Panggilan Video Call Part 2

Sebelumnya panggilan video call.

“Eh, eh. Kamu siapa sih? Kamu manusia atau setan?” Bimo mencoba meyakinkan siapa yang meneleponnya.
“Namaku Rika” balas suara si penelepon lemah.
“Rika siapa ya? Apa aku kenal elo?” Bimo menyela.

*Tut, tut, tut. Tiba-tiba telepon terputus. Bimo mengutuk lagi. “Ah, ngapain juga aku pikirin? Capek deh!” gumam Bimo sambil memeluk guling kesayangannya, dan dalam hitungan menit dia terhanyut ke alam mimpi. Keesokan harinya, di kampus, Bimo jadi tidak bisa konsentrasi dikelas. Pikirannya menerawang memikirkan kejadian tadi malam. Pak Wahyu, dosen mata kuliah matematika *diskrit yang sudah dua kali diulangnya gara-gara selalu dapat nilai E, tidak lagi menjadi fokus perhatiannya.

Selesai jam kuliah, Bimo memutuskan mendatangi alamat Rika, cewek misterius yang meneleponnya semalam. Sekalian ngebuktiin si Rika itu setan atau bukan, demikian Bimo membatin. Cari punya cari, akhirnya alamat yang ditujunya ketemu juga, jalan Puri nomor 67. Padahal Bimo sudah ketakutan setengah mati kalau alamat yang dicarinya itu adalah kuburan, seperti cerita disinetron hantu, namun ternyata bukan. Yang didapatnya sebuah rumah yang lumayan mewah, bertingkat tiga, dengan arsitektur modern. Persis seperti rumah-rumah didalam acara desain rumah yang sering dilihatnya di televisi.

loading...

*Ting tong. Bimo memencet bel. Tidak ada sahutan dari pemilik rumah. *Ting tong. Bimo memencet bel lagi. Tetap sepi tidak ada sahutan. *Ting tong. Seorang perempuan yang sudah berumur dengan pakaian tradisional Jawa keluar tergopoh-gopoh, kelihatannya pembantu dirumah itu.

“Cari siapa ya?” perempuan itu bertanya kepada Bimo.
“*Hm. Maaf! Apa benar ini rumahnya Rika?” Bimo bertanya.
“Iya, disini rumahnya Rika. Tapi” si perempuan berhenti berbicara.
“Ya, kenapa bu?” Bimo mencoba mempertegas perkataan si perempuan itu.
“Mari den, silahkan masuk dulu” si perempuan mempersilahkan Bimo masuk.

Sejurus kemudian Bimo memastikan dulu kaki perempuan yang menyuruhnya masuk itu menginjak lantai atau tidak, jaga-jaga kalau terjadi hal yang tidak diinginkan. Namun kaki perempuan tua itu menginjak lantai, begitu juga punggungnya, tidak bolong. Aman, pikir Bimo. Dia melangkahkan kaki masuk kerumah itu.

“Mari, silahkan duduk! Nama saya Mbok Kanti, saya pembantu dirumah ini. Sebentar saya ambilkan minum” sambung perempuan itu menyadarkan Bimo yang terbengong-bengong sendirian.
“Oh ya, terima kasih” kata Bimo.

Tak lama menunggu, pembantu rumah itu keluar membawa segelas minuman dingin. Kebetulan lagi haus, kata Bimo dalam hati. Lagi-lagi dia memperhatikan dengan saksama isi minuman yang disodorkan Mbok Kanti, takut kalau isinya tiba-tiba bukan air. Setelah memastikan gelas ditangannya berisi air benaran, langsung diteguknya habis.

“Maaf, aden ini siapanya non Rika ya?” kata Mbok Kanti memecah keheningan.
“Eh. Saya. Saya Bimo, temannya Rika, Mbok” ucap Bimo terbata.

Tentu saja tidak mungkin dia mengaku, kalau dia datang karena penasaran dapat telepon dari si Rika yang entah setan atau manusia.

“Ngomong-ngomong Rikanya mana, Mbok?” sambung Bimo lagi.
“Aduh den, maaf! Apa aden gak tahu kalau non Rika sudah meninggal karena kecelakaan mobil setahun yang lalu?” Mbok Kanti menjawab pendek.

Bimo tercengang. Dia memastikan si perempuan yang berbicara didepannya berbicara jujur atau tidak. Bisa saja kan si Mbok Kanti ini disuruh cewek misterius bernama Rika yang menelepon untuk ngerjain dirinya, sementara si Rika lagi ketawa-ketiwi dilantai atas rumah itu, karena telah berhasil dengan sukses mengerjainya, demikian pikir Bimo.

“Maaf Mbok, apa benar demikian?” Bimo mencoba memastikan.
“Benar den. Non Rika meninggal karena kecelakaan mobil persis setahun yang lalu. Dan tepat di hari ini adalah hari ulang tahunnya. Dia mengalami kecelakaan ketika sedang menerima telepon dari pacarnya sambil menyetir mobil. Tidak sadar didepannya ada truk tangki yang melaju kencang. Keadaan mobilnya ringsek, tubuh non Rika sendiri hampir tidak bisa dikenali lagi” mata Mbok Kanti berkaca-kaca.

Kelihatannya dia jujur, pikir Bimo. Karena biasanya pembantu tidak pintar berbohong, apalagi pakai acara akting segala, kagak mungkin banget, kata Bimo dalam hati. Mbok Kanti berjalan meninggalkan Bimo yang masih terbengong-bengong, menganalisa apa hubungan dia dengan peristiwa kecelakaan si Rika itu. Mbok Kanti keluar lagi, kali ini membawa sebuah foto seorang perempuan berusia kira-kira 19 tahun, sedang tersenyum, berkulit putih bersih, dengan rambut rebonding model terbaru, mirip model terkenal, Dominique. Sekilas Bimo memperhatikan foto itu.

“Ini foto non Rika, den” kata Mbok Kanti menyadarkan Bimo yang masih bingung sendiri sambil manggut-manggut. Ternyata rasa penasaran Bimo terjawab. Si Rika sudah meninggal. Dan orang meninggal tidak mungkin bisa menelepon. Mustahil banget, pikir Bimo. Sudah jelas pasti ada orang lain yang sedang ngerjain dirinya. Akhirnya Bimo permisi pulang, setelah mengucapkan terima kasih pada Mbok Kanti.

Sambil menghidupkan mesin motornya, Bimo masih berpikir, siapa orang yang iseng pada dirinya? Namun ketika kira-kira berjalan tiga blok dari rumah yang didatanginya barusan, ponselnya berbunyi lagi. Panggilan video call dari private number. Tiba-tiba entah kenapa bulu kuduk Bimo merinding. Dengan tangan gemetar, Bimo mengangkat teleponnya. Tampak kembali gambar semut-semut seperti ketika televisi sedang tidak ada siaran.

Samar-samar kini muncul wajah seorang perempuan, antara jelas dan tidak. Lama-lama makin jelas, wajah cewek yang dilihatnya didalam foto, dirumah yang barusan didatanginya. Tapi wajah dilayar ponsel itu begitu pucat, matanya menatap Bimo dengan sayu. Jantung Bimo serasa berhenti berdetak. Bimo memacu motornya sejadi-jadinya, hingga hampir menabrak tukang bakso yang kebetulan lewat. Entah karena saking takutnya, tanpa disadarinya ponselnya Bimo terjatuh ketika menabrak gerobak tukang bakso itu. Si tukang bakso marah-marah, tapi orang yang menabraknya keburu kabur.

Di jalan, tukang bakso itu merapikan gerobak dagangannya. Ketika itu tangannya mendapati sebuah benda, ponsel Bimo yang terjatuh. Dia mengangkat ponsel itu. Ada gambar semut-semut seperti ketika televisi sedang tidak ada siaran. Perlahan terdengar suara seorang cewek. “Sayang. Tolong aku! Aku butuh bantuan kamu disini sekarang”.

Adymas Art

Adymas Art

Seorang yg suka ngedit foto ,tapi sering diganggu setan ,,…….
suka nonton anime (Naruto,Boruto,Boboiboy Galaxy),suka baca/tulis cerita jangan lupa di add
Fb: Adymas Art
Instagram:@adymas_art

All post by:

Adymas Art has write 98 posts

Please vote Panggilan Video Call Part 2
Panggilan Video Call Part 2
Rate this post