Pengalaman Komunitas Part 2

Buat pembaca KCH yang sudah menunggu, ini adalah lanjutan cerita kemarin. Kali ini yang menulis adalah aku, namaku indra. Mohon maaf untuk admin dan seluruh pembaca jika cerita kemarin masih pengenalan dan belum seram. Kembali ke cerita sebelumnya.

Akhirnya adit memutuskan untuk kembali berdiskusi dan mengabaikan yang berada di rumah. Karena tujuan kami adalah misteri dibalik desa ini. Kami mulai kembali berdiskusi dan mempetakan semua lokasi di desa ini sampai pukul 02.00 dini hari. Adit memutuskan untuk semua tim agar tidur, karena pagi ini kami akan refreshing sebelum ekspedisi. Adit pun terbangun, jam sudah menunjukan pukul 07.00 pagi. Adit mulai membangunkanku dan yang lain untuk menyiapkan sarapan.

Mulailah yang jago masak pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan. Aku ikut ke dapur karena ingin tahu yang mereka kerjakan, kembali sisil, sedikit gambaran sisil adalah orang yang rasa ingin tahunya tinggi. Sisil penasaran memberi adit kode dengan arah matanya yang menunjukan ke arah sudut dapur. Mereka melihat seorang pria paruh baya dengan pakaian putih kusut, beliau memberi seperti memberikan nasihat dengan bahasa sunda halus “tong kadarieu, aranjeun moal arapal didieu aya naon,di desa ieu aya naon, tos arangkat deui we (jangan pada kesini, kalian tidak tahu disini ada apa, di desa ini ada apa, sudah kembali lagi saja)” kira-kira begitu yang pria lusuh itu katakan dan diapun menghilang.

Waktu berlalu, kami pun selesai refreshing dan mulai melupakan kejadian di dapur tadi dengan berjalan-jalan sekitar desa dan mengunjungi tempat wisata air mancur citamper. Skip cerita refreshing, waktu yang di nanti telah tiba, jam menunjukan pukul 18.00 sudah saatnya bagi kami untuk berekspedisi. Kami mulai memasang formasi tim ekspedisi dengan posisi adit, yoga, sisil, intan, aku, dimas di paling depan, kami mulai menelurusi lokasi yang sudah kami petakan. Ada yang aneh di desa ini. Siang sangat ramai dan malam sangat sepi sekali.

Aku pun mulai menelusuri rumah rumah warga. Aku memberanikan diri untuk berjalan ke arah lapangan badminton yang lokasinya berada di tengah rumah rumah warga, sedikit gugup untuk ku melanjutkan jalan karena aku tidak punya kelebihan. Aku memanggil adit “dit sini dit, cepet dit cepet” tapi adit seperti tidak mendengarku. Ada apa ini? pikirku, saat aku melanjutkan perjalanan ke arah gor. Aku dikejutkan oleh penampakan-penampakan seperti korban pembunuhan yang di ceritakan oleh adit semalam. Semuanya tidak sempurna. Mulai timbul dipikiranku,apa ini yang membuat warga di desa ini tidak keluar rumah di atas pukul 18.00?.

Kini aku di sesatkan dan mulai dengan petualangan yang aneh. Cerita ini sungguh membuatku bingung, aku berada di batas ruang normal manusia karena mampu melihat alam mereka yang benar-benar menyatu dengan alam kami. Ada banyak sekali makhluk di desa ini seperti sebuah pasar setan karena di dalam desa semuanya berisi makhluk yang tidak sempurna seperti layaknya manusia. Mereka berjalan dengan wajah sedih, tangan di rantai, wajah dan badan yang agak hancur seolah olah tidak melihatku, perhatianku teralihkan dengan sosok wanita cantik tapi berbadan buaya sedang mengawasi mereka.

Sepertinya dia adalah penguasanya karena dia memerintah setan-setan lainnya seperti orang yang bekerja paksa di cambuk dan di rantai. Begitu banyak darah yang kulihat, bau amis darah membuat perutku seolah-olah di aduk ingin muntah. Aku tidak tahu apa maksud ini semua, aku belum bisa menyimpulkan ada apa dengan desa ini? Kenapa tidak ada warga desa yang memberi tahu kami kalau dilarang keluar di atas jam 18.00? Apa mereka sudah tau maksud kedatangan kami? Timbul pertanyaan-pertanyaan di dalam hatiku.

Aku mencoba memejamkan mataku berharap ini mimpi. Saat aku mulai membuka mata, aku dikejutkan oleh sosok yang sangat membuatku jijik sekali badan yang besar, mata yang menyala, dan mulut yang mengeluarkan liur sangat banyak. Tubuhku tidak bisa bergerak, mataku tidak bisa menutup, mulut seperti di kunci. Aku hanya bisa berdoa sebisa ku dalam hati berharap kejadian ini cepat berlalu. Aku sangat ingat sosok itu mengingatkanku yang intinya menyuruhku dan kawan-kawanku untuk pergi jika tidak ingin terjadi sesuatu intinya begitu karena memakai bahasa sunda halus sekali.

Aku hanya bisa tertunduk lemas saat sosok itu berada di hadapanku dan tidak sadarkan diri. Saat aku terbangun aku sudah di kelilingi oleh adit, yoga, intan, sisil dan beberapa tim anak baru yang masih dalam pengawasan wajar. Menurut cerita mereka, aku, dimas, doni, gorby lama sekali tidak sadarkan diri dan mereka mengalami hal yang sama denganku tak sadarkan diri di tempat yang sama. Karena kami tak sadar sadar adit memutuskan untuk memindahkan kami ke kontrakan di bantu oleh kerja sama tim yang menggotong kami.

Aku melihat jam sudah menunjukan pukul 23.30 dan akupun mulai memaparkan cerita kepada mereka semua. Aku terkejut karena ceritaku, dimas, doni, gorby, sama hanya kami di biarkan melihat sendiri-sendiri. Masih penasaran dengan asal usul desa ini? Tunggu lanjutannya di part 3 ya. Kalo boleh jujur aku nulis sambil merinding ngerasa ada yang merhatiin, maklum aku gak bisa lihat dan aku baru berani menceritakannya atas ijin tim yang terlibat.

Buat yang ingin tahu dimana letaknya desa ini. Tunggu sampai part akhir cerita ya. Sengaja kami merahasiakannya dulu demi privasi lokasi tersebut. Terimakasih sudah membaca cerita dari kami tim komunitas horor bandung. Terimakasih KCH sudah menayangkan pengalaman tidak terlupakan di komunitas kami. Kelanjutannya di http://cerita-hantu.com/pengalaman-komunitas-part-3/

loading...

Share This: