Pak Budi Si Penjaga Kost

“Khusus untuk esok hari saya minta pada kalian jangan sampai ada yang terlambat bangun, segera setelah subuh sebelum jam enam pagi, segera pergi tinggalkan kamar kalian sampai jam sembilan saja, dan setelah itu kalian boleh kembali dan beraktivitas seperti biasa”. Itulah yang di ucapkan pak budi, si penjaga kost yang baru aku tempati dua bulan terakhir, entah apa maksudnya, tetapi melihat keseriusan diwajahnya kami cuma mengiyakan apa yang dikatakannya.

Namaku Yuda (bukan nama sebenarnya). Aku baru kost ditempat ini dua bulan yang lalu. Kostan ini cukup bersih dan asri karena selain halamannya cukup luas, tempatnya juga sangat sejuk karena ditumbuhi oleh dua batang pohon mangga yang besar dan berbuah lebat sepanjang tahun. Pak budi tinggal disalah satu kamar kostan, sebagai penjaga tempat itu tidak pernah melarang kami memetik mangga yang ada dipohonnya sebanyak kami mau, bahkan saking baiknya pak budi juga tidak berkeberatan saat kami meminta ubi jalar yang dia tanam disalah satu sisi halaman kostan kami cabut untuk dimasak dan kami konsumsi.

Di kostan ini aku dan dendi adalah penghuni yang terakhir masuk. Jumlah kamar pada kostan ini hanya delapan kamar dan dimasing-masing kamar sudah dilengkapi dengan kamar mandi dan dapur kecil. Dengan fasilitas tersebut sebenarnya harga sewanya relatif murah dibandingkan dengan kostan disekitarnya. Mendapatkan kostan ini membuatku merasa sangat beruntung.

Sebenarnya pemilik kost bisa memanfatkan halaman kost yang masing cukup luas menurutku untuk membangun paling tidak delapan kamar lagi, tetapi entah apa pertimbangannya dia tidak melakukannnya, mungkin terbentur biaya. Pada malam itu setelah pak budi pergi, aku, dendi bersama wawan yang merupakan penghuni kost yang sudah satu tahun lamanya tinggal disana, berbincang-bincang dihalaman.

Aku bertanya kepada wawan sebagai penghuni kost senior, sebenarnya kenapa pak budi menyuruh kita pergi saat jam-jam tersebut. Tetapi wawan tidak memberikan jawaban yang memuaskan karena seperti yang pak budi katakan, dia akan meninggalkan kamarnya sebelum jam 6 pagi dan akan kembali nantinya setelah jam 9. Jadi dia tidak mau tahu dan tidak ingin penasaran atas apa yang terjadi dikostan tersebut. Sambil beranjak masuk kekamarnya wawan juga memperingatkan aku dan dendi agar mengikuti apa yang dikatakan pak budi si penjaga kost.

Esok harinya aku sangat terkejut karena ternyata aku baru terbangun saat jam sudah menunjukan pukul lima lewat tiga puluh menit. Bergegas aku kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan dengan buru-buru mengambil buku dan peralatan kuliahku kedalam tas dan bergegas keluar kamar karena mengingat apa yang dikatakan pak budi si penjaga kost bahwa kami harus meninggalkan kostan sebelum jam 6 pagi.

Saat aku keluar kamar, suasana kostan itu terlihat berbeda terlihat sangat menyeramkan yang membuat bulu kudukku merinding. Aku sedikit jengkel pada dendi dan wawan yang tidak membangunkanku lebih awal untuk sama-sama meninggalkan kostan ini.

Masih dalam keadaan “terpana” dengan perubahan drastis suasana lingkungan kostan, samar-samar aku melihat bayangan pak budi si penjaga kost dari arah gerbang kostan yang besar itu melambaikan tangannya menyuruhku segera beranjak dari depan kamarku dan keluar dari lingkungan kostan tersebut, tapi anehnya dia tidak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya, hanya melambaikan tangannya saja dengan wajah cemas yang melihatku tidak kunjung beranjak dari depan kamarku.

loading...

Aku tiba-tiba tersentak dari lamunanku dan bergegas berlari kecil menuju gerbang kostan yang ternyata perlahan-lahan akan ditutup oleh pak budi. Tepat sebelum gerbang tertutup dan waktu menunjukan jam 6 pagi aku berhasil keluar tepat waktu dari kostan itu sesuai anjuran pak budi yang masih terlihat cemas walaupun sekarang sudah terlihat lebih tenang karena aku sudah berhasil keluar tepat waktu.

Sebelum keluar sebenarnya aku melihat seekor kambing ditambatkan disekitar pohon ubi kayu yang ditanam pak budi. Saat itu aku bertanya kapan pak budi membawa kambing itu masuk kehalaman kostan dan sebenarnya apa yang terjadi didalam sana sehingga kami harus meninggalkan kostan itu sepagi ini.

Pak budi menatapku tajam tanpa menjawab perkataanku, dia menarik tanganku meninggalkan kostan itu menuju pos ronda yang jaraknya sekitar dua puluh meter. Sambil bernafas lega pak budi kemudian menyuruhku untuk segera saja berangkat kekampusku dan meninggalkannya mengawasi kostan itu sampai jam 9 nanti. Bersambung di pak budi si penjaga kost (bagian 2).

Yandi Lalu

Yandi Lalu

You Shouldn't Read Alone (english) » Ndak Bae Mece Mesak-Mesak (sasak) »Suka Segala Sesuatu Tentang Pesawat Khususnya Pesawat Tempur.» Menulis itu tidak mudah, jadi bagi yang ingin membagikan ceritaku sertakan nama penulisnya, karena menulis tidak semudah copy paste.» Ceritaku Orisinil kecuali yang bersumber dari link yang ditautkan diakhir cerita.»Facebook - Yandi Lalu »Instagram - @yandilalu

All post by:

Yandi Lalu has write 87 posts