Pengalaman Bertemu Dengan “Hantu”

Assalamualaikum wr, wb. Teman-teman,  salam kenal ya. Kenalan dulu deh, namaku Andin Anindya Fitriani. Cerita ini adalah cerita yang aku alami sendiri, dan ya pastinya cuma aku yang tahu. Keep reading, enjoy ya. Kalau nggak salah kejadiannya minggu tanggal berapa lupa, pokoknya saat hunting bareng cloneccrew. Anak-anak sih bilangnya touring. *Ciaelah, gaya.

Pokoknya saat berangkat gitu, kan si aku pakai motor Leona, nggak sebut merek deh, pokoknya motornya tinggi berat saja. Nah saat ditengah alas, apa sih. Hutan lah istilahnya, nah itu dilihat dispion kayak ada orang laki-laki jalan mau nyeberang gitu, nah, kebetulan jalannya kan lurus belum nikung-nikung banget, dan pasti kalau dilihat orangnya jalan kearah selatan apa kearah utara pasti kelihatan dong, ya kan.

Nah ini saat dilihat kebelakang orangnya sudah hilang. Duh mana si aku posisinya dipaling belakang pula, akhirnya aku salip deh si teman aku cowo yang didepan. Selang beberapa saat kita berhenti ditempat orang jual bensin, didaerah lupa sih. Nah aku cerita sama si Ayu, teman aku yang hitungannya paling dekat lah sama aku. Tapi dia nggak percaya, ya sudah aku diam lagi sampai akhirnya sampai ditempat tujuan.

WAGAN (Watu Gandul/Batu Gantung) Gondang, Bojonegoro. Kita disana sekitar dua sampai tiga jam. Nggak berhenti disitu aku masih ngerasa aneh, tempatnya itu masih asri banget, belum terjamah manusia-manusia jahil, nah kan batunya itu ada yang kayak gua, tapi mustahil dimasukin orang, soalnya itu batu ketemu batu, jadinya mepet banget.

Sekilas aku nggak tahu itu real atau imagination, aku ngelihat cewek cantik banget, pakai baju warna kuning dan rok pendek bahan jeans, masuk kedalam gua batu itu, yang notabenenya mustahil buat manusia, seperti yang aku tulis diatas. Nah, aku masih nggak berani tuh bilang kepada temanku, sampai temanku si Eka nanya “ngerti bereng?” (lihat juga?), aku cuman mengangguk lemas. Akhirnya kita putuskan buat balik pulang.

Nah saat balik, kita balik kayaknya tepat saat jam 12 siang adzan dhuhur kita jalan, saat dialas yang tadi, ditempat yang tadi aku masih ingat, soalnya ada tanda rambu-rambu gitu. Temanku boncengan yang didepan aku jarak 2 motor itu tiba-tiba motornya mutar-mutar diaspal dan akhirnya mereka jatuh. Entah apa motivasi dia bisa sampai akrobat ditengah alas yang jujur seram banget, apalagi waktu dhuhur.

Aku yang pegang setir saat itu ya otomatis langsung berhenti. Posisi di jok belakang ada si teman yang aku bonceng, hampir dia terjungkal kedepan. Saat aku mau turun dari motor, aku lihat orang laki-laki yang aku lihat saat berangkat tadi. Nah aku kasih tahu temanku yang aku bonceng tadi, dia bilang dia nggak lihat apa-apa. Aku kaget *dong, aku merinding disko disana.

Mana tempatnya mendukung banget buat hantu-hantuan muncul, dan akhirnya aku gak jadi turun dari motor. Aku tunggu sambil baca-baca doa yang aku bisa, akhirnya si temanku yang jatuh tadi dibonceng sama teman yang lain. Motornya diambil alih sama temanku yang ikut nolong tadi. Kebetulan nih, ada beberapa motor kira-kira 3 kalau nggak 4 itu mereka sudah duluan jadi nggak tahu kalau ada teman kita yang jatuh.

Nah akhirnya singkat cerita kita sampai dirumah temanku yang motornya aku bawa saat berangkat tadi. Aku baru berani cerita disana soalnya rumahnya sudah nggak termasuk wilayah alas-alas itu meskipun ya tempatnya masih termasuk wilayah itu gitu. Habis itu si bapaknya yang punya rumah bilang “iyo ncen nek konowi ya nduk akeh sing tau nemoni kedadean ngonowi, makane ati-ati, akeh akehhi dungo, wes motore Amal, ben di dandani sek ae, iki maem sek ae” (iya memang disitu ya nak, banyak yang pernah lihat kejadian seperti itu, makanya hati-hati, banyak-banyakin berdoa. Sudah biar motornya Amal diperbaiki dulu, ini makan dulu) kata bapaknya temanku sambil masuk lagi kedalam rumah. Aku masih nggak berani ngomong apa-apa saat itu, aku coba numpang kekamar mandi.

“Eh, jedingmu nandi?” (Eh kamar mandimu dimana?).
“Ngguri” (belakang).
“Gak ngerti” (nggak tahu).

Si temanku ini kasih lihat kamar mandi yang jelas-jelas terpampang nyata dari ruangan kami ngumpul, saat aku mau berdiri, aku lihat mbak-mbak pakai baju hijau kalau nggak kuning. Berdiri dipintu, aku pikir itu keluarga si temanku ini, akhirnya aku putusin nanti dulu deh, eh saat aku duduk lagi si temanku tanya “kok lungguh neh?” (kok duduk lagi?).

“Lha wi, jedinge pe di gae” (Itu kamar mandinya mau dipakai), jawabku sambil melirik kamar mandi. “Ora enek wong, ndin ora usah setilah we” (Tidak ada orang, ndin jangan macam-macam kamu). Aku sontak kaget, aku lihat kekamar mandi, jelas-jelas perempuan itu masih disitu, aku belum *ngeh juga kalau itu bukan bagian dari kita (manusia). “Kae lo nganggo klambi ijo” (Itu loh, pakai baju hijau) jawabku lagi.

Aku *kekeuh karena memang aku melihatnya. “Sopo seng nganggo klambi ijo, ora enek ndin. Ngayal ae” (Siapa yang pakai baju hijau, tidak ada Ndin, kamu berkhayal). Kayaknya si temanku ini mulai jengkel sendiri. Akhirnya aku putuskan dengan berat hati aku beranikan diri bertanya pada perempuan dikamar mandi itu, namun. Setelah kakiku melangkah, baru satu langkah perempuan itu hilang, lenyap.

Jantungku memompa darah lebih cepat, bulu kudukku berdiri tanpa diintruksi, semua memandangku, aku kembali duduk ditempatku semula, saat ditanya kenapa tidak jadi kekamar mandi aku hanya bisa menjawab, nanti saja. “Andin, andin” seluruh temanku yang lain. Aku hanya bisa diam dan menanti datangnya makanan. End.

loading...

Sebenernya masih ada lagi lanjutannya, tapi next time ya kalau kalian sudah baca yang ini. Kalau kalian mungkin pingin komunikasi sama aku (pede) bisa dibeberapa sosial mediaku. Salam hangat dari Andin. See you next story.
Instagram: @fndsxx
Line: andaf162

KCH

Andin Anindya Fitriani

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Andin Anindya Fitriani has write 2,686 posts