Penampakan dan Hantu Mengamuk

Malam itu Cirebon di landa hujan lebat, beserta angin yang sangat kencang. Jam menunjukkan pukul 23.00 malam, saya pun belum bisa tertidur karena suara petir yang sangat keras. Alhasil, saya hanya bisa mondar-mandir tidak jelas antara ruang keluarga dan ruang tamu. Saya pun kemudian duduk di kursi ruang tamu sambil melihat ke arah luar melalui jendela.

Saat saya memperhatikan ke arah trotoar di depan rumah, samar-samar saya melihat seseorang berdiri di trotoar itu sambil hujan-hujanan dan pandangannya ke arah jalan raya. Terbersit dalam hati saya, ngapain orang tersebut berdiri disitu? Apa dia orang jahat? Seakan sosok itu mendengar ucapan di hati saya, dia mengarahkan pandangannya ke arah jendela dimana saya melihat dia! Saya langsung menundukkan kepala untuk tidak melihat sosok itu. Tidak berselang lama, saya coba mengintip lagi dan ternyata, sosok penampakan itu sudah tidak ada!

Saya pun kemudian lari menuju kasur dan memaksakan diri untuk tidur. Di kamar orang tua saya, ternyata ibu belum bisa tidur karena di atas genteng ada suara seng yang di seret angin “*sreek. Sreek” dan kemudian seng tersebut di jatuhkan ke tanah. Bapak yang biasanya tidak takut apapun, pada malam itu tidak berani keluar rumah untuk mengecek apakah benar seng tersebut berjatuhan di tanah. Walaupun malam itu berisik diatas kamar ibu saya, anehnya hanya ibu dan bapak saja yang mendengar.

Besok paginya ibu menceritakan perihal kejadian tadi malam dan kami pun mengecek ke belakang rumah apakah seng tersebut berjatuhan di tanah. Saat kami cek, ternyata tidak ada satu pun seng jatuh! Semua masih terpasang di tempatnya. “Jadi tadi malam itu apa?” tanya ibu. Di tengah keheranan itu, tetangga kami seperti bi mia dan bi nari datang ke belakang rumah kami dan bertanya kepada ibu saya. “Bu haji (ibu saya biasa di panggil itu oleh tetangga) tadi malam kenapa? Kok kayak kirik (anjing) menangis?” tanya bi mia. Pernyataan tetangga itu membuat kami binggung karena apa yang di dengar orang tua saya berbanding terbalik dengan yang di dengar tetangga.

Saya kemudian teringat kejadian yang saya alami tadi malam kepada orang tua dan tetangga. Karena saya menceritakan seperti itu, akhirnya bi mia yang telah tinggal di samping rumah kami selama 20 tahun buka suara. Dulu sebelum kami tinggal di rumah itu (rumah kami), tinggalah seorang bapak bernama pak rasta. Bapak ini tidak pernah bersosialisasi dengan tetangga dan tinggal seorang diri tapi anehnya walaupun bapak itu tinggal sendiri, rumah yang dia tinggali itu selalu ramai dengan suara orang ngobrol maupun suara orang beraktivitas.

Kemudian bapak itu meninggal disitu. Begitulah penuturan dari bi mia. Dari cerita bi mia, saya menarik kesimpulan bahwasanya hantu peninggalan bapak rasta itu tidak nyaman dengan kehadiran kami terutama ibu yang rajin shalat dan membaca Al- Qur’an. Alhamdulillah setelah kejadian itu, hantu itu tidak lagi mengganggu kami.

loading...

Hingga saat ini rumah tersebut telah kami jual dan menjadi showroom sepeda motor, saat menjadi showroom tersebut ulah hantu tersebut kembali mengganggu. Insya Allah nanti saya akan ceritakan. Terima kasih kepada pembaca yang telah baca cerita saya.

KCH

Miftah Rizqi

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Miftah Rizqi has write 2,660 posts