Pemandian Air Panas

Galau adalah sebuah perasaan yang orang akan lakukan apa saja untuk menghilangkan perasaan ini, contohnya aku dan munte malam itu. Awalnya aku dan munte hanya pergi untuk makan malam saja tapi entah dari mana asalnya tiba-tiba saja muncul pemikiran dari munte untuk pergi ke pemandian air panas ciateur.

Singkat cerita malam itu pun kami menghabiskan malam minggu kami di pemandian air panas ciateur. Suasana di pemandian air panas itu sangat ramai, dan itu juga yang membuat kami berlama-lama disana. Sampai waktu pun mendekati dini hari. Munte mengajak aku untuk pulang, awalnya aku menolak. Aku berkata kepada munte untuk menunggu nanti pagi baru pulang biar gak takut dijalan.

Tapi munte berkata, “Takut apa? Hantu.. gak ada hantu lagi, hantu nya lagi pada galau di rumahnya, hehe”. Aku pun ketawa dengan kata-kata dari munte yang agak sompral. Akhirnya aku pun mengiyakan ajakan munte, dan kami pun segera bersiap untuk pulang. Sepanjang perjalanan aku dan munte berkelakar. Sampai akhirnya munte tertidur. Sesekali aku memerika spion melihat ke arah belakang, untuk melihat pengendara lain dan sekilas aku mendadak menghentikan mobilku. Aku meminta munte agar segera melihat ke pinggir jalan, seorang perempuan tengah duduk disana.

Perempuan itu tampak duduk menangis dan tidak memakai baju sehelai pun. Dia memegang sebuah kain putih yang masih bersih kelihatannya, dia menangis sambil melambaikan tangan ke arah mobilku. Tiba-tiba dia berlari dan mengetuk pintu kaca di sebelah kiri, persis di sebelah munte. Munte pun sempat berdebat untuk tidak membukanya. Tapi perempuan itu terus minta tolong, mengetuk jendela mobil sambil menangis. Aku membuka kaca mobil dan dia berkata.

“Mba tolong ya, aku sakit hati”.

Aku dan munte terperangah, ketika perempuan itu melanjutkan kata terakhirnya. Hingga aku pun mempersilahkan perempuan itu masuk. Tanpa kata-kata munte pun menatapku, dia pun seperti memberikan kode kenapa kamu membiarkan dia masuk. Sekarang di dalam mobilku terdengar suara tangisan perempuan itu yang sedari masuk kedalam mobil dia tidak berhenti menangis. Munte dan aku hanya terdiam, kemudian kami mulai bertanya dan kronologis kejadiannya. Tapi perempuan itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan kami. Dia hanya menangis dan menangis.

Sampai, mulai terasa hawa aneh. Mobilku menjadi lebih dingin, padahal kami menyalakan heater di mobil. Aku dan munte pun saling berpandangan, dia beberapa kali mengganti posisinya karena kedinginan tetapi kenapa mobilku semakin dingin. Aku memeriksa heaterku, kini pemandangan diluar semakin gelap dan lengkaplah sudah ketika hujan gerimis menyapu jalanan. Sesekali aku melihat perempuan itu lewat kaca spion. Dia hanya menangis tersedu-sedu sambil tertunduk, munte tampaknya sudah tertidur pulas lagi.

Kini hanya aku dan perempuan itu yang masih terbangun tiba-tiba aku mencium bau yang tidak sedap di mobilku. Bau nya menusuk hidungku, seperti bau bunga tapi sangat tajam. Sampai akhirnya munte pun terbangun. Dia menanyakan bau apa yang menusuk hidungnya, aku menggelengkan kepala. Aku menjawab, mungkin bau sayuran atau bunga. Aku membuka jendela untuk mencari tau, ternyata bau itu bukan dari luar melainkan dari dalam mobil kami.

Aku dan munte saling berpandangan, munte mulai membenarkan posisi duduknya seperti menyadari ada sesuatu hal yang aneh. Munte terlihat gemetar, aku memperhatikan wajahnya mulai memucat dan dia menggenggam tanganku dengan keras. Aku bertanya kepada munte kenapa, dia hanya diam dan matanya bergerak-gerak ke arah belakang.

loading...

Dan, Astagfirullah badanku mulai gemetar juga. Apa yang kulihat didalam mobil membuatku ketakutan setengah mati. Perempuan dibelakangku sudah berhenti menangis tapi pemandangan di kursi belakang membuatku yakin kalo perempuan itu bukan manusia. Aku melihat dengan mata kepala sendiri, dia berusaha memutar kepalanya dan astaga perempuan itu melepas kepalanya. Dia kemudian menaruh kepalanya di pangkuannya dan melanjutkan lagu bahasa jawa yang membuat badanku membeku. Aku tidak bisa berbicara sepatah katapun.

Dan sebuah kepala muncul di sela-sela tempat duduk antara aku dan munte. Aku kaget dan perempuan itu mengambil kepalanya lalu tertawa cekikikan sambil menghilang dari dalam mobil. Aku menginjak gas dan kulihat munte menangis ketakutan. Aku kini tau apa yang harus aku lakukan, hingga kini tanpa sadar aku mengebut dalam kecepatan tinggi.

Sesampainya di kost kami segera masuk ke dalam kamar, langsung menutup pintu dan menguncinya. Kami berdua terbaring lemas dan masih ketakutan dibalik selimut. Lalu tiba-tiba bunyi telepon berdering, aku dan munte saling berpegangan erat. Aku mengangkat telepon itu dan terdengar sebuah suara. “Tiwi, kenapa kamu tinggalin aku. Aku masih ada di kolam pemandian air panas ciateur ini, terus aku ditinggalin?” Terdengar suara munte menangis di telepon, aku tidak tau apa yang terjadi. Jadi ini, astaga siapa yang bersamaku ini.

Share This: