Penampakan Hantu Wedon

Aku ingin berbagi pengalaman ketika mendengar pak Azhuri melihat sebuah penampakan hantu wedon. Awalnya, entah mengapa sejak sore dan menjelang tengah malam, angin sepertinya bertiup agak kencang di Yogyakarta. Kupikir akan hujan, tapi ternyata tidak sama sekali, karena cuaca pada waktu itu sangat cerah dan langit bertaburan bintang, bulan pun bersinar terang. Hawanya terasa dingin karena angin yang bertiup dengan seenaknya, kadang tenang kadang kencang lagi.

Sambil menunggu waktu untuk meronda tiba, kunyalakan laptopku, dan online. Lalu kuhabiskan waktu untuk membaca cerita-cerita teman penulis tercinta dan sambil diselingi Facebookan dengan teman-teman. Anak-anak sudah pada pulas tertidur sekitar jam 9 malam dan tidur di kamar eyang putri (ibu kandungku), jadi ada waktu sekitar 3 jam untuk mengisi waktu bergentayangan di dunia internet.

Jujur saja karena angin yang bertiup kencang, sedikit membuatku merinding dan kedinginan, jangan-jangan ada angin puting beliung yang muncul di malam hari, karena kulihat pohon mangga dan pohon di sekitar rumahku bergerak-gerak mengikuti terpaan angin yang cukup kencang dan kurasakan ada ketakutan dalam hati ini, karena cuacanya seperti ini. Lalu kupakai jaketku untuk mengurangi dinginnya malam. Apa lagi kamarku berada paling pinggir dari rumah induk. Ada sedikit ke khawatiran, apakah kalau anginnya seperti ini nanti ada ronda atau nggak, karena memang menurutku agak menakutkan kondisi cuacanya tapi segera ku terbenam dalam membaca cerita hantu teman-teman.

Akhirnya tiba saatnya untuk ronda, jam 00.05 WIB, dan untunglah tiupan angin kencang berhenti. “Tok… tok.. tok” aku mendengar kentongan dipukul. Segera kumenyiapkan diri menata hati dan pikiran, dan mengeluarkan angin di perutku. Segera ku ambil tongkat saktiku yang terbuat dari bambu setelah semua pintu dan pagar rumah terkunci, lalu ngacir ke pos ronda untuk bertemu dengan teman-teman kelompok ronda malam selasa. Di Pos Ronda, sambil menunggu waktu keliling, lalu dengan gaya wartawan amatiran, aku menanyakan sambil agak memelas, kepada Pak Azhuri (nama asli, bukan nama samaran) untuk meminta dia mengingat apakah ada punya cerita atau pengalaman yang berhubungan dengan dunia mistis. Dijawab ada, lalu seperti inilah ceritanya.

Saat itu, saya masih kecil, kelas 2 SD, berumur 9 tahun. Kalau nggak salah sekitar tahun 1965. Rumah saya dulu di daerah Berbah – Sleman. Waktu itu saya dengan kakak saya pergi nonton pertunjukan wayang kulit di kampung tetangga, yang jaraknya kurang lebih 5 km. Pada saat itu belum ada listrik dan jalan pun belum sebagus sekarang ini. Yang namanya pertunjukkan wayang kulit, pasti akan selalu dicari, karena saat itu belum banyak hiburan-hiburan seperti sekarang ini. Dari rumah sekitar jam 8 malam, saya dan kakak berangkat dengan berjalan kaki menembus gelapnya malam, melewati sawah-sawah dan hutan kecil, tidak ada perasaan takut saat itu. Kami tidak membawa penerangan apa pun, karena sudah terbiasa berjalan di gelapnya malam.

Tak terasa hampir 1 jam kami lewati dan sampailah di tempat pertunjukkan wayang kulit diadakan, yah pasti ramailah suasananya waktu itu, banyak orang memanfaatkan acara itu untuk berjualan. Sambil menunggu pertunjukan wayang kulit yang dimulai pukul 10 malam, saya dan kakak pun membeli makanan dan minuman yang dijual di sana dengan bekal uang yang diberikan orang tua.

Lalu pertunjukkan wayang kulit pun dimulai sekitar pukul 10 malam, yah namanya anak kecil, saya dan kakak begitu antusias memperhatikan dalang yang memainkan wayang-wayang kulit dengan luwesnya, juga kami sangat menikmati alunan musik gamelan dan suara para ibu waranggono (penyanyi wanita). Dan akhirnya yang saya tunggu pun tiba, yaitu waktunya goro-goro (di sini dimunculkan tokoh-tokoh wayang yang jenaka atau punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong dengan dialog-dialog yang lucu dan terkadang menyindir atau mengkritik orang atau kondisi sosial yang terjadi secara halus).

Sekitar jam 02.00 adegan goro-goro pun berakhir, karena saya sudah mengantuk, akhirnya kakakpun mengajak saya pulang ke rumah, walaupun pertunjukkan wayang kulit belum berakhir. Lalu kami pun berjalan kaki pulang ke rumah melalui jalan yang sama seperti sebelumnya kami lewati. Sambil berjalan, kami pun bersenandung, itu kami lakukan untuk mengurangi rasa bosan selama dalam perjalanan dan juga untuk tanda bagi yang lain kalau kami adalah manusia (maklum dulu gelap belum ada listrik dan kami tidak membawa senter).

loading...

Oh ya ada pasar yang harus kami lewati, namanya Pasar Tanjung, di depan pasar tersebut ada tembok cukup lumayan panjang dan tinggi (pasar itu masih ada sampai sekarang, tapi temboknya sudah tidak ada). Saat melewati pasar itu, saya seperti melihat ada sesuatu yang tergeletak di bawah tembok itu, seperti kain kaos berwarna putih. Lalu karena penasaran dan mau mengambilnya, kami berdua mendekati kain itu untuk memastikan apakah betul atau tidak itu kaos. Saya pertama kali yang mendekati kain itu. Nah pada saat akan memungut kain itu, tiba-tiba kain putih yang tadinya pendek tiba-tiba memanjang dengan sendirinya, terus memanjang dan membentuk seperti tubuh orang dewasa terbungkus kain putih tapi dalam posisi tidur.

Saya pun terkejut melihat perubahan itu yang saya lihat secara jelas dan terpana beberapa saat, ngeri. Lalu mulai melangkah mundur akan segera kabur, tapi saat akan lari, lengan saya dipegang dan dicengkram keras oleh kakak, malah kakakku mengatakan, “Nggak usah takut, ngapain lari, kalau kamu mau tahu itulah yang dinamakan Wedon (pocong)”. Waduh, orang saya ketakutan setengah hidup, malah disuruh lihat “makhluk itu” itu sama kakak.

Kakak saya walaupun berumur 12 tahun, tapi dia orangnya memang pemberani dan nggak takut sama begituan (pasti nggak percaya ya? Tapi itulah yang disampaikan Pak Azhuri). Dia diam tidak bergerak di tempat, sambil memaksa saya untuk melihat wedon itu. Saya pun sambil memejamkan mata mengatakan, “Wegah, wedi mas” terjemahan nya “Nggak mau, takut mas”. Lalu saya dengan mata masih terpejam merengek-rengek dan memohon kepada kakak, untuk segera meninggalkan lokasi tersebut, “Ayo mas, cepetan balik ke rumah”. Tapi kakak saya seakan-akan tidak mendengarkan rengekan saya.

Saya pun tidak tahu pastinya, karena waktu si wedon pergi, saya nggak berani buka mata, entah dia menghilang langsung? entah dia berdiri terus loncat-loncat pergi lalu menghilang? saya tidak pernah tahu dan juga tidak pernah menanyakan sama kakak. Ngertinya saya diajak pergi dari tempat itu oleh kakak saya sambil terus merem karena ketakutan, kembali meneruskan perjalanan menuju ke rumah, baru saya rasa agak jauh berjalan, baru berani buka mata. Yah begitulah pengalaman pertama melihat sosok hantu wedon, dan sampai sekarang kalau ingat itu, saya masih ngeri dan sangat merinding.

Setelah selesai mendengar cerita tersebut, aku dan semua tim ronda telah berkumpul dan sudah waktunya, akhirnya kami melanjutkan perjalanan untuk berkeliling kampung sambil mengambil uang recehan dari setiap rumah yang kami lewati sambil melaksanakan kewajiban menjaga keamanan kampung supaya tetap aman. Dan setelah berkeliling selesai, kami ngepos di salah satu rumah rekan ronda. Ngopi-ngopi, dan main kartu remi sampai pukul 03.30 WIB.

Share This: