Pabrik Padi

Hey penghuni KCH. Assalamualaikum, kembali lagi dengan dwi duwal duwel, yang paling “demit” (dwi memang amit-amit) disitus ini, *hehe. Di tulisan ke-82 ini masih disekitar pabrik padi seperti kemarin dicerita “kodok loncat“. Namun hari ini kagak mau loncat-loncatan lagi yah, cause sudah kapok, *hehe.

loading...

Hari berikutnya, seperti biasa kami alias aku dan kakak-kakak sepupu berkunjung kerumah nenek. Jika sudah bosan, langsung kejalan depan menuju area pabrik padi yang depannya adalah lapangan. Pabrik padi didesaku ada 2, yang dicerita ini adalah dilingkungan 4 (desa barat), dan yang satunya lagi dilingkungan 5 (desa timur) yang pernah saya ceritakan dicerita “antara fiksi dan nyata“. Ok lanjut dah kecerita.

Hari ini kita bermain-main didalam pabrik padi lagi saat jam siap operasi, alias jam 3 sore seperti kemarin. Tapi karena sedang pada santai, sambil menunggu padi warga yang belum diantar untuk digiling bareng (biar gak 2 kali kerjaan hidupkan mesinnya), jadi kami ikutan nimbrung atau ngobrol sama pakde-pakde yang kerja disini. Tapi ada kakak supupu yang asyik main perosotan ditangga seperti kemarin. Hanya saja dicegah supaya hati-hati biar gak jatuh seperti aku, *hehe.

Saat lagi disindir sambil mainan timbangan padi, aku hanya tersenyum malu. Terus tiba-tiba si pakde-pakde pada cerita horor diarea sini. Sehingga kami tertarik untuk mendengarnya dengan bengong, eh maksudnya dengan saksama, *hehe. Kata pakde, pernah lagi asyik menumpuk padi digudang yang dekat aku jatuh kemarin. Saat hampir mau selesai, tiba-tiba padi yang ditengah jatuh sendiri. Padahal posisinya sudah rapi dan aman terkendali dari goyah ataupun merosot.

Sontak para kuli pada berlarian keluar. Dan malah pada adu argumen untuk membenarkan kembali posisi padi-padi yang sudah didalam karung itu. Karena tidak ada yang berani, akhirnya menunggu pakde kliman (sekarang almarhum) atau penjaga pabrik buat ngantarin mereka sekaligus mengecek barang. Setelah itu barulah mereka berani mengatur posisi padi kembali. Kami yang tadinya cuek sekarang jadi merinding si bulu ketek, eh bulu roma maksudnya, *hehe.

Bahkan kakak supupuku yang lagi asyik bermain, tidak jadi melanjutkan mainnya, dan malah ikutan duduk dekat pakde-pakde buat dengarin lagi. Nah dilain waktu, pernah ada pakde kliman lagi tungguin pakdeku. Karena tak kunjung datang sore itu,datanglah simbah mandor. Mereka sedang mengecek barang simpanan digudang. Dan digudang yang selalu dikunci itu, tepat berada dihadapanku duduk, katanya terdengar suara wanita menangis.

Padahal gembok pintu gudang ini tidak pernah terbuka, kecuali si pemilik atau mandor yang buka. Sontak mereka saling berpandangan dengan penuh tanda tanya. Siapa yang menangis didalam gudang itu? Sontak pada merinding dan keluar dari pabrik padi untuk mengecek, apakah suara itu benar-benar didalam gudang atau tidak. Tapi anehnya suara itu hilang, bahkan tidak ada seorang perempuan pun disamping pabrik atau belakang.

Gara-gara diceritain horor kami pun enggan main kedalam pabrik lagi. Karena memang suasana pabrik kagak enak sejak cerita horor, seolah-olah ada yang ikut nimbrung, terlebih lagi sepi karena berada dipinggir dekat jalan area TPU. Dan beberapa tahun kemudian hingga sekarang, pabrik padi ini off atau tidak difungsikan. Entah karena kerusakan apa. Jadi tambah serem dong kalau kosong melompong, *hehe. Sudah dulu ya reader, pegal juga nih keriting dah jempolku, *hehe. Bye-bye, wassalam.

Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya… :D
by:
penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts

Please vote Pabrik Padi
Pabrik Padi
5 (100%) 1 vote