Pasukan Tanpa Kepala

Hai friends, nama aku Micho aku tinggal di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Ini adalah cerita pertamaku friends, so mohon maklum ya. Tapi ini adalah kisah nyataku dan teman-temanku pada tahun 2011. Begini ceritanya, aku adalah seorang Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA) di kampusku bersama temanku Army, Adit, Bambang dan Nova. Waktu itu aku lagi ada kegiatan di suatu gunung yang bernama Tahura Sultan Adam Mandiangin.

Yup gunung itu adalah hutan lindung friends dan di sana merupakan bekas penjajahan belanda friends, banyak peninggalan belanda seperti kolam belanda, benteng belanda, pemandian putri, dan lain-lain friends. Kegiatan kami tidak lain dan tidak bukan adalah pendakian gunung friends, kami berangkat dari kota Banjarbaru pukul 16.45 WITA dan sampai 17.15 WITA di Mandiangin.

Setelah sampai di sana kami mencek alat-alat kami sebelum kami melakukan pendakian dan nongkrong dulu di warung, ngopi-ngopi dulu friends biar semangat. Singkat cerita jam sudah menunjukan 22.12 WITA, saatnya kami pemanasan dan berdo’a sebelum melakukan kegiatan pendakian. Setelah selesai pemanasan dan berdo’a, baru kami mau memulai pendakian kami sudah merasakan hal yang aneh, seperti bau yang tidak sedap dan ada yang mengawasi kami dari kegelapan hutan.

Itu semua membuat kami takut “mic kamu mencium bau busuk gak ?” Ujar Army, “huussttt jangan diomongin” bilangku, “tau nih army yang kayak gitu malah diomongin bikin takut aja” sahut bambang. Dan kami memulai pendakian kira-kira sudah 3 jam lamanya kami mendaki, gelapnya hutan semakin mencekam seolah-olah ingin menelam kami semua.

Saat asyik jalan kami mendengar suara hentakan kaki yang begitu keras dari belakang kami “woi, stop dulu dong kalian dengar gak suara orang jalan tuh” ucap army sambil ketakutan “memang gila nih army dari tadi bikin takut kita-kita aja” sentak nova, “iya nih army bikin orang parno aja dalam hutan” sahut adit. “Sudah diam jalan aja terus, gak perlu ada yang di khawatirkan” bilangku sambil nenangin diri.

loading...

Kami pun jalan terus, sampai kami menemukan benteng belanda, ketegangan pun mulai memuncak saat teman ku melihat pasukan belanda tanpa kepala di depan benteng belanda tersebut. “Itu apa, itu apa kayak orang tanpa kepala” ujar nova yang mukanya pucat abis, dan kami semua hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun setelah mendengar nova berucap seperti itu.

Ternyata bukan hanya nova yang melihat pasukan belanda tanpa kepala itu, kami semua melihatnya dengan jelas mereka membawa senjata dan berpakaian rapi hanya saja tidak ada kepalanya, kami semua hanya diam dan gak bisa bergerak berbicara pun susah. Sedangkan aku hanya membaca do’a apa saja yang aku hafal, hal hasil penampakan tersebut hilang begitu saja.

Kami istirahat sejenak dan saling memandang satu sama lain, “ayo kita lanjutkan sebentar lagi puncak” kataku sambil memberi semangat ke teman yang lain. Dan akhirnya kami sampai puncak dengan selamat begitu pula dengan pulangnya sampai Banjarbaru. Begitulah kisah nyata ku, maaf bila ada yang kurang dan kata-kata yang kurang pas. Terima kasih friends.

Share This: