Patung Nyi Roro Kidul

Aku terbangun karena dikagetkan oleh suara jam yang menunjukan pukul 12 malam. Aku berjalan keluar dari ruang kerjaku dan beranjak menuju dapur untuk kembali membuat segelas kopi hitam berarti sudah gelas ke 5. Pekerjaanku kali ini mengharuskanku bergadang terus untuk menyelesaikan deadline terakhirku yaitu membuat sebuah patung.

Malam itu aku tidak berada dirumahku sendiri, aku berada di rumah almarhum kakek. Aku sekarang  mengerjakan tugas deadline ku disini, karena dulu kakek merupakan seorang seniman. Alat-alat untuk membuat karya seni semuanya lengkap disini. Sayangnya kakek sudah meninggal, kalo saja beliau masih ada pasti aku akan dibantunya untuk mengerjakan tugas ini.

Aku pun berjalan keruang kerjaku dan kembali memegang tanah liat untuk membuat patung seorang wanita. Sebuah patung seorang wanita yang kita kenal sebagai kanjeng ratu nyi roro kidul, inspirasi utamanya adalah sebuah lukisan nyi roro kidul buatan kakek yang terpampang diruang kerja ini dan yang aku jadikan sebagai contoh untuk patungku ini.

Pekerjaanku belum sampai setengah jalan, baru menyelesaikan dari perut ke bawah. Sebenarnya tanahku sudah mau habis, terpaksa aku keluar dan mulai mencari tanah disekitar rumah kakek. Dengan berbekal senter aku mencari tanah dan aku mulai menyusuri daerah sekitar, sekelilingnya memang pepohonan yang rimbun dan juga daerah pesawahan.

Aku pun mulai meraba-raba tanah yang kira-kira cocok, dan tiba-tiba lalu seketika aku terdiam mendengar suara seperti anak ayam. Aku menengok dan menyorot senter disekitar, tapi tidak ada ayam sama sekali. Aku lanjut mencari tanah dan akhirnya aku menemukan tanah yang cocok, berada dekat rimbun pohon-pohon pisang.

Aku mulai mengeruk-ngeruk tanah itu dan memindahkannya kedalam karung. Aku menyimpan senterku di tengah batang daun pisang agar bisa menerangi tanah itu. Dan sesekali masih terdengar suara anak ayam mengitariku, aku coba untuk memanggil anak ayam itu tapi tidak berhasil. Malahan, suara itu semakin menjauh sekarang dan ketika suara itu semakin menjauh.

Tiba-tiba aku merasa ada bayangan yang lewat didepan senterku dan sepertinya bayangan itu mengenai senter itu hingga terjatuh. Seketika keadaan menjadi sangat gelap, mungkin hanya angin yang membuat senterku jatuh. Aku meraba-raba ketanah untuk mencari senter yang jatuh dan mati itu. Ketika aku meraba, aku memegang sesuatu.

Sebuah benda keras namun itu bukan senter yang aku cari. Benda ini bentuknya persegi dan terukir seperti pahatan, tangan kiriku masih memegang benda asing itu dan tangan kananku mulai mencari-cari lagi ke tanah dan akhirnya aku mendapatkan senterku. Karena penasaran aku langsung menyalakannya dan mengarahkan senterku ke benda yang aku pegang itu.

Dan ternyata benda itu adalah nisan, dan posisiku bersimpuh sekarang ini ternyata tepat diatas sebuah kuburan. Aku kaget dan panik bukan main, jantungku berdetak sangat kencang lalu perasaanku mulai tidak enak dan tiba-tiba bunyi anak ayam pun mulai terdengar kembali. Kali ini suara anak ayam itu terdengar sangat jelas.

Sepertinya berada diatasku, dan saat aku melihat ke pohon pisang yang ada diatasku. Sesosok wanita dengan rambut panjang dan badannya terbalut kain putih sedang berdiri dibalik batang pohon pisang itu terlihat wajahnya sangat menakutkan seperti bekas tersiram air panas. Suara anak ayam itu sangat jelas berasal dari mulutnya yang sangat menakutkan dan semakin lama berubah menjadi suara tertawa cekikikan yang sangat menyeramkan.

Spontan aku membanting senter ke arah sosok itu, dan sosok itu melayang ke atas sambil di iringi suara tertawa cekikikan. Aku langsung berdiri dan berlari namun aku terjatuh karena menginjak batu nisan yang lainnya. Aku tidak memperdulikannya dan kemudian bangkit lagi berlari masuk ke dalam rumah, aku segera mengunci pintu dan mengurung diri didalam ruang kerjaku.

Jantungku seakan mau lepas karena berdetak sangat cepat, keringat dingin mulai mengucur dan belum sempat aku mengatur napas. Terdengar ada seseorang mengetuk pintuku, awalnya aku berpikir mungkin ada seseorang yang mendengar teriakanku dan mungkin akan membantuku namun ternyata semua pintu dan kaca rumah ini digedor sangat keras.

Aku menutup telingaku dan berteriak sekencang-kencangnya, sesaat kemudian semuanya menjadi terang dan tidak ada suara yang mengetuk lagi dan tiba-tiba saja aku seperti melihat ada bayangan yang lewat, ataukan lampu ini mulai akan mati. Aku bangkit perlahan dan mulai melihat ke arah jendela untuk memastikan diluar tidak ada apa-apa.

Dari pantulan kaca jendela itu aku melihat bayangan wajahku sendiri, dijendela yang berada diseberangku itu. Aku beranjak sedikit tapi bayangan wajahku yang ada dijendela itu tidak ikut bergerak. Aku perhatikan dengan jelas ketika aku memegang pipi tidak ada bayangan tanganku disana. Aku perhatikan lagi tapi, tangan itu mulai bergerak ternyata itu adalah bayangan sosok seorang wanita dan wajahnya itu persis seperti yang aku lihat di pohon pisang tadi.

Rusak, tidak beraturan seperti bekas tersiram air panas dan sosok itu mulai terlihat jelas dan dia mulai mengetuk-ngetuk lagi jendela namun bukan dengan tangan tapi dengan dahinya. Aku seakan dipaksa untuk melihat terus sosok itu, badanku sama sekali tidak bisa digerakan. Aku mulai membaca doa yang aku hapal didalam hati.

Semakin aku membaca doa, semakin gencar aku mendengar teriakannya. Teriakan itupun semakin menjauh dan berubah menjadi suara tertawa perempuan. Semakin lama suara itu semakin hilang, aku pun mencoba menarik napas dan menenangkan diri. Dan suara adzan awalpun mulai terdengar, aku duduk dan mengambil gelas kopi yang aku buat tadi.

loading...

Saat aku akan meminum kopi itu, ternyata rasanya sudah berubah. Aneh sangat tidak enak bahkan sama sekali tidak terasa seperti kopi. Tanpa memperdulikannya aku pun berencana ingin tidur saja, saat aku akan beranjak masuk ke dalam kamar. Aku merasa ada yang aneh, patung yang aku buat itu sekarang bertambah sudah selesai sampai bagian leher bahkan tangannya pun sudah jadi.

Sangat aneh sekali, padahal terakhir aku ingat sekali saat aku mengerjakannya masih sampai dibagian perut. Bulu kuduk seketika langsung berdiri semua, aku menutup pintu ruang kerja dan aku pun menyegerakan untuk tidur. Saat tidur itulah didalam mimpi, aku didatangi almarhum kakek dan berkata dalam mimpiku itu bahwa patung nyi roro kidul itu jangan diteruskan dan harus dihancurkan untuk kebaikan diriku juga.

Aku sedikit tidak paham, aku bangun dan kembali melihat keruang kerja. Patung nyi roro kidul, dan patung itu membuatku merinding. Sebuah patung nyi roro kidul tanpa kepala, aku keluar dan melihat ke kebun pisang itu ternyata memang disana ada sebuah kuburan. Dari nisan tersebut sepertinya itu kuburan wanita dan akhirnya ada seorang bapak-bapak menghampiriku dan bertanya, aku pun menceritakan kejadian semalam dan memperlihatkan patung itu.

Bapak itupun mengungkapkan sebuah misteri yang akhirnya baru aku tau bahwa menurut cerita orang sekitar, kakek-ku itu adalah pengikut nyi roro kidul dan kuburan yang ada di pohon pisang itu adalah kuburan salah satu pembantu dirumah ini yang meninggal tidak wajar saat kakek sedang menyelesaikan lukisan nyi roro kidulnya. Aku pun lalu teringat pesan kakek di dalam mimpi agar tidak menyelesaikan patung nyi roro kidul.

Share This: