Pak Umar Penunggu Tiang Listrik

Waktu kecil aku tinggal di daerah Margahayu Kencana, sebuah komplek perumahan yang cukup padat. Rumahku terletak di ujung komplek dan di depan rumahku ada sebuah tiang listrik besar, biasanya setiap subuh tiang listrik itu selalu berbunyi. Dan semua orang di situ sudah tau, biasanya jika tiang listrik sudah berbunyi pertanda sudah subuh.

Dia bernama Pak Umar, dia selalu membunyikan tiang listrik itu setiap subuh. Pak Umar adalah seorang kakek tua yang di percaya menjadi hansip di sebuah komplek. Dari aku kecil sampai sekarang, hanya pak umar yang selalu membunyikan tiang listrik itu. Walau bukan hanya pak umar yang menjadi hansip, tidak ada yang berani membunyikan tiang listrik itu kecuali pak umar.

Singkat cerita aku sudah lulus SMA, dan aku masuk perguruan tinggi di Jakarta. Aku tinggal di Jakarta bersama saudaraku, setelah kuliah di Jakarta aku jarang mengunjungi rumahku di Bandung. Hingga suatu saat kuliahku liburan berbulan-bulan. Aku memutuskan untuk pulang ke Bandung, ceritanya aku sampai ke Bandung sudah cukup larut.

Sebenarnya tidak banyak yang berubah dengan komplek perumahanku, ketika aku datang semuanya masih sama. Susunan rumahnya, jalan-jalannya dan Pak umar, sudah lama aku tidak lihat beliau. Bagiku beliau adalah sosok yang tidak banyak bicara, bijaksana dan ramah. Aku pernah punya cerita waktu kecil, pak umar pernah menolongku ketika aku jatuh di parit sekitar komplek. Orang tuaku malah menyalahkan pak umar, karena waktu itu dia sedang menggali sebuah parit kecil untuk air hujan.

Aku sudah bilang kepada orang tuaku kalau itu salahku. Aku tidak melihat sebuah lubang parit ketika aku naik sepeda. “Pak umar apa kabar?” aku turun dari taksi dengan barang-barang, pak umar hanya berdiri tidak bergeming. Dia berdiri disamping listrik dekat rumahku, sambil memegang besi yang biasa dia bawa.

Dia hanya mengangguk dan tersenyum, aku terheran-heran karena tidak seperti biasanya pak umar sekarang tidak terlalu ramah. Tapi aku tidak terlalu memperdulikan, setelah aku masuk rumah dan aku kembali melihat pak umar lagi. Ada yang aneh dengan pak umar, tidak biasanya dia bersikap dingin apalagi kepadaku yang sudah lama jarang pulang ke rumah.

Aku masuk ke dalam rumah sambil di sambut orang tuaku, setelah melepas rindu akhirnya aku bercerita kepada orang tuaku kalau aku tadi bertemu dengan pak umar. Dan ibuku terdiam, ayahku menatap ibuku dan dia memegang tanganku. Aku terheran-heran, ada apa ini sebenarnya. Dengan terbata-bata ibuku berbicara “Ica jangan panik ya, gini pak umar itu sudah sebulan lalu meninggal dunia” Aku kaget dan aku hanya bisa menganga.

Aku menutup mulutku segera beranjak dari kursi dan langsung membuka pintu dan ketika aku melihat keluar rumah. “Pak, pak umar” tidak ada siapa-siapa di situ, tidak ada seorangpun di tiang listrik itu. Aku mulai menghela nafas dan jantungku berdegup kencang. Ibu menarik tanganku, menyuruhku untuk masuk dan beristirahat. Mungkin aku terlalu lelah karena perjalanan Jakarta-Bandung. Aku mengiyakan ibuku dan masuk ke kamar, ayah dan ibu langsung beristirahat.

Di kamar aku mengganti bajuku sambil tidak habis pikir, kalau aku bertemu dengan pak umar dan dia sudah meninggal. Lalu kenapa pak umar ada di depan rumahku, kalau memang dia sudah meninggal. Rasa kantuk dan lelah menyerangku, aku mematikan lampu kamar dan berusaha menutup mataku walau pikiranku masih tertuju kepada pak umar.

Dalam keheningan dan pikiran yang kacau itu, sayup-sayup aku mendengar suara langkah kecil di depan rumahku. Langkah yang seperti terseok, aku membuka mata dan langkah itu berhenti lalu, “*Trank!” Astaga itu bunyi yang berasal dari tiang listrik yang di pukul. Pikiranku langsung tertuju kepada pak umar, aku langsung memejamkan mata tapi lama-kelamaan.

Rasa penasaranku mengalahkan rasa ketakutanku, aku membuka mataku lalu bangun dari tempat tidurku. Menghampiri jendela kamar dan perlahan mengintip dari jendela gorden. Aku membuka gorden secara perlahan-lahan, benar saja di dekat tiang listrik itu berdiri sesosok lelaki tua memakai baju hansip dengan rambut yang kusut dan muka yang datar.

Itu, pak umar. Ketika aku mengintip, seketika pak umar menghentikan pukulannya. Wajahnya berbalik melihat ke arahku, sontak aku menutup gorden itu. Aku langsung melompat ke atas kasur, menutup mukaku dengan selimut. Tenggorokanku terasa kering dan jantungku berdegup sangat kencang, aku tetap menutup mukaku dengan selimut.

Sampai aku mendengar suara, langkah kaki terseok. Aku masih sangat ketakutan, kamarku yang masih dalam keadaan gelap membuatku semakin takut. Aku perlahan membuka selimut yang menutupi mukaku, dan aku berlari ke arah saklar lampu. Ketika aku menyalakan lampu, ada pak umar berdiri di atas tempat tidurku. Dia menatap ke arahku, menatap lurus dengan wajahnya pucat yang membiru. Mulutnya menganga sambil matanya berwarna putih.

Aku ketakutan setengah mati, dan yang membuat aku sangat ketakutan adalah kaki pak umar melayang beberapa senti dari kasurku. Pak umar menggerakan bibirnya lalu memanggil namaku, “Neng, maafin bapak” Aku berusaha membuka pintu kamarku tapi pintu kamar ini tidak mau terbuka. Pak umar masih melayang-layang di atas kasurku.

Aku mengambil nafas, dan dengan lantang aku mengeluarkan suara kepada pria tua dulu yang aku kenal itu, “Aku maafin bapak, sekarang bapak pergi ya” tiba-tiba angin berubah menjadi kencang dan seketika dia menghilang. Aku terduduk lemas dan akhirnya setelah beberapa menit aku terdiam, aku mulai tenang. Aku kembali ke tempat tidurku, aku tidak tau apa yang terjadi setelah itu. Esok paginya aku langsung menceritakan semua yang aku alami kepada ibuku.

loading...

Ibuku hanya bilang, sebelum meninggal pak umar sempat menanyakan aku kepada ibuku. Katanya dia minta maaf kalau dia membuatku jatuh ke parit waktu kejadian dulu. Waktu itu, ibuku hanya bilang kalau dia sudah di maafkan dan saat itu ibu hanya emosi karena memarahi pak umar.

Karena sembarangan menggali parit di jalanan, tapi ternyata sampai meninggal pak umar masih tidak enak hati karena membuatku jatuh, padahal tadinya aku ingin menjahili pak umar. Dan sempat berpura-pura ingin menabrakan sepeda kepadanya yang sedang menggali parit kecil di jalan.

KCH

Ica

Sekedar kembali mengingatkan. “Jangan pernah baca ini sendirian” :)

All post by:

Ica has write 2,704 posts

Please vote Pak Umar Penunggu Tiang Listrik
Pak Umar Penunggu Tiang Listrik
Rate this post