Pemakan Daging

Setelah berbulan bulan dipadati dengan tugas ini dan itu, belum lagi persiapan UAS, akhirnya liburan tiba. Rasa rindu dengan kampung halaman, dengan kawan masa kecil, membuatku ingin segera pulang kampung. Aku seorang mahasiswa rantauan, aku kuliah di luar kota. Aku tinggal disebuah desa yang terletak di pinggiran sebuah kota sebut saja kota B. Saat dalam perjalanan menuju kampung halaman, aku tersenyum sendiri di dalam sebuah mobil travel.

Tiba-tiba terlintas di pikiranku sosok kawan lamaku, kawan masa kecil di kampung. Bagaimana kabarnya? sejak aku memutuskan kuliah di luar kota kami lost contact, bagaimana dia sekarang? apa dia sudah sukses? terakhir aku dengar dia menjadi seorang pengusaha daging. Ya sejak kecil dia memang sangat menggemari daging, segala jenis daging pernah ia makan, mungkin satu pengecualian untuk daging manusia haha.

Satu ide muncul di pikiranku, bagaimana jika aku bertamu saja ke rumahnya, semoga dia tidak pindah. Dua hari aku berada di kampungku di hari ke-3 aku memutuskan mengunjungi temanku itu. Saat aku hampir sampai, aku dibuat penasaran oleh satu rumah yang di depannya terparkir mobil polisi. Kulihat ada sepasang suami istri yang wajahnya terlihat sedang bersedih, bahkan si istri terlihat menangis di pelukan suaminya. Ku hiraukan saja, aku sudah sampai di depan rumah kawanku.

Tanpa basa basi aku tekan bel, tak lama pintu terbuka dan syukurlah si empu nya rumah belum pindah. Dia amat kaget, dia histeris dan langsung memeluk diriku. Aku sangat senang, dia mempersilahkan aku masuk dan mengajak ku duduk di ruang makan. Kebetulan, sangat kebetulan kau datang hari ini, aku sedang mencoba resep baru dengan menu daging. Aku tersenyum, wajar saja dia pencinta daging, jadi dia juga mahir dalam mengolah daging.

Saat melihatnya memasak, aku mencoba basa basi. “Hey, rumahmu sangat sepi, kemana orang tua mu?” tanyaku. “Oh, 5 bulan lalu ayahku meninggal karena serangan jantung, lalu 2 bulan setelahnya ibuku juga meninggal karena stroke, sekarang mereka sudah damai”. Dia bercerita sambil mengusap perutnya, mungkin dia sudah sangat lapar, pikirku.

“Lalu tetangga mu itu, mengapa di rumahnya ada mobil polisi? ku lihat mereka sedang mengalami masalah yang berat” tanyaku lagi. “Oh ya mereka memang dalam masalah, 1 bulan lalu anak mereka yang masih berusia 6 tahun hilang, ada kemungkinan diculik dan belum ditemukan sampai saat ini” jawabnya. “Oh begitu” sahutku. Saat menungguinya memasak, iseng-iseng aku melihat isi dapurnya. Pisau-pisau besar banyak menggantung di dinding dapurnya.

Aku tidak heran, dia seorang pengusaha daging. Tiba-tiba saja aku merasa ingin ke kamar mandi. “Hey dimana kamar mandi? Aku ingin buang air kecil” tanyaku. “Oh disebelah sana, kau lihat mesin cuci itu, belok ke kiri, disana letak kamar mandi” jawabnya sambil mengaduk masakannya. Aku segera menuju kamar mandi, saat aku melewati mesin cuci, disebelahnya terdapat cucian yang masih kotor, mataku tertuju pada satu pakaian yang jatuh dari tumpukannya.

Terdapat noda merah yang sudah kering. Mungkin bekas darah setelah dia mengiris daging, batinku. Setelah dari kamar mandi aku segera kembali dan ternyata makanan sudah siap di meja. Dia mempersilahkanku duduk dan mencicipi masakannya. “Wow lezat, seharusnya kau jadi chef saja” candaku. Dia tertawa terbahak-bahak. “Kau kan pemakan daging, daging apa saja yang pernah kau makan? Hm, jangan-jangan kau mencampur daging manusia di makanan ini?” candaku lagi.

Dia tersenyum dan berkata “Tenang saja, tidak ada daging manusia di masakan ini. Lagi pula daging manusia tidak seperti ini rasanya”. Deg jantungku seolah berhenti berdetak, tubuhku gemetar dan lemas. Aku pun segera menghabiskan air putih di gelas yang ia siapkan dan pamit pulang. Dan sejak saat itu aku tak pernah lagi datang ke rumahnya dan segera kembali ke kota tempat aku kuliah.

loading...

Share This: