Penampakan Badan Transparan di Studio Foto

Aku bekerja di salah satu mini studio foto di kotaku. Sekitar setahunan, tempat kerjaku di renovasi, di bangun lantai atas. Setelah renovasi selesai, aku kebagian jaga di lantai atas. Gambaran lantai atas yang aku tempati, seperti suatu lorong panjang dengan lebar sekitar 4-5 meter, tanpa kaca, jendela, pintu atau apalah yang lain, hanya pagar (outdoor). Saat pagi-sore, hanya di temani angin yang berhembus, saat malam di temani lampu remang-remang, meskipun seperti banyak lampu yang menyala, tetap saja suasana remang-remang.

Nah disini ceritaku berawal, entah malam minggu, atau hari libur yang lain. Waktu itu studio fotoku ramai sekali sampai mengantri dan pusing aku di buatnya, maklum hanya sendiri. Ada segerombolan ABG yang mau selfi, aku terima dengan ramah. Setelah berfoto, mereka menunggu hasil foto tersebut dengan bermain-main ponsel mereka, maklum dulu belum ngehits android. Aku perhatikan, mereka memotret pemandangan lorong.

Satu menit, dua menit, sepuluh menit, lima belas menit, tiba-tiba mereka berteriak dan lari tunggang-langgang meninggalkan ponsel salah seorangnya di lantai, sebut saja mereka 1, 2, 3, 4.
1: ponselku, mana ponselku.
2: gak tahu, aku gak pegang.
3 dan 4: aku ya gak pegang.

1: jangan-jangan ketinggalan disana.
2, 3, 4: (ngintip).
4: iya itu disana.
1: sana ambil ponselnya.
2: gak mau, kamu saja.
3: yang pegang ponsel tadi siapa, itu yang ambil.

perdebatan lama, sampai ku lihat mereka bersama-sama jalan ke lorong buat ambil ponsel, lalu ku hentikan langkah mereka. A (aku).
A: dek ini fotonya sudah selesai.

Tanpa berkata-kata, mereka langsung membayar dan pulang. Waktu jam pulang kerja, aku di jemput teman-teman buat sekedar jalan-jalan mengisi perut. Sebelum jalan, kita mampir di salah satu rumah teman, ada seseorang menyapaku.

D: mbak tadi yang jaga di studio ya.
A: iya dek, tadi yang foto sama teman-temannya ya.
D: iya mbak.
A: kok ada disini?
D: aku adiknya mbak ifa mbak (temanku).
A: walah.

D: mbak gak takut kerja disana?
A: memang kenapa dek, biasa saja lah.
D: mbak tadi gak lihat aku tadi lari-lari sama teman-temanku?
A: lihat kok, paling juga takut ya di lorong.
D: sebenarnya gak takut mbak, tapi tadi ada penampakan

Aku dan teman-temanku gak percaya, dia menunjukkan hasil potretannya di lorong tadi yang membuatnya kabur.
A: lah ini kan temanmu yang tadi foto sama kamu.
D: bukan mbak, perhatikan baik-baik.

Aku perhatikan, memang badannya agak transparan sih, tapi ekspresinya tersenyum dan gak pucat kok.
A: efek kamera kali itu
D: enggak mbak, temanku loh gak pakai baju ini.

Karena penasaran, aku buka laptop dan mencari file foto mereka di studio tadi. Benar saja temannya yang asli pakai kemeja putih motif bunga-bunga ungu dan kerah bajunya warna ungu, rambut di kuncir kuda. Sedangkan yang ada di hasil potretnya, pakai kemeja putih tapi kerahnya pun putih, setelah di zoom, itu bukan motif tapi bercak darah. Rambutnya pun pendek sebahu dan di gerai begitu saja. Sontak aku terdiam dan bulu kudukku berdiri, selama ini ada penunggu yang selalu melihatku dari lorong itu.

loading...