja ya).

Cici: hey kampr*t lu semua, malah tinggalin aku.
Deres: sorry ci, kita orang panik, jadi lari duluan.
Bang jack: iya ci, sorry, *hehe.
Cici: lagian ngapain lu doy, sudah tahu aku jatuh, bukannya tolongin malah tinggalin, kampr*t betul kau nih.
Aku: *haha, jadi tadi yang *nyungsep itu elu ci? Kirain aku si demit, *haha.

cici: demit mata lu, sakit nih, mana susah bangun, bukannya bantuin.
aku: iya, sorry, sorry, lagian aku juga panik, *hehe.
Deris: lha lu ngapain bisa jatuh *nyungsep ci? *Haha.
Cici: aku tak tahu disitu ada *spiteng, saat lagi lari, aku gak lihat-lihat, terus kakiku tersandung itu spiteng, alhasil jatuh deh, malah gak ada yang tolongin.

Semuanya malah pada tertawa, termasuk aku juga setelah tahu cerita cici. Karena tubuh cici ini gendut jadi saat lagi jatuh susah bangunnya. Dan dia adalah cewek sendiri. Begitulah cerita dari suamiku. Dwi waktu diceritain juga ikut tertawa membayangkan ekpresi mereka berempat, *hihi. Itu cerita masa lalu mereka, semoga sekarang sudah pada tobat ya, *hehe, amin.

Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts