Organisasi Pecinta Alam

Namaku Hendi, selain sibuk kuliah aku juga bergabung dalam organisasi mahasiswa Pecinta Alam di kampusku. Setiap tahun organisasi pecinta alam kami selalu mengadakan diklat dan diklat kali ini dilakukan disebuah gunung didaerah Sukabumi. Kami memilih gunung ini karena kami sudah biasa mengadakan diklat disana dari tahun ke tahun.

Kondisi medan gunung yang sudah kami ketahui menjadi salah satu pertimbangan kami, dalam memilih gunung itu. Kami berangkat dari Bandung menggunakan bus menuju sukabumi, jumlah kami ada 30 orang termasuk senior dan anggota baru. Semua berjalan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan, dari awal pemberangkatan sampai tiba dilokasi. Setelah tiba dilokasi, aku langsung mengumpulkan para anggota baru. Kebetulan aku jadi mentor pembimbing yang satu grup anggota baru dan terdiri oleh aku, hilman, yuda, dan mita. Aku bertugas mengawasi mereka selama pendakian.

Setelah masing-masing pembimbing mengumpulkan anggotanya, perjalananpun dimulai. Kami berjalan menuju lokasi pendakian pertama sejauh 2 KM, ditengah perjalanan beberapa anggota baru sudah terlihat kelelahan. Aku memakluminya karena dulu aku juga pernah diposisi mereka, semua orang pasti akan kepayahan ketika pertama kali naik gunung.

Ketika kami sampai di titik start pendakian pertama, terlihat semua anggota baru sudah kelelahan termasuk hilman, yuda, dan mita. Terlebih lagi mita, yang kebetulan salah satunya wanita diantara para anggota baru. Kami memutuskan untuk beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan karena rute kami berikutnya akan lebih sulit dan itu daerah hutan.

Ketika kami sedang berjalan, tiba-tiba mita mencengkram tanganku dengan kencang dan itu membuatku menghentikan langkahku. Aku menengok ke arahnya dan dia tampak sangat ketakutan, “Mit, ada apa?” tanyaku, dan mita memandangku dengan gelisah ditambah sorotan matanya lalu dia menyuruhku untuk melihat ke jalan yang ada didepanku. Mita bertanya padaku, apakah aku melihat ada orang tinggi besar yang sedang menghadang jalan didepan kami. Aku dan yuda saling berpandangan, karena kami tidak melihat ada orang yang menghadang kami.

Aku pun tidak terlalu serius menanggapi pertanyaannya, “Gak ada apa-apa mit, yuk kita jalan lagi”. Namun mita malah merengek, dia tidak mau lanjut berjalan karena takut. Untung karena bujukan dari hilman dan yuda serta semangat dari para senior lain akhirnya dia mau melanjutkan perjalanan ini. Tidak terasa hari sudah sore, kami mulai mencari tempat strategis untuk memasang tenda dan setelah selesai semua orang dikumpulan untuk evaluasi dan rencana jadwal besok.

Semuanya terlihat fokus, terkecuali mita. Saat itu jelas sekali wajahnya sangat pucat dan pandangannya kosong. Setelah evaluasi selesai, kami semua kembali ke tenda masing-masing untuk istirahat. Namun belum sampai 30 menit, tiba-tiba terdengar suara mita berteriak keras. Kami langsung berhamburan keluar menghampiri tendanya, ekspresi wajahnya kini berubah. Matanya terus menatap keatas, ketika salah seorang dari teman kami menanyakan keadaanya.

Mita malah tertawa keras, namun itu bukan suara tawanya yang asli. Tawanya seperti seorang lelaki, dan kami tersadar bahwa mita sedang kerasukan. Semua orang yang berada ditenda semuanya ketakutan, aku meminta maaf kepada makhluk yang merasuki mita apabila kami melakukan sebuah kesalahan dan meminta untuk segera melepaskan mita.

Namun mita malah berteriak sambil meronta-ronta dan dia juga mencakar-cakar seperti harimau dan aku langsung memegang mita. Para seniorpun silih berganti bertanya, dan akhirnya diketahui bahwa makhluk ini tidak menyukai apa yang telah dilakukan mita. Rupanya bahwa mita telah membuang sebuah pembalut ditengah hutan.

Makhluk itu pun tidak mau keluar dan salah seorang senior yang mengerti tentang spiritual berusaha mengusirnya dengan doa-doa namun tetap saja jin itu tidak mau keluar dari badan mita. Tiba-tiba mata mita melotot sambil tertawa dengan suara yang sangat menyeramkan. Tiba-tiba badan mita terangkat keatas seperti ditarik oleh sosok yang tidak kelihatan dan tiba-tiba badan mita jatuh kembali kebawah.

Kami berusaha keras untuk menahannya dan situasi ini terus terjadi hingga berjam-jam. Aku tidak tega melihat badan mita yang terus seperti disiksa oleh makhluk itu, reflek aku mengumandangkan adzan jam 4:30 pagi dan tiba-tiba keadaan menjadi hening karena suara adzan. Dan kami yakin, sosok itu takut dan telah pergi dari badan mita.

Mita pun sadar dan dia berkata kalo dari tadi dia menyaksikan semua kejadian itu tapi tidak bisa melawannya. Mita berusaha keras merengek kepada kami sambil menangis dan dia berkata kalo dia tidak mau dibawa oleh makhluk itu. Setelah mita menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ekspresi wajahnya kembali berubah. Dugaan kami salah, sepertinya jin itu kembali sadar dan tidak lama dia kembali masuk ke dalam badan mita.

Bahkan kali ini tidak luput, hilman dan yuda pun terkena pukulan. Sampai pagi harinya, makhluk halus itu tetap berada dibadan mita. Akhirnya para senior memutuskan untuk turun gunung dan mencari rumah penduduk untuk mengobati mita. Kami berjalan sambil membawa mita, namun hal itu tidak mudah kami lakukan. Mita masih meronta-rontadan badannya pun menjadi sangat berat. Perjalanan turun pun diwarnai dengan perasaan takut dan pertarungan yang hebat dengan sosok yang berada didalam badan mita. Bahkan aku sempat terjatuh karena terdorong oleh mita yang kerasukan.

Saat siang hari, akhirnya kamipun berhasil menemukan perumahan penduduk. Singkat cerita, akhirnya mita ditangani salah satu orang yang bisa di desa itu. Setelah ditangani keadaan mita sudah tenang dan tidak kacau lagi. Setelah itu kami semua memutuskan untuk kembali ke Bandung, dalam perjalanan pulang aku tertidur di bus.

loading...

Aku bermimpi mita tersenyum menyeringai kepadaku dan ada sosok bayangan hitam yang menempel dibadannya. Sontak aku terbangun dan ternyata saat itu, mita kembali kerasukan dan mengamuk di bus. Sesampainya dibandung, mita langsung dibawa ke orang pintar. Orang pintar itu mengatakan bahwa makhluk itu dulunya adalah jawara sakti dan bersembunyi ke gunung. Mita disukai makhluk itu karena ingin dijadikan pendamping, dan orang pintar itu menyuruh makhluk itu kembali ke tempat asalnya namun dia tidak mau kecuali diantar.

Tak satu orangpun diantara kami yang mau mengantar, karena kami takut itu hanya sebuah jebakan saja. Akhirnya kami menghubungi orangtua mita dan menceritakan kejadian yang menimpanya, mereka menjemput mita dan membawanya untuk langsung ditangani. Sampai saat ini aku tidak tau apa yang dilakukan keluarga mita kepada makhluk itu, namun setelah itu mita bisa kembali lagi kuliah seperti biasa dan aku tidak pernah mendengar cerita kalo mita pernah kesurupan lagi atau ada bayangan hitam yang terlihat menempel di mita.

Lalu mita bercerita kepadaku kalo semenjak kejadian itu, dia semakin ketakutan kalo ingin membuang pembalut dimanapun. Makanya sekarang dia amat hati-hati dengan hal itu, dan dia juga bilang tidak ingin kembali ke gunung dan segera memutuskan keluar dari himpunan pecinta alam. Peristiwa digunung sepertinya akan selalu membekas di ingatannya seumur hidup.

Share This: