Pak Budi Si Penjaga Kost (Bagian 2)

Sebelumnya pak budi si penjaga kost. Aku yang penasaran dengan apa yang terjadi kemudian mendesak pak budi menceritakan alasan dia menyuruh kami meninggalkan kostan tersebut walaupun cuma tiga jam saja. Pak budi terdiam cukup lama dan mulai berkata kalau dia tidak boleh menceritakan apa yang sebenarnya terjadi didalam kostan tersebut karena kalau itu sampai terjadi maka dia akan menjadi tumbal dari peristiwa yang terjadi disana dikemudian hari.

Mendengar itu sejenak aku pun terdiam tapi rasa penasaran yang menggelayuti pikiranku kembali muncul dan mendesak pak budi untuk menunjukannya kalau seandainya dia tidak mau bercerita. Pak budi kemudian berkata kalau aku boleh melihat apa yang terjadi didalam sana asalkan jangan sampai terlihat oleh “mereka” yang ada didalam. Aku sejenak terdiam tetapi rasa penasaranku yang besar membuat aku menyanggupi apa yang dikatakan pak budi.

loading...

Akhirnya dengan perlahan pak budi mengajakku mendekati gerbang kostan. Dengan hati-hati dia kemudian mengambil sebuah bata yang kelihatannya memang sengaja diletakkan disana untuk mengintip kedalam halaman kostan. Perlahan aku mendekatkan mataku kedalam lubang itu dan aku sangat terkejut, didalam halaman kostan itu telah berdiri beberapa orang mengenakan pakaian hitam.

Orang-orang itu terlihat pucat dan kurus sekali seperti tulang dibalut kulit, menyeramkan sekali kelihatannya. Mereka kemudian berkumpul dan terdengar seperti mengucapkan mantra-mantra menggunakan bahasa yang tidak aku kenali. Anehnya tiba-tiba secara spontan aku mengikuti ucapan yang mereka katakan walaupun saat itu aku tidak mengerti bahasanya dan apa artinya.

Segera setelah selesai mengucapkan mantra-mantra itu tiba-tiba mereka menyeret kambing yang ada didalam halaman kostan itu dan dengan secepat kilat salah satu dari mereka kemudian mematahkan kepalanya sampai kepala kambing itu terlepas kemudian segera meminum darah segar yang mengalir. Sedangkan beberapa orang dari mereka kemudian berebut dan menarik bagian tubuh kambing kemudian mereka makan mentah-mentah. Setengah mati aku terkejut dengan apa yang aku lihat, tetapi untuk melepaskan pandanganku akau tidak bisa karena aku merasa ditahan oleh sebuah kekuatan besar untuk terus melihat apa yang terjadi.

Mereka semua memakan kambing itu sampai habis tanpa bersisa. Kemudian satu persatu tubuh mereka tiba-tiba bergerak masuk ke dalam dua buah pohon mangga besar yang ada disana, dan menghilang tanpa jejak, menyisakan seorang lelaki tua yang ternyata terus memandangiku. Aku tersentak kaget tetapi aku tidak bisa menghindar darinya saat dengan cepat dia mendekatiku dan dari balik tembok kostan tiba-tiba tangannya keluar menembusnya dan menusuk tepat sisi kanan perutku.

Darah mengucur sebentar tetapi kemudian lukaku menutup menyisakan sebuat tanda berbentuk sabit didalam kulit perutku. Seketika aku terjatuh dan orang tersebut menghilang dari pandanganku. Aku shock melihat pemandangan tadi, segera aku berpaling kepada pak budi yang sedari tadi ada dibelakangku. Kulihat dia tersenyum dan memberikanku kunci gerbang kostan itu sambil berkata sesuatu.

“Sekarang kamu sudah resmi menggantikanku sebagai penjaga kostan ini, ingat tanggal ini setiap tahunnya akan terjadi hal yang sama seperti yang kamu lihat tadi. Jangan biarkan ada manusia yang tertinggal didalam saat kejadian itu terjadi karena mereka akan memakannya, selalu sediakan kambing sebagai penggantinya. Jangan mencoba berlari dari tanggung jawabmu itu karena mereka telah memilihmu, jika kamu berusaha menghindar mereka akan memburumu dan menjadikanmu sebagai tumbalnya dan pasti akan menemukanmu karena kamu sudah diberi tanda. Ingat hindarkan korban manusia”.

“Satu lagi” kata pak budi, “kamu tidak akan pernah bisa meninggalkan kota ini sampai ada penggantimu yang secara suka rela mau melihat ritual tersebut”. Aku hanya terpaku diam mendengarkan apa yang dikatakan pak budi yang perlahan meninggalkanku sendiri didepan gerbang kostan itu sambil memegang kuncinya. Badanku kaku, mulutku tidak bisa berbicara, sendi-sendi tubuhku terasa sakit tak terkira.

Tiba-tiba jam tanganku berbunyi menandakan kalau waktu sudah menunjukan jam sembilan. Segera tubuhku bisa digerakkan, ingin rasanya aku mengejar pak budi yang semakin jauh melangkah meninggalkanku sampai dendi dan wawan tiba-tiba sudah berada disampingku dan berkata “pak budi tolong bukain gerbangnya aku mau ambil dompetku yang ketinggalan dikamar”.

Aku terkesiap “pak budi? Aku?” bergegas aku masuk kedalam kamar kostanku meninggalkan dendi dan wawan yang keheranan meihat tingkahku. Segera aku bercermin dan ternyata mereka benar wajahku sudah berubah menjadi wajah pak budi si penjaga kost.

Namaku yuda walaupun berwajah pak budi, kalau ada pembaca yang ingin menggantikanku dengan senang hati aku akan membimbingnya. Cari kostan yang penjaganya bernama pak budi dan aku akan dengan senang hati akan menyambutmu dikostan ini. Sekian.

Yandi Lalu

Yandi Lalu

Facebook – Yandi Lalu »

Instagram – @yandilalu

All post by:

Yandi Lalu has write 87 posts

Please vote Pak Budi Si Penjaga Kost (Bagian 2)
Pak Budi Si Penjaga Kost (Bagian 2)
5 (100%) 1 vote